
Tidak ada yang pernah sepi ketika jam sibuk di jalanan ─pagi jam masuk kantor dan masuk anak sekolah. Jalanan tidak pernah dihargai oleh penggunanya. Marka jalan hanya menjadi coretan tidak berguna pada kanvas hotmix. Seenaknya sepeda motor berhenti ketika menunggu lampu hijau menyala. Berhenti di atas zebra cross. Tidak ada penyeberang pejalan kaki yang berani menegur. Para pejalan kaki yang menyebrang lebih memilih diam menghindari keributan karena ujung-ujungnya tidak pernah selesai, dan selalu saja ada para pengguna sepeda motor perampas hak para pejalan kaki walaupun sudah ditegur. Entah bagaimana bisa orang-orang itu dikeluarkan surat izin mengemudi. Belum mereka yang sengaja menggunakan trotoar dipersimpangan sebagai tempat berhenti juga.
Pagi ini, entah perihal apa suasana hati Edi terlihat tidak menyenangkan ketika sedang mengemudikan mobilnya. Istrinya yang duduk di samping hanya diam. Dia tahu betul sifat suaminya. Suaminya akan bertambah marah jika terus dikomentari.
‘Sudahlah yah, sabar sedikit. Jangan marah-marah terus.’ Kata-kata seperti itu tidak pernah lagi diucap kepada suaminya, karena pernah Edi justru menginjakkan pedal gas dan melaju dua kali lipat lebih cepat.
Daripada terjadi hal buruk, diam adalah pilihan bijak istri Edi dengan tidak mengomentari cara berkendara suaminya. Apalagi pagi itu, mereka sedang mengantar dua anaknya pergi sekolah. Istri Edi khawatir pada keselamatan anak-anaknya jika Edi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang sedang ramai.
Persimpangan lampu merah Jalan Pahlawan lebih padat dari biasanya. Kendaraan saling berjejal di antara ruas jalan. Bunyi klakson saling bersahutan. Persimpangan Jalan Pahlawan layaknya sirkuit.
Mobil Edi berada paling depan dari mobil lain di kerumuni sepeda motor. Di samping kiri mobil Edi Ada satu becak tua yang tidak ada penumpangnya ikut mengantre lampu merah. Becak tua dengan banyak karat besi pada rangka-rangkanya.
Pemiliknya tidak kalah tua dengan becak itu. Pak Romlah dengan tubuh kurus terlihat tulang rusuk menyembul di dada terbalut kulit tua yang terbakar sinar matahari. Baju kemeja lusuh yang tidak dikancing pada bagian atas, sengaja agar sirkulasi udara bisa masuk pada tubuh Pak Romlah. Nafasnya berat, kelelahan mengayuh becak adalah penyebabya.
Badan Pak Romlah sedikit membungkuk, matanya fokus menatap lampu lalu lintas yang sebentar lagi berganti hijau. Kaki kirinya bertumpu pada pedal kayuh becak. Tampak perban lusuh membalut kaki kirinya, bekas luka kecelakaan. Diserempet sepeda motor dua minggu lalu, hingga kaki kiri Pak Romlah harus dijahit.
Becak Pak Romlah juga mengikuti aba-aba lampu hijau di persimpangan Jalan Pahlawan bersama mobil yang dikemudikan Edi. Ketika lampu hijau menyala, semua kendaraan melaju, para pengendara berusaha paling dulu. Suara berisik kendaraan, asap-asap knalpot pada motor, suara klakson yang saling beradu menambah keriuhan pagi itu. Becak Pak Romlah tidak sebising kendaraan bermotor, hanya berbunyi gesekan besi tua pada rantai yang hampir tidak berpelumas.
Belum berjarak dua langkah kaki mobil Edi berjalan, tiba-tiba terdengar suara benturan dari bumper depan sebelah kiri mobilnya. Suara klakson kendaraan yang tadi sempat berhenti kini berbunyi kembali ─saling menyahut, bahkan lebih panjang durasi suaranya. Menandakan terjadi insiden pagi itu.
Belum sadar hal apa yang terjadi pada mobil Edi, jendela belakang mobil Edi digedor-gedor oleh pengguna jalan lain. Pemuda dengan setelan berkendara sepeda motor lengkap; jaket, sarung tangan, helm, memukul-mukul jendela belakang mobil Edi dengan genggaman tangan yang masih terbalut sarung tangan.
“Berhenti pak, berhenti!” Suara pemuda itu samar terdengar di dalam kabin mobil Edi.
