
Perayaan di Altar Duka
Aroma bunga segar menyeruak sepanjang jalan
Bercampur aroma parfum mahal
Flash kamera berkejaran memburu titik fokus yang sama
Berharap pintu segera terbuka
Di dalam sebuah bangunan
Aroma dupa dan anggur merah berpadu mesra
Dentingan gelas kaca pun nyaring bunyinya
Di atas peti mati yang tertutup rapat
Lilin-lilin yang menyala
Menerangi tumpukan kertas kontrak
Yang memukul telak
Di altar yang telah retak
Di sanalah mereka berdansa
Beralaskan genangan air mata
Dalam gema rintihan duka
Tertawa riang, mereka terlihat bahagia
Di altar duka, para penjarah berpesta
Merayakan kematiannya yang mendatangkan laba
Sedangkan raga yang tak bernyawa
Bingung dibawa ke mana
***
Membasuh Darah, Menyelamatkan Marwah
Berlari tanpa alas kaki
Menyeret luka yang entah kapan terobati
Mengetuk pintu kayu yang gagah berdiri
Menagih janji yang tak kunjung ditepati
Di balik pintu,
Kosakata mereka lenyap
Hanya tersisa satu kata pamungkas
“Kekeluargaan”
Mantra berulang yang mereka ucapkan
Menghipnotis dan membungkam
“Kita ini keluarga”
Tapi,
Di mana kalian
Ketika kebejatan menghukumku
Habis aku dijarah
Di depan pintu rumah
Kalian mencuci tangan atas nama kekeluargaan
Membasuh darah yang berceceran
Hanya untuk menyelamatkan marwah kalian
Bodohnya aku.
Masih menghamba pada keadilan
***
Malapetaka Megah di Tanah Pinjaman
“Berbahagialah” pekikan lantang terdengar
“cungkilan surga jatuh ke tanahmu” mereka berteriak
“Itu harus kalian jaga”
Kami pun tidur di atas ranjang dari bongkahan emas yang menjadi incaran
Namun, tetesan liur kami tetap mengalir memandang etalase perhiasan.
Tanah surga yang diagungkan,
Adalah fana, hanya indah dibayangkan
Karena nyatanya, Tuhan…
Ranjang itu hanya pinjaman
Sedang tanah pun kami tak punya, bahkan untuk pemakaman
Setetes air pun kami harus menengadah dan berharap
Menunggu Engkau menyiramkan berkahnya
Menyiram jiwa yang resah
Sebab mata air kami
Sebab air mata kami
Kering kerontang, menguap hilang bercampur bau solar
Namun kami terlanjur cinta tanah ini
Kami masih percaya, hingga air mata penghabisan.
Mengais harapan berlomba dengan deru mesin baja
Mesin-mesin raksasa yang mengubur rapalan doa
Menyulapnya menjadi malapetaka yang paling megah
***
Siapa yang Bertanggung Jawab atas Tikus yang Mati itu?
Seekor tikus kaku di antara batas rumah
Tubuhnya remuk tergilas roda
Di atas tanah yang menjadi sengketa
Tak ada yang mengurusnya
Kemarin, sebuah jeruk jatuh ke halaman
pemilik rumah saling berebutan
Menggugat kepemilikan
Tanpa ampun dan tanpa kekalahan
Seolah batas harus diperjuangkan hingga pengadilan
Hari ini, tepat dibatas abu-abu
Sebangkai tikus terbujur kaku
Keduanya kompak menjadi tuli dan buta
Menutup hidung akan bau kematian yang menguar
Sertifikat tanah hanya tertawa di pojok sana
Kehilangan taji di atas bau mati
Berebut secuil harta tak mau kehilangan sejengkal batasnya
Tapi tak satupun sudi memiliki bangkainya
***
Regina Sheila, seorang perempuan biasa yang sok tahu soal dunia. Tinggal di Purwokerto. Bisa disapa lewat Instagram : @resheilaa




