
Perlon Unggahan Bonokeling merupakan tradisi yang dilakukan setiap setahun sekali sebelum bulan Ramadan oleh masyarakat Adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Inti dari pelaksanaan tradisi ini adalah ziarah tahunan ke makam dengan tujuan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan rasa syukur atas berkah yang diterima. Kegiatan ini adalah praktik budaya yang menyatukan penghormatan leluhur, pelestarian lingkungan, dan pembelajaran sosial.
Setiap tahun, ratusan pengikut Bonokeling berjalan kaki dari berbagai daerah, terutama dari daerah Adipala dan Cilacap menuju makam Kyai Bonokeling di Desa Pekuncen. Dalam kegiatan ini, para peziarah Bonokeling tidak menggunakan kendaraan bermotor, mereka memilih untuk berjalan kaki puluhan kilometer. Langkah ini bukan hanya bentuk dari disiplin spiritual, tetapi juga praktik ramah lingkungan. Para peziarah Bonokeling dalam melakukan mobilitas tidak menghasilkan emisi, tidak mencemari udara, dan tidak menimbulkan kebisingan. Hal tersebut membuktikan bahwa tubuh manusia selalu punya kekuatan untuk bergerak dan memberikan dampak positif terutama kepada lingkungan.
Berjalan kaki yang warga Bonokeling lakukan juga tanpa menggunakan alas kaki, sehingga dalam setiap langkah mereka dapat merasakan tanah, dan menyatu dengan alam. Berjalan kaki tanpa alas bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga bentuk kontemplasi dan penyerahan diri, selalu adanya rasa kesederhanaan, rasa ketulusan dan rasa keabadian yang melekat, membuat warga Bonokeling selalu ingat akan tempat mereka berkehidupan yaitu alam. Dalam proses berkegiatan di wilayah Bonokeling juga dilarang menggunakan alas kaki, siapapun itu, mulai dari warga asli Bonokeling bahkan hingga media yang meliput hingga turis. Larangan tersebut membuat siapapun itu yang ada dalam kegiatan menjadi menyatu dengan alam.
Setibanya di Pekuncen, warga Bonokeling nantinya akan berkumpul dan saling membawa hasil bumi, dan dalam proses tersebut mereka memilih untuk tidak menggunakan plastik, mereka memilih menggunakan wadah dari daun pisang, anyaman bambu, atau kain. Praktik tersebut menunjukan bahwa budaya lokal dari dulu sudah mengenal prinsip meminimalisir penggunaan barang yang banyak menghasilkan sampah plastik serta hal tersebut merupakan kegiatan nyata pelestarian budaya dan upaya menjaga keautentikan tradisi.
Tradisi Bonokeling juga mengajarkan gotong royong dan disiplin. Warga bekerja sama dalam menyiapkan makanan, membersihkan area makam, dan menyambut tamu. Semua kegiatan berlangsung tertib dan terkoordinasi, sesuai dengan tugas masing-masing. Laki-laki bertugas memasak dan memenuhi kebutuhan logistik, semestara perempuan berdoa di makam sebagai bagian dari penghormatan spiritual. Warga Bonokeling juga tidak menebang pohon secara sembarangan, karena dalam kepercayaan mereka alam memiliki kekuatan dan harus dihormati.
Dalam kepercayaan Bonokeling, alam bukan sekadar tempat berlangsungnya tradisi, tetapi juga entitas yang memiliki kekuatan dan wajib untuk dihormati, warga Bonokeling tidak menebang pohon secara sembarangan, dan selalu berusaha untuk menjaga alam karena alam merupakan kunci dari keseimbangan ekosistem dan hal tersebut adalah suatu bentuk tanggung jawab spiritual. Bukti nyata sangat terlihat dari wilayah kawasan warga Bonokeling yang masih sangat asli, sejuk dan rindang akan pepohonan. Wilayahnya juga terlihat sangat tertata dan dirawat dengan baik. Hal tersebut membuktikan bahwa merawat leluhur tidak dapat dipisahkan dengan menjaga alam, hubungan antara keduanya dapat berjalan beriringan.
Kyai Bonokeling sendiri diyakini sebagai tokoh spiritual yang menyebarkan ajaran kejawen dan nilai-nilai harmoni antara manusia dengan alam. Selain itu, aspek simbolik yang diajarkan dalam tradisi ini juga sangat kuat. Pakaian adat yang dikenakan oleh para peserta, seperti baju hitam, jarik, dan blangkon bagi laki-laki serta selendang putih bagi perempuan, bukan hanya penanda identitas, tetapi juga simbol spiritualitas dan kelanggengan. Warna hitam dipilih sebagai representasi kesederhanaan dan keabadian, sementara selendang putih mencerminkan kesucian dan penghormatan terhadap nilai kejawen yang masih dijaga.
Tradisi Bonokeling juga menjadi ruang pendidikan budaya yang berlangsung secara lintas generasi. Anak-anak keturunan Bonokeling juga diajak turut serta dalam prosesi, menyaksikan dan mengalami langsung nilai-nilai yang diwariskan. Melalui pengalaman langsung, mereka tidak hanya belajar tentang leluhur, tetapi juga tentang tanggung jawab ekologis. Proses ini nantinya bisa menjadi bentuk enkulturasi, di mana nilai-nilai budaya ditanamkan sejak dini melalui praktik nyata, bukan sekadar wacana. Dengan demikian, Perlon Unggahan bukan hanya menjaga hubungan spiritual dengan leluhur, tetapi juga memperkuat identitas sosial dan solidaritas komunitas.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi Bonokeling tetap bertahan sebagai bukti bahwa masyarakat adat memiliki cara sendiri dalam merawat warisan budaya dan menjaga keseimbangan dengan alam. Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi refleksi tentang bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan nilai spiritual, sosial, dan ekologis secara bersamaan.
Oleh karena itu, tradisi Bonokeling adalah contoh konkret bagaimana budaya lokal dapat menjadi solusi ekologis yang transformatif. Kegiatan ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menawarkan kehidupan yang selaras dengan alam. Ditengan krisis lingkungan global yang semakin mencekam, tradisi semacam ini dapat menjadi pengingat bahwa solusi tidak selalu datang dari teknologi yang canggih, tetapi bisa berasal dari kesadaran rendah hati yang telah lama hidup dalam masyarakat adat.
Kesimpulannya Ritual Perlon Unggahan Bonokeling tidak hanya berpusat pada ziarah makam, tetapi juga melibatkan kegiatan kolektif seperti membersihkan area makam, menggunakan wadah alami, serta berjalan kaki tanpa alas dari daerah asal menuju Pekuncen. Hal tersebut bukan hanya sekadar simbol, melainkan bentuk nyata dari penerapan ekologi yang bersumber dari budaya kearifan lokal. Warga Bonokeling memahami bahwa keseimbangan antara manusia, leluhur dan alam adalah fondasi keberlangsungan hidup.
Aditya Dimas Rahmawan, lahir di Batang pada bulan April 2004. Aktif sebagai mahasiswa di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman. Instagramnya @adtydimx.




