
Selamat datang wahai pembaca yang budiman, semoga senantiasa diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan. Ini keluhan saya, di zaman sekarang ada beberapa fenomena yang sering terjadi di kalangan para pencari ilmu. Banyak orang belajar tapi tidak diniati dengan sepenuh hati untuk menghilangkan kejahiliahannya. Mengejar eksistensi atau hasil tanpa minat kepada prosesnya. Hingga ada asumsi yang mengatakan belajar ini itu tapi tidak ada manfaatnya. Apakah ini dampak dari beredarnya hasil instan yang terpapar di sosial media?
Dulu saya pernah belajar di TPQ, salah satu kitab yang dikaji yakni kitab Alala. Kitab tersebut berisi nadzom yang membahas etika, adab dan metode menuntut ilmu dengan terjemahan bahasa Jawa. Sesudah lulus SMP, saya belajar menimba ilmu di lingkungan pondok pesantren, ternyata kitab yang saya kaji itu ada kitab yang lebih rinci, kitabnya bernama Ta’lim al Muta’allim karya Syekh Burhanudin Al Zarnuji pembahasannya lebih dalam daripada kitab Alala yang tergolong ringkas.
Menurut kanal Youtube MJS Channel (Ngaji Filsafat), salah satu penggiatnya adalah Dr. Fahruddin Faiz, M. Ag. Bahwa, Syekh Burhanudin Al Zarnuji hidup di era ketika Abbasiyah mau runtuh. Hanya kitab Ta’lim al Muta’allim yang masyhur dan sering dikaji di kalangan pondok pesantren salaf. Tidak banyak yang tahu akan zaman kelahiran dan di mana kelahirannya yang pasti. Akan tetapi beliau diyakini sebagai mushonif (pengarang) kitab Ta’lim al Muta’allim.
Banyak penimba ilmu yang belajar sering mengejar hasil akhir, tanpa memperhatikan caranya, sudah layak apa belum. Hingga rancau walaupun mempunyai wawasan yang luas akan tetapi faqir adab. Saya bukan memandang rata semua orang yang belajar itu sama, tapi tulisan ini sebagai bentuk refleksi diri, barangkali kita sudah terlalu jauh hanya mengejar hasil tanpa sudi untuk merasakan pahitnya menimba ilmu (belajar). Semoga kita tergolong manusia yang sadar akan kebodohan serta memiliki gairah belajar yang diniatkan untuk menghilangkan kebodohannya.
Di tengah zaman yang serba cepat, khususnya zaman sekarang, cara pandang terhadap pendidikan mulai memudar dengan mudahnya. Banyak yang memandang dengan cara pragmatis bahwa pendidikan sebagai batu loncatan untuk mencari pekerjaan yang layak. Tidak sedikit pencari ilmu, terkhusus mahasiswa yang sudah dilabeli masyarakat setelah lulus nanti angannya menjadi orang yang sempurna, baik dari urusan dunia dan akhiratnya.
Banyak masyarakat memandang pelajar atau mahasiswa setelah lulus mendapatkan pekerjaan yang layak. Dalam bahasa ngapak sering menyebutkan “sekolah duwur-duwur minimal banget olih kerjaan sing penak, aja panasan dadi kuli bangunan”. Itu kata-kata yang sering saya dengarkan di lingkungan sekitar. Tentu sekarang ada degradasi dalam hakikat mencari ilmu, sampai segala cara untuk mendapatkan nilai dari guru atau dosen bisa lebih mudah dengan teknologi yang canggih yakni AI Artificial Intelligence. Kadang saya berpikiran apakah ada solusi untuk mengembalikan fitrah dalam mencari ilmu?
Di sini saya akan mencurahkan apa yang ada di dalam benak. Tidak lepas, saya akan berbagi sedikit pengetahuan dan metode sesuai dengan kriteria cendekiawan muslim. Di pembahasan ini mungkin tidak semua kalangan setuju dengan argumennya, akan tetapi dengan kita mengetahui beberapa syarat mencari ilmu ala Syekh Burhanuddin Al Zarnuji ini bisa menjadi pengetahuan yang dibutuhkan oleh pencari ilmu serta relevan di waktu sekarang.
Nadzom dalam kitab Alala menjadi alarm penting bagi para pencari ilmu untuk membersihkan niat dalam mencari ilmu. Ada beberapa syarat, yaitu:
Pertama, Cerdas (Dzukain) yaitu kemampuan untuk terus berusaha mempelajari ilmu dan mengasah, karena akal ketika sering diasah pasti akan memahaminya, sebaliknya jika diabaikan pasti akan tumpul. Para pencari ilmu diharapkan jangan mudah menyerah, harus merasakan kesulitan dalam belajar atau yang disebut dengan “sinau”.