Seperti tidak menghiraukan pemuda itu, mobil Edi masih melaju menyebrangi persimpangan Jalan Pahlawan. Pemuda bersetelan lengkap itu mengejar dengan sepeda motornya, diikuti dengan sepeda motor lain padahal tidak ada yang mengomandoi mereka untuk mengejar mobil Edi.
Hingga salah satu sepeda motor menambah kecepatannya untuk menyusul mobil Edi karena tidak ada tanda-tanda untuk berhenti. Sepeda motor itu berusaha menahan laju mobil Edi dengan berbelok menggunting dan berhenti menyilang di depan mobil Edi yang sedang melaju.
Edi menginjak pedal rem, istri dan kedua anaknya terdorong ke depan akibat rem mendadak yang dilakukan Edi. Satu anak Edi paling kecil saat itu berdiri di tengah-tengah kursi pengemudi dan penumpang bagian depan tersungkur ke depan, kepalanya membentur dashboard mobil. Anak paling kecil Edi menangis, dengan sigap istri Edi menggapai dan memeluk menenangkannya, seolah sudah terlatih jika terjadi insiden seperti itu.
Orang-orang semakin banyak menghampiri mobil Edi, sebagian memasang muka kesal, sebagian yang lain hanya ikut-ikutan. Kebanyakan dari mereka pengguna sepeda motor yang sama-sama mengantre lampu perlintasan.
“Turun hey, turun. Keluar!” Orang-orang semakin banyak yang meneriaki Edi.
“Jangan kabur!” Suara bernada marah tertuju pada Edi yang masih mengunci dirinya di dalam mobil.
“Sudah Yah, buka jendelanya.” Istri Edi cukup tenang dalam kondisi itu.
“Tidak usah, kita tidak salah. Sudah diam kamu. Tambah repot saja nanti.” Edi masih dengang keras kepalanya tetap tidak mau keluar dari mobilnya.
Tidak lama benturan keras terdengar dari belakang mobil Edi. Kaca belakang mobil Edi dihantam batu seukuran bola sepak. Entah siapa pelakunya, Edi hanya melihat retakan kaca mobilnya.
Istri Edi menjerit karena terkejut dengan suara benturan itu. Anak Edi yang tadinya sudah tenang, kembali menangis histeris.
“Turun kamu! Mau kabur?” Suara dari luar sudah tidak terdengar samar karena masuk dari retakan kaca mobil.
“Siapa yang kabur!” Edi membalas dengan nada suara yang sama tingginya.
Dibukanya pintu mobil, Edi kemudian turun karena terpancing emosinya melihat mobilnya dirusak. Orang-orang mulai mengerubungi Edi yang baru turun dari mobilnya.
“Saya tidak kabur, saya hanya mau meminggirkan mobil saya biar tidak macet.” Terang Edi.
Orang-orang semakin emosi melihat dan mendengar Edi seperti tidak merasa bersalah menabrak becak Pak Romlah. Becak berkarat Pak Romlah tersungkur, karena tertabrak mobil Edi. Tidak ada kerusakan serius pada becak Pak Romlah, karena sebagian besar terbuat dari besi tua yang keras, hanya sedikit membuat as roda bergeser. Justru mobil Edi lebih parah, bumper kiri penyok dan goresan cukup dalam menggaris dari ujung kiri mobil sampai samping badan mobil. Bahkan kaca jendela belakang mobil remuk ulah pengendara lain yang tersulut emosinya.
“Bapak harus tanggung jawab!” Teriak salah satu orang yang mengerubungi Edi.
“Saya tidak salah, becaknya yang menabrak mobil saya.” Edi membela diri.
Sontak, sebagian orang bertambah emosi. Orang-orang tiba-tiba menjadi peduli, padahal sebelumnya mereka hanya memperdulikan jam masuk kerja dan jam masuk sekolah. Jam-jam sibuk itu seolah dilupakan. Begitu mudah sekali orang-orang menjadi peduli. Seolah tuduhan Edi menabrak becak Pak Romlah benar adanya, padahal sebagian orang di sana tidak melihat kejadiannya secara langsung.
Ketika orang-orang mulai bertindak anarkis hampir memukuli Edi, istri Edi keluar dari dalam mobil sambil menggendong anak Edi yang sudah berhenti menangis.
“Sudah-sudah, kami mau ganti rugi. Mana Abang becaknya?” Sekali lagi istri Edi nampak lebih tenang, seperti sudah terlatih menghadapi kondisi seperti itu.
Pak Romlah datang nampak duduk membonceng pengendara sepeda motor, darah segar mengucur pada kaki kanannya. Pengendara itu hendak mengantar Pak Romlah ke rumah sakit tetapi dihentikan oleh Pak Romlah.
