Sisa Senja di Saku Kiri

Kutuliskan cerita ini di tepi pantai di mana senja tidak pernah memudar. Atau setidaknya, akulah yang berharap demikian. Karena senja ini begitu indah. Langit megah dengan piringan jingganya yang menyala bersama barisan mega keunguan yang semburat dan bergetar. Di sinilah aku telah duduk berhari-hari, memandangi senja. Lengkap dengan debur yang seakan membantingkan pesan-pesan semesta, dan gulungan ombak yang meraba-raba kakiku—yang seolah-olah mengajakku berlarian di lautan. Angin pun seakan membisikkan namaku, atau mungkin ia hanya membawa suara dari seseorang nun jauh di sana. 

Kata orang-orang di kota, senja itu berubah dengan pasti. Waktu akan mengubah segala keindahan itu menjadi kehitaman yang membentang. Hitam, kelam, sunyi. Tapi, aku sudah duduk di sini berhari-hari. Jadi, senja ini tidak akan pernah memudar bukan? Iya, sudah berhari-hari aku duduk di sini. Semua orang yang kemarin menikmati senja di sekitarku, sudah pergi meninggalkan jejak yang perlahan dihapus ombak. Sesaat setelah mereka pergi, aku tak lagi punya perhatian yang tersisa, selain apa yang sejak awal aku penjarakan agar ia tidak keluar bersama malam. 

Suara itu. Yang terus saja memanggilku. Yang datang entah dari arah mana, tapi seakan begitu tahu harus tiba di telinga yang mana. Yang tidak terlalu jelas, hanya berbisik, tapi aku seolah begitu mengenali cara suara itu menyebut namaku. 

Kugelengkan kepalaku keras-keras, kutepuk-tepuk telingaku, lalu kupandang kembali laut senja. Suara itu menghilang. Terdengar kembali debur yang menghantam karang, kicau burung-burung beterbangan, dan gemerisik nyiur yang berdiri tak kenal lelah. 

Jauh di sana, terlihat seekor paus muncul di permukaan air. Ia mengambil napas, atau mungkin—ingin melihat senja. Beberapa saat kuperhatikan, pandangannya terpaku ke senja. Ia diam. Terlalu diam untuk sesuatu yang hidup di laut yang tak pernah tenang. Kemudian, ia berbalik melihatku. Pandangan itu bertahan lebih lama dari semestinya. Tidak mengancam, tapi juga tidak bisa kusebut biasa. Seolah seperti sesuatu yang ingin kukenali, atau mengingatkanku pada sesuatu yang kulupakan. Lalu ia tersenyum. 

Sial! Bibirnya bergerak pelan. Dan dari jarak sejauh itu, aku tetap bisa mendengarnya. Bisikan yang sama. Nada yang sama. Cara yang sama sebagaimana angin menyebut namaku. Kupejamkan mata dan kututup telingaku seketika. Setelah aku rasa cukup, aku intip kembali arah itu. Paus itu menghilang. 

Aku kesal. Tidak, bukan sekedar kesal. Seakan ada yang berusaha mengorek sesuatu yang sengaja kukubur dalam-dalam dan tidak mau berhenti. Aku marah. Kenapa harus sekarang?  Aku bangkit. Pasir berjatuhan dari celanaku. Aku menatap laut itu.

“Hei!” Aku berteriak sekeras-kerasnya. 

“Siapapun kau, keluarlah! Kau ingin mengatakan sesuatu? Katakanlah di depan wajahku!”

Tidak ada jawaban. Hanya ada laut yang mengabaikanku. Ombaknya tetap datang dan pergi, seolah-olah semua ini tak lebih dari percakapan yang hanya terjadi di dalam kepalaku.

Aku menunggu. Beberapa detik. Atau mungkin lebih lama dari itu. Sulit sekali membedakan waktu. Lalu angin kembali lewat. Kali ini, tidak membawa bisikan apapun. Justru itu yang membuat dadaku terasa lebih sesak. Karena untuk pertama kalinya, aku sadar, yang selama ini menggangguku bukan karena suara itu selalu datang, tapi karena aku tahu ia bisa datang dan pergi kapan saja dan lewat mana saja.

