
Nomer 4 pasti bikin kalian makin yakin. Hehe
Pembahasan Nikah di zaman sekarang itu gak ada habisnya. Ada yang mendukung, ada yang menentang, ada yang pengin, bahkan ada yang enggak. Begitulah kiranya opini teman-teman saya, para Gen Z beriman yang baik dan dermawan.
Ada juga yang bilang, nikah di era sekarang itu udah kurang worth it. Padahal iyaa.. Bisa iya bisa engga. Tergantung dari kacamata siapa kita memandang. Tapi, emang bener sih, kalau udah bahas yang namanya pernikahan, sering banget muncul pertanyaan dan pernyataan dari temen-temen kayak, “Emang nikah masih worth it yah?”, “Buat apa nikah?”, “Nikah itu udah ngga zaman”, “Nikah itu cuman ngabisin duit.” Hemm… Emang iya yah? Nikah udah ngga zaman? Hehe, bentar dulu deh. Meskipun, cukup banyak Gen Z saat ini yang memilih untuk menunda pernikahan demi stabilitas finansial dan karir. Tapi sebenernya nikah itu, tetap worth it loh buat kita para Gen Z. Tentunya dengan persiapan dan kesadaran yang matang ketika melakukannya ya.
Nah di sini, aku bakalan kasih tahu, 5 alasan kenapa nikah itu masih worth it buat kita para Gen Z. Generasi yang begitu luar biasa perjuangan hidupnya. Tentunya dari saya selaku Gen Z juga, yang akan mewakili perasaan mereka semua. Nomer 4 bakalan bikin kalian bilang, “Eh, iya juga yah.”
Pertama, Gen Z butuh dukungan emosional dan kesehatan mental
Kenapa ini jadi hal pertama yang saya sampaikan? Karena tidak bisa dipungkiri bahwa kita sebagai Gen Z, itu tumbuh di era informasi yang luar biasa cepat, kompetisi karir yang begitu ketat, dan tekanan medsos yang luar biasa hebat. Bahkan terkadang sampai membuat kita merasa burnout, karena terlalu banyak informasi masuk yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Hal ini sangat mudah memicu rasa kesepian, kecemasan, dan perasaan yang kurang nyaman terhadap sesuatu yang sebenarnya belum tentu penting juga buat keberlangsungan hidup kita.
Nah, di sini pernikahan itu berperan. Gen Z kan begitu mendewakan kesehatan mental yah. Nah, dengan kita menikah diharapkan kita para Gen Z memiliki safe space atau ruang aman bersama pasangan. Keamanan dan ketenangan bersama pasangan tentunya sangat kita dambakan. Karena hal itu sangatlah berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup kita. Dengan memiliki pasangan tetap, artinya akan selalu ada seseorang yang berada di samping kita, untuk menemani tiap langkah perjuangan menghadapi kejamnya kehidupan. Sekaligus menjadi rumah dan ruang aman setelah selesai bertarung melawan kerasnya dunia. Bukan hanya itu, pasangan kita nantinya, juga bisa menjadi “rekan tim” yang siap mendukung kita kapanpun. Nah, ini kan yang kalian para Gen Z butuhkan?
Karena bagi kita Gen Z, mental health itu selalu menjadi prioritas utama. Dan pernikahan yang sehat akan senantiasa memberikan kita semangat dan dukungan, agar kesehatan mental itu senantiasa terjaga. Yang mana hal ini tentu erat kaitannya bagi kita para Gen Z. Bahkan terkadang, kita lebih memilih berada di posisi yang sama, daripada harus naik jabatan, tapi kestabilan mental kita terganggu. Karena bagi Gen Z, kesehatan mental itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan uang. Dan dengan menikahlah, hal itu akan kita dapatkan.
Tapi gimana kalau ketemu pasangan yang salah? Bukannya tambah rusak yah mental kita? Iya bener. Maka dari itu, antisipasilah dengan memastikan siapa yang akan kita pilih sebagai pasangan. Karena, memilih pasangan yang sehat dan tepat juga berperan dalam hal ini. Jadi jangan asal pilih ya.. Ingat, tujuan kita nikah sekali sampai surga dengan mental health yang terjaga.
