Mengapa Purwokerto Terlalu Nyaman untuk Dibenci, tapi Terlalu Sepi untuk Dicintai?

Paradoks di bawah Slamet

Purwokerto, tempat saya menimba ilmu dan saya selalu merasa asing ketika kembali dari libur. Ia bukan kota yang besar sampai kamu harus berlari mengejar karir di sana. Bukan juga desa pelosok yang membuatmu rindu aroma tanah basah setiap malam. Purwokerto adalah sebuah paradoks geografis dan sosiologis. Ia adalah kota yang terlalu nyaman untuk dibenci, tetapi terlalu sepi untuk dicintai secara tulus. 

Kenapa begitu? Sebab, Purwokerto adalah definisi nanggung. Sebuah posisi eksistensial yang tak berani memihak. Ia punya pusat pembelajaran besar, tapi isinya sama saja. Ia punya universitas besar, tapi lulusanya cepat-cepat angkat kaki. Ia punya gunung megah di belakangnya -Slamet, ndoro-, tapi kota ini sendiri terasa datar dan tenang, seperti air di telaga yang tak pernah disentuh badai.

Inilah analisis kritis-romantisme saya tentang Purwokerto. Kota yang ideal untuk perantau yang ingin pulang tapi sebagaimana judul ini “kalau pulang, bingung mau kerja apa?”

Geografi rasa: kota di tengah

Secara geografis, Purwokerto seperti anak tengah yang sering diabaikan. Ia bukan kota provinsi yang memiliki pelabuhan dan kantor-kantor pemerintahan. Ia juga bukan pusat kebudayaan Jawa yang adiluhung seperti Solo atau Yogyakarta. Purwokerto adalah persimpangan. Tempat orang dari selatan -Cilacap, Kebumen misalnya- mampir sebelum ke Jakarta, atau tempat orang dari utara -Tegal, Brebes dan sekitarnya- mampir sebelum ke selatan. Purwokerto adalah kota transit, dan ini mempengaruhi DNA kota ini.

DNA pertama adalah Purwokerto kota ekonomi transit. Ekonomi Purwokerto hidup dari para pendatang dan sektor jasa non-agrikultur. Ini membuat kota terasa hidup di akhir pekan -ketika weekend warriors dari Jakarta atau Bandung pulang-, tapi lesu di hari kerja kecuali di sekitar kampus, tentu saja.

Kedua, identitas campuran. Karena posisinya, Purwokerto seharusnya menjadi melting pot budaya. Tapi alih-alih menjadi campuran yang kaya, ia justru menjadi penjinak budaya. Logat ngapak di sini tidak sekeras di Banyumas pinggiran atau Cilacap. Ada upaya -sadar atau tidak- untuk menetralkan diri.

Lalu, inilah akar dari “sepi”-nya Purwokerto. Ia adalah kota yang tidak memiliki alasan keberadaan yang menggebu-gebu selain menjadi tempat yang baik untuk pensiun atau melanjutkan studi lanjut yang tidak terlalu malah.

Kenapa terlalu nyaman untuk dibenci

Kenyamanan Purwokerto adalah racun yang membuat kita betah, tetapi juga membuat kita mandek. Lalu mengapa ia sulit dibenci? Jadi gini, biaya hidup di sini menjinakkan ambisi. Di Jakarta, biaya kopi latte seharga Rp50.000 adalah pengingat harian bahwa kamu harus terus bekerja keras. Di Purwokerto? Kamu bisa makan nasi rames lengkap dengan ayam goreng, sayur, dan es teh hanya dengan Rp. 10.000. Kemampuan untuk bertahan hidup dengan uang saku minimal membuat adrenalin kita menurun. Jika kebutuhan dasar terpenuhi dengan mudah, mengapa harus repot-repot mengejar ambisi yang tidak perlu?

Nol macet, nol drama

Puncak kemacetan adalah ketika kereta api melintas di perlintasan Pasar Wage, atau ketika lampu merah di simpang empat GOR Satria terlalu lama. Lima belas menit terjebak macet sudah dianggap musibah besar. Ini adalah kemewahan yang tidak disadari. Kemacetan adalah indikator stress, dan Purwokerto adalah kota dengan tingkat stress kemacetan yang hampir nol. Kita benci kemacetan, tapi kita merindukan denyut nadi kesibukan yang di bawahnya. 

