Ngapak: Bahasa yang Lebih Cepat Ditertawakan daripada Didengarkan

Kalau dipikir-pikir, tidak semua hal di dunia ini punya nasib yang adil. Ada yang untuk menjadi lucu harus berusaha menggunakan atribut badut, menyiapkan punchline, serta tetek bengek lainnya, tapi  ada juga yang tidak berusaha apa-apa tapi malah dianggap lucu. Di antara sekian banyak itu, penutur logat ngapak mungkin salah satu yang paling sering jadi korban. Soal ini, saya tahu persis rasanya karena saya mengalaminya sendiri.

Sebagai anak rantau dari Banyumas, saya sudah cukup kenyang pengalaman ditertawakan hanya karena cara bicara. Waktu awal merantau, saya bahkan sempat melatih diri setiap mandi untuk mengurangi logat ngapak saya. Saya membiasakan mengucapkan kata “bapak” tanpa huruf “k” di belakangnya, merapikan cara bicara supaya terdengar lebih netral, atau setidaknya tidak mengundang tawa. Hal tersebut membuat saya jadi sangat berhati-hati dalam berucap untuk semua kata yang berakhir bukan huruf konsonan, jika tidak maka saya akan “metu ngapake” dan tentu teman akan menertawakan. 

Tapi semakin saya melakukannya, semakin saya merasa seperti memakai pakaian yang bukan milik saya. Secara bentuk mungkin terlihat pas, tapi rasanya tidak pernah benar-benar nyaman—seperti ada sekat antara kain dan kulit. Di situlah saya sadar, yang saya lakukan itu bukan adaptasi, tapi penyamaran. Saya seperti meninggalkan sebagian diri saya hanya supaya terdengar lebih “diterima”.

Masalahnya, di luar sana, ngapak sering diperlakukan bukan sebagai bahasa, tapi sebagai efek suara. Begitu seseorang berbicara dengan logat ngapak, yang muncul lebih dulu bukan pemahaman, tapi tawa. Seolah-olah logat itu sendiri sudah cukup untuk menjadi punchline.Dan saya harus jujur, saya sendiri pernah ikut melakukan itu. Di kondisi ketika saya bukan sebagai penutur, saya pernah tertawa ketika melihat komika atau pemengaruh berbicara dengan logat ngapak. Rasanya otomatis lucu, tanpa perlu alasan yang jelas. Di situ saya mulai mbatin, sebenarnya masalahnya bukan hanya pada orang luar, tapi juga pada cara kita—atau setidaknya saya sendiri dalam memandang bahasa Ngapak atau Panginyongan.

Ngapak dan Cablaka: Bahasa yang Terlalu Jujur untuk Dunia yang Suka Dipoles

Padahal kalau mau sedikit serius, dalam ranah linguistik, bahasa Banyumasan justru sering disebut sebagai salah satu bentuk Jawa yang lebih “tua” atau setidaknya lebih setia pada bentuk awalnya. Dialek Banyumasan mempertahankan banyak bunyi asli yang sudah berubah di Jawa standar. Jadi ketika orang Banyumas bilang “apa” dan bukan “opo”, itu bukan salah—justru lebih dekat ke bentuk lamanya (Romelah, 2016). Tapi sayangnya, fakta seperti itu kalah oleh persepsi. Ngapak tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk berdiri sebagai bahasa yang utuh. Ia terlalu cepat dijadikan hiburan, terlalu cepat dianggap tidak serius.

Kalau dipikir lebih dalam, ngapak sebenarnya bukan sekadar logat. Ia membawa satu cara hidup. Dalam budaya Banyumas, ini dikenal sebagai cablaka atau blakasuta. Hal ini merupakan cara kita sebagai manusia untuk bicara yang terbuka, langsung, dan tidak suka berputar-putar. Apa yang ingin disampaikan, ya disampaikan saja. Misalnya hal yang sederhana, saya sebagai perantau di Jogja—lebih berani untuk menegur posisi kerah baju teman saya yang tidak menekuk sempurna daripada teman saya yang bukan dari Banyumas (dalam kasus ini orang Jogja). 

Bahasa seperti ini sebenarnya sederhana, tapi tidak mudah. Karena di dunia yang terbiasa dengan kata-kata yang dipilih, disaring, dipoles, dan ketidakenakan itu sering terasa seperti sesuatu yang terlalu mentah.

Ngapak yang Belum Siap Keluar Banyumas

Dari semua itu, saya sampai pada kesimpulan yang agak tidak nyaman: mungkin yang belum siap itu bukan ngapak, tapi penutur bahasa itu sendiri. Ketika kita coba melihat sejarah yang cukup panjang ke belakang, di mana United Kingdom (British Empire) yang dahulu menguasai seperempat dunia, hingga kini walaupun secara wilayah sudah tidak, akan tetapi bahasa Inggris melalui salah satunya efek globalisasi masih saja menjadi bahasa dunia dan syarat untuk manusia membuka gerbang dunia Barat (Nurdiansyah, M. N, 2024).

Jikalau itu sangat jauh dari segi geografi dan waktu, kita ambil contoh lain yang lebih dekat. Pada tahun 2009-2010 ada salah satu pemengaruh yang aktif dengan membuat Youtube. Ia memperkenalkan bahasa JawaJawa Timuran (Warta Ekonomi, 2021). Bahasa itu bukanlah bahasa baru, tapi cara penyajiannya yang cukup baru dengan media sosial yang sangat luas. Walaupun memang mengundang pro kontra, tapi penerimaan masyarakat terhadap fenomena itu lebih kepada menerima sebagai identitas bahasa dan diri penutur, bukan sesuatu yang jadi bahan candaan.

Ini merupakan bahan renungan bagi saya secara pribadi yang sering mengeluh kenapa ngapak ditertawakan, tapi di saat yang sama saya juga diam-diam menyesuaikan diri. Saya merapikan logat, memilih kata, bahkan ikut tertawa ketika ngapak dijadikan bahan candaan. Seolah-olah sebagai penutur aslinya saja belum benar-benar percaya bahwa bahasa kita layak berdiri sebagai identitas.

Budaya cablaka yang katanya menjadi ciri khaswong Banyumas ternyata belum sepenuhnya berani kita bawa keluar. Ia kuat di dalam, tapi melemah di luar. Kita nyaman menjadi diri sendiri di kampung halaman, tapi ragu ketika harus tampil di ruang yang lebih luas.

Padahal kalau cablaka benar-benar kita yakini sebagai cara hidup, seharusnya ia tidak berubah hanya karena tempatnya berubah. Ia seharusnya bisa berjalan ke mana saja tanpa perlu disesuaikan.

Jadi mungkin benar, bukan ngapak yang belum siap mendunia—tapi kita yang belum sepenuhnya siap membawa kejujuran itu keluar dari rumah kita sendiri. Dan mungkin, yang paling sulit bukan membuat dunia menerima ngapak, tapi membuat kita sendiri berhenti merasa perlu menyembunyikannya.

Referensi:
– Warta Ekonomi. (2021). Anak kampung rejeki kota: Begini kisah Bayu Skak dari YouTuber hingga jadi pengusaha.
– Nurdiansyah, M. N., Feisha, M. F., Layala, N., & Santoso, G. (2024). Bahasa Inggris menjadi bahasa internasional sebagai tinjauan historis dan politik. Jurnal Pendidikan Transformatif (JPT), 3(2), 139.
– Romelah. (2016). Kekacauan tingkat tutur bahasa Jawa di lingkungan Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Lingua, 13(2), 265–276.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top