Kedua, stabilitas finansial melalui kerjasama akan terjaga
Terus terang saja, nikah itu merupakan sebuah acara yang mengharuskan kita mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Meskipun nikahnya di KUA. Tetap saja, ada yang harus kita anggarkan untuk acara setelahnya. Dan hal ini tentunya menjadi keresahan tersendiri bagi kita para Gen Z. Yang sering kali, gaji yang belum turun saja, sudah terhitung habis di kepala. Hahaha. Tapi hal tersebut bukanlah hal yang harus kita takuti. Mari kita persiapkan, dengan segala usaha yang ada.
Meskipun digempur oleh fakta yang sedemikian rupa, kita tidak boleh mengesampingkan fakta, bahwa setelah menikah kita tidaklah sendiri. Karena, pernikahan tentunya akan senantiasa menjadikan kita sebagai satu kesatuan manusia. Yang mau tak mau, harus mau menikmati pahit manisnya hidup untuk dijalani bersama.
Dalam konteks ini, meskipun setelah menikah biaya hidup dapat dipastikan meningkat. Pernikahan tetap memungkinkan pasangan untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat bersama. Strategi penggabungan pendapatan melalui kerjasama, entah itu dialokasikan ke aset investasi, membuka usaha, ataupun menabung. Tentunya akan sangat menunjang stabilitas finansial. Hal ini akan terasa sangat realistis dan relevan untuk kita para Gen Z, dibanding menanggung semuanya sendiri.
Sinergi finansial antara dua orang dan dua pemasukan yang disatukan, tentunya akan menghasilkan kekuatan finansial yang kokoh dibandingkan dengan yang masih sendiri. Karena secara matematis, menabung untuk DP rumah atau investasi masa depan akan jauh lebih cepat dan ringan jika dilakukan berdua.
Memang betul, di zaman sekarang banyak Gen Z yang merasa sulit memiliki aset karena kenaikan harga properti dan inflasi. Tapi tanpa menikah bukannya itu akan terasa lebih berat yah? Nah, justru dengan menikahlah, kesulitan finansial tersebut akan menjadi mungkin untuk kita atasi. Karena pernikahan merupakan bentuk kemitraan strategis yang bisa kita gunakan untuk mencapai kebebasan finansial. Terlebih setelah menikah kita tidak menanggung ekonomi sendiri. Melainkan bahu-membahu bersama mebangun rumah tangga yang sejahtera, bersama suami ataupun istri. So, temukan atau jadilah pasangan yang paham atau minimal mau untuk belajar ilmu ekonomi demi memperbaiki kualitas finansial kalian yaa. Good luck.
Ketiga, hubungan terasa lebih otentik dan bermakna
Ini mungkin menjadi hal yang kita para kaum lajang nantikan: hubungan. Tentunya hubungan otentik ini berbeda dengan sekadar teman ya. Karena, hubungan yang terbangun dalam sebuah pernikahan itu sangatlah erat dengan kedalaman emosi dan perasaan yang bermakna. Selain itu, hubungan yang terjalin antara dua insan yang sudah dipersatukan dalam pernikahan ini lebih mengedepankan komitmen jangka panjang yang otentik dan tidak bisa ditiru oleh pasangan manapun. Karena tiap pasutri punya relasi dan hubungan dengan pasangan yang berbeda-beda. Semakin intim dan dalam kedekatan emosinya, maka semakin otentik pula hubungan yang tercipta.
Inilah kenapa, menikah itu begitu worth it untuk dilakukan. Karena setelah menikah, fokus kita perlahan akan bergeser dari yang awalnya sekadar status dekat menjadi relasi yang berkualitas, inklusif, dan suportif. Hal ini masih sangat relevan untuk kita lakukan, apalagi di tengah era aplikasi kencan yang seringkali dangkal dan penuh ketidakpastian (ghosting), pernikahan menjadi terobosan yang menawarkan sebuah komitmen yang jelas, terarah, dan lebih mendalam. Dengan tujuan untuk senantiasa tumbuh bersama. Hal ini tentu saja erat kaitannya bagi para Gen Z, yang selalu haus untuk bertumbuh. Daripada membuang energi untuk menebak-nebak status hubungan, mending dialokasikan buat nikah kan? Nahh.. Itu..
