
Elok Terakhir di Ujung Timur
Di ujung timur, elok tercipta.
Keelokan yang kupikir tak ada habisnya.
Hijau sudah tandus.
Tanah diserahkan,
pada orang tanpa berpamitan.
Langit Nusa kian berdebu.
Pohon menjerit tak bisa melarikan diri,
sedangkan gigi besi terus mengunyah akar.
Suara mesin lebih berisik dari doa yang terus ditadahkan.
Air telah kehilangan sucinya dan berganti janji busuk dari mulut durhaka.
Kami bertanya,
Kemana nyanyian burung-burung itu?
Kemana perginya pohon-pohon yang memeluk diri?
Kemana kemajuan yang telah mengorbankan yang terindah?
Di tanah Nusa,
kami kehilangan.
***
Citra Diri
Cermin biru menampakkan yang palsu.
Imej sempurna topeng semu.
Terperangkap maya yang menipu.
Retak sudah siapa dirimu.
Antara maya dan nyata yang semakin pilu.
Duniamu berhenti pada angka.
Ibadah harian swafoto dengan kata bijak tak terlupa.
Risau tak apa asal tampak sempurna.
Imaji palsu menjelma tirai, hingga nyata menutupi dirinya.
***
Suara dari Sabang
Kacau
Sabang diporak porandakan.
Jiwa raga diremuk pelan.
Nurani sudah mati tak bersuara.
Si kecil saling berpegangan di atas batu retak
sedangkan si besar duduk di singgasana megah.
Status tak kunjung lahir ke bumi pertiwi.
Duka tumbuh menembus segala puing,
dan tawa tertimbun tanah yang tak sempat kering.
Dia yang tak berakal kehilangan rumahnya.
Namun, mereka yang mengaku berakal duduk di kursi yang tetap tegak,
bak tiada kaki yang rusak.
Malu,
aku malu.
Doa paling getir ditadahkan ke langit gelap oleh mereka yang pergi.
Suara yang dianggap dengung lalat, itulah suara bumi.
Suara yang mengajarkanmu bagaimana mendengar, tapi kau tak kunjung belajar.
Suara yang terus berharap singgasanamu melebur bersama lumpur yang sama.
***

Oasendiva Sanjana Rosadhi yang lahir, besar dan menetap di Purwokerto. Saya merupakan mahasiswa Sastra Indonesia. Saya bisa disapa lewat di Instagram @_oasendivaa.




