
Ayam Bangkok Jagoan
Perkelahian ayam Bangkok di halaman,
Isyarat buta pada pagar dan ilalang,
Jalu dan jengger penghianat teman,
Pada mata dan ujar yang berulang.
Juga pada anak-anak nakal di pagar,
Pada tahun pertama di perantauan,
Serta merta canda menghantam tegar,
Sama bersama riang kemenangan,
Dan sama bersama runyam kekalahan.
Si tukang sabung ayam dan,
Penolakannya pada lintingan cerutu,
Si tukang sabung ayam dan,
Hinaan untuk lemak gurih babi yang tabu,
Si tukang sabung ayam dan,
Bicara halal haram sholat di rumah.
Kepada uang di atas krusu ayam,
Untuk anak istri di rumah dengan penantian,
Yang,
Dilihat seperti kepastian sedekat bibir dan gusi,
Yang bisa dicegah dengan kawat gigi.
Atau suntikan kemenangan ayam Bangkok jagoan.
***
Kasur Uang Kasur
Perempuan tanpa dalaman yang berjalan,
Di antara hijab dan sopan yang wajar.
Lolongan sendiri yang memalukan,
Untuk tamu dan laki-laki berkeringat uang.
Malam mengakar udara,
Juga gelap bulan sebab awan.
Petuah muda untuk sempat dirasa,
Ada kata juga banyak mendakwa.
Seperti “Kasur untuk uang”,
Untuk melahirkan yang murahan.
Seperti “Uang untuk kasur”,
Untuk melahirkan hidung belang.
Bisa satu waktu yang benar,
Bagi perempuan pecinta uang,
Hidup tak memberi banyak pilihan.
Demikian kah pada laki-laki,
Yang memilih mau atau pergi.
***
Yang Mengutuk Wudhuku
Dari dupa dan tapa,
Aku beranjak ke rumah-Nya.
Menanggalkan busana pertama menjadi mukena.
Siapa yang ku buang,
Atau siapa yang ku timang-timang.
Antara merah yang tak berubah dan,
Ayat yang terus bertambah.
Yang menunggu antrean panjang,
Sebelum barisannya bercabang.
Yang tidak pernah terdidik solehah,
Beradu pantang menyerah.
Tantangan melahirkan aku yang dipandang sebelah,
Membenci ibadah,
Meragu pilihan yang harusnya sah.
Memoar menulis dirinya sendiri dengan bahan bakar amarah.
Untuk mata dan jiwa neraka,
Yang gelagatnya bak ahli surga.
Yang mengutuk wudhu,
Dengan membasuh kaki lebih dulu.
Yang mengutuk jumlah kumur dan usap sambil membentuk regu.
Yang menebak siapa aku dan,
Menilai kepantasan sujud dari wudhu.
Yang mengutuk seluruh gerak tubuh,
Mengutuk pencari Tuhan di umur yang tak matang.
***
O-O
Sebelum abu mengalah pada hitam,
Cangkir yang terang bersandar.
Badai dan kilat menegur padam.
Hitam dan pahit dalam kesenangan,
Dalam tegukan yang berbekas asam.
Merecoki tatanan yang telah mapan,
Jadi abadi semalaman.
Ketika orang Amerika terlihat,
Tubuhnya menggeliat memohon narkoba,
Pada malam yang semakin buta,
Juga aku menggeliat sama seperti mereka.
***
Juli Moekadji
Cimiring pernah melimpah abu mayit,
Arang dari tulang orang,
Abang dari tubuh yang matang.
Hujan ikut campur urusan perang,
Air menggosok tanah lebih kencang,
Abu dan darah mengalir ke lubang-lubang,
Orang bilang,
Pilih mengalah atau tidak pulang.
Yang bisa dibayangkan,
Nusakambangan dan benteng pertahanan,
Armada berpegang senjata perang,
Sekutu gagah di atas meriam,
Bagi pasukan perjuangan,
Jangankan perbincangan,
Bahkan napasnya tak ada yang terguncang.
Tapi perlahan mata mereka terbelalak,
Satu waktu yang cepat mengubah tegak jadi tergeletak,
Kengerian dan kepedihan yang begitu berarti mendesak,
Harus ke mana kami bergerak,
Bagaimana cara selamatkan anak-anak.
Waktu yang begitu cepat untuk membalikkan tekad,
Kiri kanan tidak ada lagi yang menjawab.
Tanpa mengurangi hormat dan cinta,
Mari katakan,
Bahwa mereka adalah yang paling penuh ketakutan.
Takut kehilangan rumah,
Takut anak-anaknya terjajah,
Takut tanahnya sembarang diolah,
Takut tak lagi hidup di masa yang indah.
Parahiyangan taun ’46 membayangi seluruh nyawa,
Saat pembumi hangusan jadi satu-satunya pilihan,
Berbeda dengan cerita heroik yang sering kaudengar,
Itu lebih dari sekadar membakar,
Tapi juga pergi tanpa arah dan tujuan.
Kala kami terbakar sekarang,
Toha si peledak amunisi sepertinya gentayangan,
Ia bilang pada Moekadji dan sejawatnya,
Operasi bumi hangus boleh dipertimbangkan.
Tjilacap taun ’47 mengambil masa kelam,
Moekadji menunjuk bangunan-bangunan besar,
Sontak semua meledak dan hangus terbakar.
Pelabuhan yang sekutu incar,
Bangunan berguna dalam daftar,
Sekarang tidak lebih dari abu bakar.
Pagi di bulan Juli,
Moekadji sebelum ada puisi hujan bulan Juni,
Adalah Moekadji sesudah Bandung Lautan Api.
***
Sheren adalah mahasiswa Sastra Indonesia di Jawa Tengah. Tergabung dalam komunitas literasi dan bekerja paruh waktu sebagai pewara. Sehari-hari aktif menulis puisi dan cerpen. Karya-karyanya kerap lahir dari refleksi pribadi dan pengalaman masa kecilnya. Beberapa karyanya pernah meraih penghargaan dalam lomba kepenulisan tingkat provinsi. Bisa disapa di Instagram @s__sheren.