Kedua, Semangat (Khirsin) artinya serius dibuktikan dengan ketekunan. Mencari ilmu tanpa gairah semangat, pasti kurang maksimal mendapatkannya. Ini sesuai dengan generasi sekarang, saya pribadi juga merasakan itu, terlebih di lingkungan sekitar saya untuk belajar pun merasa tidak berdaya.
Ketiga, Sabar (Wastibarin) mempunyai makna tabah dalam menghadapi segala bentuk cobaan ketika menuntut ilmu. Mencari ilmu itu sangat banyak ujian dan tantangannya, ada hadits yang berbunyi “barang siapa yang keluar menuntut ilmu, maka berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (HR. Tirmidzi). Dengan demikian gangguan syaitan selalu menghampiri, karena syaitan tersebut sangat membenci orang mencari ilmu. Sering kita merasakan melakukan kebaikan akan terasa berat dan malas, akan tetapi ketika melakukan yang minim manfaatnya justru merasa nyaman dan aman.
Keempat, Biaya (Bulghotin) di sini perlu ada biaya dalam menuntut ilmu, apalagi sekarang ketika semuanya menjadi ketergantungan dengan finansial atau keuangan. Bahkan ketika tidak mempunyai biaya, hal sekecil seperti mencari informasi maupun membaca buku di handphone (e-book), pastikanlah harus ada kuota internet. Ini mengindikasikan bahwa di era sekarang mencari ilmu pasti memerlukan biaya walaupun sepeser. Apalagi kita manusia yang membutuhkan makanan dan minuman, pasti tidak terlepas dari pengeluaran uang.
Kelima, Petunjuk Guru (Irsyadi Ustadzin) artinya orang yang menuntut ilmu harus mempunyai guru, agar jelas silsilahnya dan mengurangi salah penafsiran. Ini relevan dengan orang yang mempelajari ilmu agama, tapi juga bisa diterapkan mencari ilmu kebaikan pada umumnya. Ketika ada sanad yang jelas, kita menjelaskan ilmu kepada orang lain tidak asal bunyi atau kosong tanpa mempunyai dasar yang kuat.
Keenam, Lama (Tulizamani) mempunyai makna bahwa orang belajar perlu durasi yang lama, serta mempunyai goals yang jelas. Karena tanpa goals seringkali merasa malas-malasan. Walaupun ada orang sudah merasa cerdas itu tidak seyogyanya berhenti mencari ilmu. Karena orang yang sudah alim pasti tidak akan merasakan kenyang dalam belajar, terus merasa lapar akan keilmuannya, bahkan hingga ajal menjemputnya.
Tulisan ini sangat jauh dari kata sempurna dan tersistematis, yang berangkat dari keluhan saya pribadi. Dengan mengutip dari kitab Alala yang dibilang ringkas, sebagai landasan. Akan tetapi ketika kita bisa memahami ilmu yang kita pelajari, semoga bukan sekadar mendapatkan pengalaman belajar saja, melainkan semangat dalam pengamalan dan dikaruniai kebermanfaatan.
Barangkali beberapa syarat tersebut masih kurang relevan di situasi sekarang. Maka, ambillah yang menurut pembaca sangat dibutuhkan. Cukup sampai di sini, keluhan saya semoga menjadi motivasi pada diri sendiri, terlebih bisa menguatkan disiplin belajar kepada orang lain juga. Angannya bisa menggugah semangat belajar, kegigihan dalam melawan kemalasan, dan mampu melewati cobaan yang terus menghampiri. Mari, terus menjaga semangat belajar, di manapun dan kapanpun selagi mempunyai waktu yang sekiranya bisa di isi dengan perbuatan baik.
Barangkali kita sudah terlalu jauh hanya mengejar hasil tanpa sudi untuk merasakan pahitnya menimba ilmu (belajar).
Alvidin lahir di Punggelan, Kabupaten Banjarnegara. Ia merupakan mahasiswa aktif Program Studi Manajemen Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purbalingga. Saat ini Alvidin mengemban amanah sebagai Ketua HMPS Manajemen Dakwah. Selain itu, ia juga merupakan kader PMII Rayon Dakwah, serta pernah aktif dalam Komunitas Safari Religi dan Ikatan Mahasiswa Banjarnegara. Bisa disapa lewat IG @vid1n_