Aku menatap laut itu lebih lama. Tidak ada paus. Tidak ada bisikan. Tidak ada apa-apa.

Dan justru di situlah sesuatu mulai bergerak. Bukan dari luar. Tapi dari dalam.

Seperti ada bagian dari diriku sendiri yang perlahan berdiri, mendekat, dan mengambil tempat yang sejak tadi berusaha kujaga tetap kosong. Aku menghela napas panjang. 

“Kalau memang kau harus datang…” suaraku lebih pelan sekarang, nyaris seperti berbicara pada sesuatu yang tidak ingin kutakuti lagi, 

“…datang saja.”

Tetap tidak ada jawaban. Tapi, diam-diam aku berjanji. Setelah ini, jika suara itu kembali, aku tidak akan menutup telingaku.

… 

Senja masih menyala. Tapi warna senja itu tidak lagi jatuh utuh di sekitarku. Seperti hanya tersisa di langit, tapi tidak di dunia. 

Aku berdiri lebih lama dari waktu yang sanggup kuhitung. Dan laut masih tetap bergerak seperti biasa. Aku merasakan angin yang menyentuh kulitku tidak lagi sama. Ada dingin yang datang tanpa permisi, dan aku tidak ingat sejak kapan. Senja menggantung, seolah sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung terjadi.

Lalu, ia datang. Bukan dari arah laut, bukan dari langit. Bahkan bukan dari arah manapun yang bisa kutunjuk.

“Cukup.” Satu kata. Pelan. Dekat. Bahkan terlalu dekat.

Tubuhku menegang.

“Aku tidak pernah pergi.”

Aku menelan ludah. 

Tenggorokanku kering, seperti baru saja menelan pasir.

“Kaulah yang terus-terusan menutup telinga.”

Aku ingin menjawab. Ingin menyangkal. Tapi semua kata itu terhenti di dadaku. Suara itu tidak memberi ruang.

“Kau duduk di sini, menahan waktu, seolah-olah itu bisa mengubah apa yang sudah selesai.”

Dadaku terasa semakin sesak.

“Yang kau tunggu bukan senja.”

Hening. 

“Kau hanya menunggu sesuatu yang tidak akan kembali.”

Aku goyah. 

Lututku seperti kehilangan alasan untuk berdiri.

“Dan selama itu, kau menyebutnya keindahan.”

Aku jatuh. 

Pasir terasa dingin di punggungku. Dingin yang tidak datang tiba-tiba. Hanya saja, aku baru menyadarinya sekarang. Langit masih menyalakan jingga, tapi entah kenapa terasa jauh, seperti sesuatu yang sebenarnya sudah lewat, hanya mataku yang belum mau mengakuinya.

“Tidak ada yang ikut senja.”

Suara itu kini lebih pelan. Bukan menyerang. Bukan juga membujuk.

“Hanya kau yang memilih untuk tinggal.”

Aku memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menutup telingaku. Dan suara itu tidak lagi perlu berkata apa-apa. Aku terbaring lama. Entah berapa waktu yang lewat. Senja yang tadi kupertahankan keemasannya itu kemudian larut dengan pasti menjadi gelap yang tak lagi bisa kutolak.

Angin berubah dingin. Pasir yang tadi hangat, kini terasa lembab. Hujan turun tanpa permisi, rintik demi rintik, menimpa wajahku yang tak lagi ingin kuhindari. Air asin dan air hujan bercampur di pelipisku. Aku tidak tahu mana yang jatuh lebih dulu. Laut masih bersuara. Tapi kali ini, tidak ada yang ingin kusalahkan darinya. Aku hanya terbaring. Diam. Kosong. Dan entah kenapa—lebih jujur dari sebelumnya.

Aku hanya terdiam, sampai langkah itu datang pelan. Hampir tak terdengar di antara hujan dan angin. Aku membuka mataku sedikit. Nyala senja semakin jauh menggantung. Seperti tidak pernah benar-benar ada untukku. Pandanganku kabur oleh air, tapi sosok itu tetap terlihat—berdiri di batas antara gelap dan sisa cahaya yang belum sepenuhnya sirna. 