“Sudah Pak saya di sini saja.” Suara Pak Romlah sambil menepuk pundak pengemudi sepeda motor yang memboncenginya.
“Itu abang becaknya.” Kata seorang yang ikut bergerombol di sana.
“Kami minta maaf Bapak. Kami tidak sengaja. Ini ada uang untuk berobat. Semoga Bapak mau memaafkan kami.” Pinta istri Edi sambil menyalami Pak Romlah dengan menempelkan lima lembar uang seratus ribu rupiah.
Edi hanya terdiam, mukanya tetap sama, masih memasang wajah sebal. Istri Edi memandangnya, memberi kode senyumnya kepada suaminya sebagai tanda untuk tetap diam.
“Ayo bubar-bubar. Mereka sudah damai.” Kata Pemuda yang pertama kali mengetuk jendela mobil Edi.
Orang-orang kembali menjadi tidak peduli lagi satu dengan lainnya. Mereka kembali memperdulikan diri sendiri, peduli pada dirinya akan terlambat absen masuk kerja, terlambat mengantar anaknya masuk sekolah.
Pak Romlah mengayuh becak tuanya. Suara gesekan besi becaknya semakin bertambah keras karena kecelakaan pagi tadi. Kakinya sekarang kompak, kanan dan kiri sama-sama diperban. Belum sampai masuk rumah, Pak Romlah disambut anaknya yang berusia delapan tahun di teras rumah kecilnya.
“Bapak pulang Mak.” Anak kecil yang seharusnya pergi sekolah itu berlari girang dari dalam rumah melihat bapaknya pulang membawa bungkusan.
“Bapak bawa nasi padang. Sana kasih kan Emak.” Pak Romlah memberikan bungkusan nasi padang kepada anaknya.
Istri Pak Romlah keluar karena teriakan anaknya. Dia melihat perban yang masih baru pada kaki kanan suaminya.
“Bapak dapat uang?”
“Iya Mak. Ini.” Sambil memberikan empat pecahan seratus ribu rupiah pada istrinya.
“Emak belikan beras ya Pak.”
“Pakai saja uangnya, terserah mau buat beli apa. Lumayan bisa buat makan lima hari.” Pak Romlah tersenyum.
“Kalau sudah lima hari kita makan apa Pak?” Istri Pak Romlah khawatir.
“Tenang, masih ada persimpangan Jalan Merdeka. Di sana lebih ramai dari Jalan Pahlawan.” Pak Romlah tertawa.
“Lah ini kaki kanan-kiri sudah diperban.” Istri Pak Romlah bingung.
“Emak, Bapak masih ada tangan kanan-kiri. Perban di rumah masih ada kan?” Pak Romlah kembali tertawa.
“Nanti kita dapat uang lagi di jalan.” Mereka masuk rumah sembari merangkul dan tertawa bahagia karena pekerjaan hari ini berjalan lancar.
Siang itu, rumah sederhana Pak Romlah tercium bau nasi padang memenuhi ruangan. Pak Romlah duduk bersandar di dinding, mengelus lututnya yang masih dibalut perban, matanya menatap kosong ke arah pintu. Istrinya merapikan lalu menatapnya dengan senyum tipis.
“Besok kita ke persimpangan Jalan Merdeka ya, Pak?” tanyanya pelan.
Pak Romlah hanya mengangguk, tapi matanya sedikit menyipit, seakan menghitung sesuatu di kepalanya. Angin siang berhembus masuk melalui celah jendela, membawa suara kendaraan yang masih lalu-lalang entah dari mana.
Tiba-tiba, terdengar ketukan keras di pintu. Satu kali. Dua kali. Lalu senyap. Istrinya menoleh cemas.
“Siapa?” Kata istri Pak Romlah penasaran
Pak Romlah berdiri perlahan, mendekat ke pintu dan membuka sedikit celahnya. Di depan pintu, berdiri pemuda dengan setelan berkendara sepeda motor lengkap; jaket, sarung tangan, helm dengan senyum penuh harap.

Wiwit Putra Bangsa, lahir di Bandung. Menulis menjadi kebiasaannya untuk mengeluarkan sesaknya segala yang ada di kepala agar tidak terlalu penuh dan berat. Menulis Buku Orang-orang Tersesat (Aglitera, 2021). Cerpennya terpublikasikan di beberapa media. Puisi berjudul Liana menjadi juara satu kompetisi online tingkat nasional tahun 2023 (Kreasi Anak Bangsa). Sekarang sebagai ASN Bapas Kelas II Purwokerto. Bisa disapa lewat IG: @wiwitputrabangsa