Pemaknaan hubungan setelah menikah perlahan akan beralih. Dari yang awalnya hanya fokus memindahkan energi dari “mencari yang sempurna dan kelebihannya” menjadi “membangun sesuatu dan tumbuh bersama”. Kita ini Gen Z, generasi yang ingin tampil beda dan otentik bukan? Nah, nikah ini bisa jadi solusi, untuk menjadi otentik. Bukan pada nikahnya yang otentik, tapi relasi kita dengan pasanganlah yang otentik dan tidak bisa ditiru. Di mana komitmen pernikahan adalah cara untuk mencapai level kedekatan emosional yang tidak bisa kita dapatkan dari relasi pertemanan biasa. Jadi… Yuk bisa yuk nikah..
Keempat, fleksibilitas dalam mendefinisikan pernikahan
Gen Z dikenal dengan generasi yang berani mendobrak stigma masyarakat. Bukan merusak yah, tapi lebih ke menata atau melaksanakan dengan sewajarnya saja namun tetap elegan. Tidak takut dengan komentar. Dan sangat kritis dengan hal-hal yang tidak relevan. Begitupun ketika mendefinisikan pernikahan. Gen Z tidak lagi terikat pada tradisi yang kaku, pesta mewah, dan apa kata orang. “Nikah ya nikah. Ngga perlu mewah yang penting sah. Sorenya bisa ngopi.” Haha. Begitulah kiranya yang terbesit di benak saya sebagai perwakilan Gen Z.
Kita bebas menciptakan konsep pernikahan yang lebih santai dan hemat, seperti tren menikah di KUA atau konsep intimate wedding yang diidam-idamkan semua kalangan generasi sandwich seperti saya. Sehingga harapannya, anggaran bisa dialokasikan untuk masa depan yang lebih penting. Karena pernikahan bagi Gen Z tidak lagi harus mewah, mahal, atau penuh drama keluarga yang ingin ini itu. Tapi lebih ke arah budget minimalis, tidak buru-buru untuk punya anak jika belum siap (childfree/delayed parenting), dan tetap mengejar karir masing-masing.
Fleksibilitas inilah yang menjadikan pernikahan begitu “worth it”. Karena kita bisa mengatur dengan “aturan main” sendiri, sesuai kemampuan dan kesepakatan bersama pasangan, tanpa memedulikan standar orang lain yang tidak karuan, untuk melangsungkan pernikahan. Nahh.. kurang enak apa coba?
Kelima, legalitas dan perlindungan moral
Yang terakhir ini mungkin agak sedikit kurang santai yah. Saya pun ketika menulis ini, tentunya merasa kurang nyaman karena terlalu formal. Tapi terus terang saja, pernikahan ini memang begitu erat kaitannya untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan moral sesuai nilai agama dan negara. Hal ini sebenarnya juga berkaitan dengan pengurusan dokumen nantinya. Serta perasaan aman dalam menjalani hubungan yang sah. Dan dalam benak Gen Z yang kritis, legalitas merupakan salah satu bentuk jaminan keamanan agar hak-hak sebagai pasangan diakui sepenuhnya oleh negara. Itu sih, yang begitu krusial.
Yap, begitulah kiranya yang dapat saya sampaikan, kaitannya dengan kenapa nikah itu masih worth it buat kita para Gen Z. Silahkan berpendapat apapun itu, karena pernikahan itu sangat hangat untuk dibahas. Apalagi bagi kita yang belum menikah. Hehe.
Ilham Alamsyah merupakan seorang penulis dan pembaca antusias kelahiran Kebumen yang kini berdomisili di Semanding, Gombong. Di sela kegemarannya berolahraga, ia mendedikasikan dirinya sebagai Penghulu Ahli Pertama. Sapa saja melalui Instagram @Ilalamsyah.