Aku melihat seorang wanita. Gaun putihnya jatuh ringan mengikuti tubuhnya, basah oleh hujan yang tak ia hindari. Rambutnya terurai, sedikit bergelombang, menempel di pipinya yang pucat namun tenang. Ia berjalan perlahan, tanpa tergesa, seolah setiap langkahnya sudah tahu ke mana harus tiba.

Setibanya di sampingku, ia tidak langsung duduk. Hanya berdiri beberapa detik di sampingku, seolah memastikan bahwa aku benar-benar ada di sana, bukan sekadar bayangan yang dibentuk hujan. Gaunnya yang putih kini makin berat, menempel di tubuhnya, garis-garisnya mengikuti lekuk yang sederhana, tanpa usaha untuk menjadi indah—dan justru karena itu, ia terasa jujur. Air menetes dari ujung rambutnya. Satu persatu. Jatuh ke pasir, lalu hilang tanpa suara. Aku tidak tahu harus melihat ke mana. Wajahnya terlalu dekat untuk diabaikan, tapi terlalu tenang untuk kutatap lama-lama. Ada sesuatu di matanya. Bukan cahaya, bukan juga gelap. Lebih seperti permukaan air yang tidak menolak apa pun yang jatuh ke dalamnya.

Ia berlutut perlahan. Pasir sedikit amblas di bawah lututnya, menyisakan cekungan kecil yang segera dipenuhi air hujan. Tangannya terulur, tidak tergesa. Ujung jarinya sempat berhenti beberapa senti dari lenganku, seperti memberi kesempatan terakhir untuk menolak.

Aku tidak bergerak. Sentuhannya dingin. Atau mungkin lenganku  yang sudah terlalu lama kehilangan rasa.

“Dingin” ucapnya. Entah tentang hujan, atau aku. 

“Bangun” katanya pelan.

Bukan perintah. Lebih seperti sesuatu yang sudah diputuskan, jauh sebelum ia mengucapkannya. Aku mencoba menopang tubuhku. Lengan ini terasa berat, seperti bukan milikku sendiri. Ia tidak menarik. Hanya menunggu. Tapi justru karena itu, aku merasa harus bergerak. Ketika akhirnya aku duduk, jarak kami menjadi begitu dekat hingga aku bisa mencium bau hujan yang menempel di tubuhnya. Bukan wangi, bukan juga amis. Hanya bau yang jujur, seperti tanah yang baru saja menerima sesuatu dari langit.

Sebelum aku sempat menyusun ulang diriku sendiri, ia sudah lebih dulu menarikku. Dan tanpa banyak gerak yang bisa kuingat jelas, jarak itu hilang begitu saja. Pelukannya tidak erat. Tapi cukup untuk membuatku berhenti menahan apapun. Dadaku menabrak tubuhnya. Wajahku jatuh ke bahunya. Rambutnya yang basah menyentuh pipiku. Bau laut, hujan, dan sesuatu yang samar—yang entah kenapa terasa akrab—bercampur di sana. Tanganku yang sempat menggantung, perlahan menemukan tempat di punggungnya yang basah. Kain gaunnya dingin di telapak tanganku, tapi di balik itu ada hangat yang tidak tergesa. Hangat yang tidak datang untuk menggantikan apa pun. 

Ia tidak bicara. Tangannya hanya bergerak pelan di punggungku. Naik, turun. Seperti seseorang yang tidak sedang mencoba menenangkan, tapi hanya memastikan aku tidak sendirian di dalam apa pun yang sedang terjadi. Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai menangis. Atau mungkin aku sudah menangis sejak tadi, hanya saja baru sekarang tidak kutahan.

Hujan masih turun. Tapi tidak lagi terasa menusuk. Lebih seperti sesuatu yang ikut hadir, tanpa perlu diminta. Aku menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak entah kapan, napas itu tidak terasa sempit. Ia sedikit menjauh. Tidak sepenuhnya melepaskan. Hanya cukup untuk melihat wajahku.

“Sudah?”  tanyanya pelan.

Pertanyaan yang aneh. Karena tidak jelas apa yang dimaksud selesai. Aku tidak menjawab.

