Tantangan Mempopulerkan Buku Islami VS Popularitas Buku Ateisme

Membaca sering sekali dianggap sebagai jendela dunia. Istilah populer ini sendiri mengandung makna bahwa membaca itu membuat seseorang bisa mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Lewat dari pengamatan terhadap sebuah realitas dan bahan bacaan yang dibaca dari buku, artikel, serta media bacaan inilah yang membuat seseorang bisa mendapatkan pengetahuan. 

Maka, tidak heran apabila di dalam Al-Qur’an sendiri Allah memerintah umat manusia untuk melakukan perintah “iqra”, yang di mana perintah ini sendiri menurut Masran dikutip Monika (2019) menyebutkan, bahwa iqra’ tidak hanya berarti membaca tulisan. Tetapi bisa juga berarti mendalami, meneliti, mengamati, atau memahami fenomena. Baik mencakup fenomena alam atau fenomena sosial yang terjadi. 

Dalam proses pembacaan tersebut, agar apa yang diamati, dan diteliti oleh manusia agar tetap bisa abadi sepanjang zaman, hasil buah pemikirannya. Maka, dalam QS. Al-Alaq 1-5 itu, Allah tidak hanya memerintahkan manusia membaca, tetapi juga menyampaikan ayat tentang pena. 

Ayat ini menjelaskan bahwa agar manusia mencatat hasil pengamatannya dengan menggunakan pena. Dalam hal ini, manusia diperintahkan menuliskan pemikiran dan pengetahuan yang diperolehnya dalam sebuah buku atau tulisan. Tujuannya agar manusia di masa depan nanti bisa memperoleh pengetahuan yang benar. 

Namun, pada masa era post truth ini, kebenaran saat ini sering kali ditutupi bahkan mulai dikalahkan oleh opini dan daya tarik emosional. Tantangan ini tak jarang membuat umat beragama khususnya yang tidak kritis sangat mudah terpengaruh oleh pemikiran yang menyesatkan. Sebagaimana pemikiran atheisme yang hari ini hadir dan sangat meresahkan umat beragama. 

Pemikiran atheisme saat ini  hadir tidak hanya disampaikan dalam bentuk lisan, tetapi juga dalam bentuk tulisan. Buku-buku atheisme sendiri saat ini juga begitu populer. Bahkan beberapa ada yang sampai mendapatkan label best seller dalam skala Internasional. Sebut saja salah satunya buku Delusi Tuhan karya Richard Dawkins. Buku pemikiran atheisme ini sudah terjual lebih dari dua juta salinan dan sudah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa. 

Selain itu juga ada buku Masyarakat Tanpa Tuhan karya Phil Zuckerman. Buku atheisme yang membahas studi sosiologi dan agama ini juga cukup lumayan populer di masyarakat, khususnya kalangan akademisi. 

Saya sebagai seorang pembaca buku, yang tidak jarang beberapa waktu ini sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Buku-buku atheisme seperti ini cukup lumayan menarik minat pembaca. Apalagi pembahasan yang dibahas berkaitan dengan mengkritisi konsep ketuhanan dan agama. Tidak jarang buku-buku ini menarik atensi anak muda. Saya sebagai pembaca lalu mempertanyakan, mengapa buku atheisme ini bisa begitu populer di masyarakat? Menurut pandangan saya ada beberapa alasan mengenai popularitas buku atheisme. 

Pertama, buku atheisme ditulis oleh seorang ilmuwan atau profesor. Dalam ilmu retorika kita mengenal istilah ethos, yang mana status atau kredibilitas seseorang yang menyampaikan pesan juga dapat mempengaruhi audience atau pembaca dalam menerima pesan tersebut. Misalnya saja buku Masyarakat Tanpa Tuhan karya Phil Zuckerman. Buku ini ditulis oleh seorang profesor sosiologi. Statusnya sebagai ilmuwan inilah yang membuat pembaca bukunya merasa apa yang ia tulis itu benar, karena penulisnya seorang ahli. Padahal, seorang ahli pun nyatanya tidak selalu benar dan bisa juga salah. 

Kedua, buku ditulis dengan narasi yang menarik, bahkan beberapa ada yang menceritakan pengalaman pribadinya, seperti buku Masyarakat Tanpa Tuhan. Sang penulis dalam buku itu menceritakan pengalaman dirinya ketika berada di negara Swiss yang sekuler dan negara Amerika yang cenderung religius. Dalam tulisannya itu, si penulis membandingkan kedua negara itu, yang dimana Swiss sebagai negara sekuler (tidak bertuhan) cenderung minim kriminalitas. Berbeda dengan negara Amerika yang religius (kristen), lebih banyak atau tingkat kejahatannya tinggi. 

Dari pengamatan itu, si penulis menilai bahwa negara tanpa Tuhan bisa minim tingkat kejahatannya. Si penulis atheisme lalu menggeneralisasi kalau masyarakat tanpa Tuhan itu lebih baik.  Dengan mengambil gaya penulisan narasi ketika menceritakan pengalaman hidup di Amerika dan Swiss, si penulis berhasil membuat pembaca buku bisa merasakan konflik yang dialami tokoh dalam cerita buku tersebut. 

Ketiga, buku atheisme sekarang ini dilabeli embel-embel best seller. Bahkan ada embel-embel best seller internasional. Embel-embel ini membuat pembaca buku merasa tertarik dengan gagasan buku tersebut, apalagi sampai diakui secara internasional. Kita sangat jarang menemui buku Islam yang mendapatkan embel-embel best seller secara internasional. Sebab memang embel-embel ini dibuat juga memiliki kepentingan politik, ideologis, dan juga agama. 

Keempat, buku atheisme bisa lebih populer karena tokoh-tokoh mereka punya semangat besar untuk meracuni pemikiran masyarakat agama agar tidak mempercayai Tuhan. Sedangkan umat Islam yang memiliki semangat dakwah bil qolam sebenarnya banyak, hanya saja keberanian untuk melawan pemikiran ateisme dengan pertanggungjawaban Ilmiah masih sedikit. Hal ini bisa disebabkan oleh pengaruh yang di mana penulis dakwah merasa tidak percaya diri. Kemudian permasalah di status sosial seperti bukan ahli agama, seperti ustad atau ulama. Serta juga ada masalah ilmu pengetahuan dan keahlian dalam menulis. 

Sehingga sebenarnya buku atheisme sendiri bisa populer itu bukan karena isinya yang mengandung sumber informasi kebenaran. Melainkan buku itu hanya gaya penulisannya saja yang menarik dan covernya penulis serta bukunya yang bagus. Secara isi sebenarnya banyak kecacatan logika. Tinggal kita sebagai penulis lah yang kritis dalam membaca untuk menemukan kesalahan itu. 

Maka dari itu, kita yang memiliki semangat dan minat dalam menulis. Sudah menjadi tugas kita untuk mempopulerkan Buku Islami. Dengan cara mempelajari bagaimana teknik-teknik gaya penulisan. Seperti gaya penulisan narasi, deskripsi dan eksposisi. Buku Islami yang kita tulis juga harus mengandung argumentasi yang kuat. Tidak hanya sekedar mengutip ayat Al-Qur’an dan hadits, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan ilmu pengetahuan terkait. 

Selain itu, kita tidak perlu merasa pesimis kalau kita bukan seorang ustadz. Karena selagi kamu orang yang memiliki ilmu (agama atau lainnya), dan keahlian menulis. Kamu juga bisa berperan untuk mempopulerkan buku Islami yang bahkan bisa mengalahkan popularitas buku atheisme.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top