Lalu kedekatan dengan alam tapi tanpa komitmen. Jarak dari pusat kota ke lereng Gunung Slamet atau Baturraden itu hanya selempar sandal. Artinya, kita bisa merasakan sejuknya udara gunung tanpa harus berkomitmen hidup di hutan. Inilah kenyamanan estetika. Kita bisa pamer foto healing di lokawisata, lalu kembali tidur di kamar ber AC di tengah kota. Kenyamanan ini menciptakan ilusi bahwa kita menjalani hidup yang seimbang, padahal sebenarnya kita hanya malas mencari keseimbangan itu sendiri. 

Kenapa terlalu sepi untuk dicintai

Sepi di sini bukan sepi yang haru, tetapi sepi yang datar. Hilangnya ruang diskusi dan kreativitas yang eksplosif. Purwokerto punya banyak kafe aesthetic, tapi diskusi yang terjadi di sana seringkali cuma gosip kantor, curhatan kuliah, atau planning untuk healing berikutnya.

Jarang sekali diskusi yang benar-benar memantik perdebatan sengit tentang politik, seni kontemporer, atau filsafat postmodern, hal-hal yang membuat kota terasa hidup. Kreativitas di Purwokerto cenderung lembut, takut memprovokasi, dan cepat puas dengan tepuk tangan lokal. Ini membuat kota ini gagal menciptakan ekosistem yang bisa menahan talenta-talenta terbaiknya. Semua orang tahu, Jika kamu benar-benar ingin “jadi sesuatu”, kamu harus keluar.

Selanjutnya tentang obsesi terhadap status quo. Purwokerto adalah kota yang sangat menjaga citra kenyamanan. Perubahan seringkali dianggap ancaman, bukan peluang. Ketika ada ide baru, respons pertamanya adalah, “lah, ngapa? biasa bae lah.” Frasa ini adalah mantra Purwokerto yang menolak ambisi berlebihan dan menghargai keseragaman. Akibatnya, bagi seorang perantau yang sudah terbiasa dengan kompetisi brutal terasa seperti memasukan mobil Ferrari ke jalan desa: potensinya tidak akan pernah bisa digunakan secara maksimal.

Dilema anak rantau

Dan inilah dilema utama kita, anak-anak Purwokerto yang merantau. Kita meninggalkan kota ini karena kita tahu ia terlalu sepiuntuk menampung ambisi kita yang ndakik-ndakik. Kita ingin Jakarta, ingin drama, ingin kompetisi, ingin gaji yang bisa membeli latte seharga Rp50.000 tanpa harus berpikir dua kali.

Tapi, begitu kita lelah, begitu kita kehabisan energi, satu-satunya tempat yang ingin kita tuju adalah Purwokerto. Kita rindu kenyamanan nasi rames Rp10.000, udara bersih, dan kemampuan untuk pergi dari ujung ke ujung kota hanya dalam 15 menit. Kita tidak bisa mencintai Purwokerto sepenuhnya karena ia tidak memberi kita tantangan yang kita cari, tetapi kita juga tidak bisa membencinya karena ia selalu menjadi tempat yang paling lembut untuk mendaratkan diri setelah kita babak belur.

Purwokerto adalah tempat istirahat abadi. Bukan tempat berjuang abadi. Mungkin, Purwokerto tidak diciptakan untuk menjadi kota impian. Ia diciptakan untuk menjadi kota pulang. Dan mungkin, itu sudah cukup. Meskipun kita pulang dengan bingung mau kerja apa? Ya setidaknya kita pulang dengan nyaman.

1 komentar untuk “Mengapa Purwokerto Terlalu Nyaman untuk Dibenci, tapi Terlalu Sepi untuk Dicintai?”

  1. Pingback: Melawan Sepi, Mengejar Mimpi: Cerita Mahasiswa Perantauan - Temenan BIL Fest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top