Ia tersenyum tipis. Bukan karena aku menjawab, tapi seperti tidak butuh jawaban itu. Tangannya masih menggenggam lenganku. Jari-jarinya dingin, kaku, tapi tidak ragu. Kami duduk berdampingan di bawah hujan. Laut tetap bersuara. Ombak datang dan pergi seperti biasa, seolah tidak peduli pada apa pun yang barusan runtuh dan tersusun kembali di dalam diriku.

Ia mengikuti arah pandangku ke laut. Tidak bertanya. Tidak menebak. Hanya ikut melihat.

Beberapa saat kami diam. Tanganku bergerak sedikit. Menyentuh pasir di sampingku. Dingin. Basah. Nyata.

Ia masih di sini. Bukan bayangan. Bukan suara. Bukan sesuatu yang harus kutebak maknanya. Aku menoleh sedikit ke arahnya. Ia masih melihat laut. Tenang. Seolah tidak ada yang perlu dikejar. Aku hampir mengatakan sesuatu. Tentang senja. Tentang suara. Tentang semua yang barusan terjadi. Tapi kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Bukan hilang. Hanya… tidak jadi keluar.

Tanganku perlahan mencari tangannya. Menemukannya. Menggenggamnya. Ia membalas. Tanpa melihat. Sesaat aku menemukan ia tersenyum sedikit. Tipis. Hampir tidak jadi. 

… 

Angin datang dari arah laut, lebih dingin dari sebelumnya. Kali ini tidak membawa apa-apa. Tidak ada suara. Tidak ada bisikan. Hanya lewat, menyentuh, lalu pergi. Aneh. Untuk pertama kalinya, aku tidak resah mencari suara itu. 

Tanganku yang lain, tanpa banyak pikir, bergerak sendiri. Menyentuh lengan gaunnya yang basah. Kain itu dingin, tapi ada berat yang menenangkan di sana—seperti sesuatu yang benar-benar hadir, tidak menguap ketika disentuh. Ia tidak menarik diri. Hanya diam.

Hujan mulai mereda. Tidak berhenti, tapi berubah. Lebih halus, lebih rapat, seperti tirai kelabu tipis yang menggantung di antara laut dan langit. Di kejauhan, garis cakrawala mengabur, seolah dunia sedang menghapus batasnya sendiri.

Kami tidak bicara. Aku tidak tahu berapa lama kami duduk seperti itu. Waktu tidak terasa berhenti, tapi juga tidak berjalan seperti biasanya. Hanya… lewat. Lalu ia berdiri. Gerakannya ringan, seolah tubuhnya tidak pernah benar-benar terbebani oleh basah yang sejak tadi melekat. Ia melangkah satu langkah ke depan, lalu berhenti tanpa menoleh.

Aku hampir memanggil. Hampir. Tapi suara itu tidak keluar.

Tanganku masih setengah terangkat, menggantung di udara yang mulai dingin. Ada dorongan kecil untuk mengejar. Tapi juga ada sesuatu yang menahannya—bukan takut, bukan ragu—lebih seperti sadar bahwa tidak semua yang datang harus ditahan.

Ia melangkah lagi. Pelan. Masuk ke arah gelap yang kini sudah sepenuhnya mengambil alih langit. Putih gaunnya semakin redup. Lalu samar. Lalu… tidak lagi bisa kupastikan apakah ia masih di sana atau sudah menjadi bagian dari hujan yang tersisa.

Aku tetap duduk. Laut masih bersuara. Tapi tidak lagi seperti sebelumnya. Tanganku perlahan turun. Menyentuh pasir yang kini dingin dan basah. Jejak lututnya masih ada di sana. Belum sepenuhnya hilang. Aku mengusapnya sedikit. Angin lewat lagi. Kali ini, tetap tanpa membawa apa-apa. Dan untuk pertama kalinya, itu tidak terasa seperti kehilangan.

Kalian tahu?
Selain di Negeri Senja, tidak ada senja yang tak pernah berakhir.
Di Negeri Senja pun, aku tak tahu,
apakah ia benar-benar tak pernah berakhir,
atau hanya belum mencapai akhir.

Aku masih punya satu senja tersisa.
Entah untuk diabadikan,
atau sekedar ditinggalkan.
Ia kusimpan di saku kiri bajuku.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top