Rumah Lanting dan Puisi Lainnya

Kapal Feri

Kapal mendiami sungai-sungai Banua
Besar berlabuh di gelombang keberanian
Penumpang berlalu mengikatkan jiwa
Menaiki badan kapal siap berlabuh

Kapal feri itulah laksana penyeberangan
Menghubungkan jalan-jalan kemudahan
Di atas air sungai Daha, terciprat air kenangan
Ikatan kisah kekasih di haluan kapal

Sepeda motor, para pelajar, para pekerja
Memasuki kapal indah, menuju arah peta niat
Desa Habirau Tengah ke seberang Desa Tambangan
Menyeberangi sungai dengan sentuhan menit dan detik

Nakhoda menghidupkan mesin, memecah sunyi
Menuai wajah-wajah gembira
Memutus perjalanan jauh, memudahkan gerak langkah
Menghemat biaya perjalanan, menancap ketepatan datang

Kapal feri bersama alam, membaur zaman
Dari masa berkembang, menuju masa modern
Warnamu memang pudar, namun perjalananmu dirindukan
Memecah ingatan, melihat sungai-sungai

***

Tugu Lukah Iwak

Jalan-jalan ke pedesaan, menghirup udara hening
Jalanan lapang dipandu pepohonan rindang
Daun hijau menari memulai pandangan
Potret foto seberkas pandangan dinantikan

Jalan persimpangan membentuk empat arah
Tugu Lukah Iwak berdiri gagah menghadang pejalan
Khas daerah unik, bersama melintasi bundaran
Ikon foto, mengundang pecinta viral

Jalanan terpecah timur menuju kota perantau
Arah barat menjejak pasar keramaian
Arah selatan menapaki berbagai desa
Arah Utara jalan pintas pasar

Berawal jalanan tanpa bundaran, menghadang saling menunggu jalan
Seketika berubah jadi jalan perkotaan
Ditamanlah bundaran berhiasan tugu
Memutar mengelilingi sambil memperhatikan pandangan

Desa terasa perkotaan, menghinggapi perlahan-lahan
Bangunan toko-toko, berisi berbagai keperluan
Pedagang melintasi kemajuan
Pembeli singgah ke tempat keinginan

***

Sungai Nagara Daha

Air-air naik mendaki dinding jalan
Berbagai tumbuh-tumbuhan menyambut musim hujan
Perahu bertebaran melintasi sungai nagara
Mesin berbunyi saling memekakkan ketangkasan

Sungai Nagara Daha sepanjang aliran rawa
Membentang, meliuk membentuk ular besar
Air jernih telah lama ditelan masa
Air keruh menyebar ke pori-pori sungai

Rumah-rumah berjejer, pemandangan desa
Sungai telah menjadi jalan membentuk keunikan
Wisata bersahaja, kedamaian beterbangan ke rakyat
Saling bersapa, saling menyantuni

Awan telah berubah, sungai tetaplah jalan pejuang
Mencari ikan, menebar jaring keyakinan
Membawa hasil, membawa senyum di hati kekasih
Tangan mengepal dengan alunan niat

Bermandikan air sungai, berenang menuju keberhasilan
Canda tawa terpasang pada keramahan
Membuka pandangan, membuka adat kebiasaan
Zaman modern terus melaju, Akhlak ditanam di kepribadian

***

Dermaga Nagara

Di ujung senja tampak menantikan malam
Dermaga Nagara berdiri dan bersandar kapal
Lelahnya kapal-kapal mengarungi sungai-sungai
Istirahat memasang tali kekang

Angin jauh membawa rindu, di pelupuk dermaga
Menyimpan rasa dititipkan ke kapal
Dermaga tempat bertemu kita dari belahan daerah
Menuntun perkenalan, membuka pandangan masa depan

Dermaga melewati masa, kisah hilir mudik begitu indah
Barang-barang, Orang-orang saling bergantian
Memasuki badan kapal, memasuki jelajah sungai
Dermaga menjadi tenang, kapal pergi berlabuh

Kapal telah pergi menyisakan kepulan asap rindu
Memandang kekasih, tak sempat membawa harap
Sebatas bersandar, lalu pergi entah kembali atau tidak
Menemuimu sekali dalam serpihan kayu berlabuh di air

Dermaga sunyi, kapal pun pergi
Menghadapi badai di tengah arus zaman
Seberapa jauh kapal pergi, jalur kekasih dinantikan
Sebuah cinta tersimpan dalam gelombang waktu

***

Rumah Lanting

Matahari sudah naik meniti cahaya lembut
Angin-angin mulai datang, membawa kabar perindu
Di atas sungai mengapung benda-benda berharga
Diikat tali temali, memendam kisah penghuni

Rumah lanting berpintu kayu kesederhanaan
Atap berwarna-warni menyusun pelangi
Batang pohon tempat mengapung harapan
Membungkus dinding rumah dengan kayu pilihan

Sungai telah menjadi teman, bertemu dalam kehidupan
Rumah mengapung, menghiasi pinggiran keindahan
Secercah impian, secercah perjuangan
Memikul perjalanan air mengalir menuju gemilang

Perahu kecil berlalu lalang menciptakan ombak berkecamuk
Hujan deras, angin kencang menyentuh tubuh rumah
Keadilan menantikan, alirkan setumpuk tanggung jawab
Memecah raut dingin, berselimut kain keteguhan

Penghuni sungai-sungai di sepanjang persimpangan arus
Dilihat dari jembatan, menuai ketakjuban
Dilihat sang pemilik rumah lanting menatap langit hitam
Akankah sebatas memandang, atau uluran kasih dari lubuk

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top