
Pada Rabu, 30 September 2025, kami menyibak keheningan malam yang menjalar dari Purwokerto – Pemalang. Menunggangi sepeda motor milik teman, kami libas jalanan Purwokerto dengan tanpa basa-basi dan mungkin mirip-mirip secepat Valentina Rossi. Bahkan lebih dari sekadar Valentino Rossi. Apa sebab? Rosi bisa sekencang itu dalam berkendara karena di jalanan yang memang diperuntukkan untuk balapan. Sedang kami memacu sepeda motor di jalanan yang ramai pengguna jalan lain. Lebih-lebih sewaktu menjumpai emak-emak yang acap kali manuvernya tidak mudah diprediksi. Umpamanya, sein kiri tapi belok ke kanan. Dalam berkendara kami selalu berlindung kepada-Nya dari tipu daya emak-emak saat di jalan raya.
Malam hari memang bukanlah waktu yang tepat untuk menumpas jarak, lebih-lebih pergi ke suatu tempat tanpa disertai segudang pengetahuan tentang kondisi jalan yang hendak dilalui, kondisi kendaraan yang hendak ditumpangi, dan kondisi cuaca saat dilangsungkannya rihlah pada malam hari. Kekhawatiran sudah seperti sampah plastik yang timbul tenggelam ditikam ombak lautan.
Keberangkatan kami awalnya berjalan mulus sebagaimana transaksi di bawah meja para pemangku kepentingan atau penguasa. Namun, memasuki jalanan gelap – tak sekalipun lampu berpijar – di kawasan Karangreja, Purbalingga, hujan tiba-tiba datang berbondong-bondong. Kami berdua akhirnya menepi sembari menunggu hujan sedikit reda dan sekiranya memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.
Karena hujan yang tak kunjung berterus terang, sempat kami hendak mengurungkan niat untuk berwisata di Gunung Mendelem, Pemalang atau yang akrab juga disebut Gunung Jimat. Tapi karena sudah melibas setengah perjalanan dari Purwokerto – Pemalang, akhirnya kami pun menenggelamkan niatan untuk pulang. Menggunakan jas hujan, kami trabas riuh redam gemuruh hujan.
Sesampainya di Pemalang, di tempat teman kami, kami beristirahat untuk mempersiapkan tenaga guna melangsungkan pendakian pada esok hari. Sekalipun gunungnya tidak terlalu tinggi, namun kesehatan adalah kunci dalam setiap melakukan aktivitas. Lebih-lebih ini adalah aktivitas outdoor dan mendaki melalui tangga besi dengan seperangkat alat panjat tebing ialah hal yang belum pernah saya alami. Sebagai pendaki amatir, menyepelekan hal kecil apalagi besar adalah suatu adegan yang harus dijauhi.
***
Pagi yang secerah senyumnya, membuat kami semangat dan antusias untuk mendaki Gunung Jimat Via Ferrata. Secangkir kopi buatan teman kami melengkapi pagi yang syhadu sembari mempersiapkan pendakian. Kami hanya bertiga, setidaknya sudah melebihi batas minimum pendaki di Gunung Jimat Via Ferrata yakni dua orang, tapi entah nanti di basecamp apakah berjumpa dengan pendaki lain. Sebenarnya jumlah pendaki pada hari ini bisa diketahui, karena menggunakan sistem booking atau reservasi selambat-lambatnya dua hari sebelum keberangkatan.
Kami bertiga sepakat untuk memilih paket pertama, Paket Via Ferrata seharga 180.000 rupiah. Dari harga tersebut, benefit yang didapatkan pendaki adalah pemanjatan 150 Meter, guide, sewa peralatan panjat, makan & coffe, dokumentasi, asuransi, dan sertifikat PDF. Pada dasarnya, Gunung Jimat Via Ferrata sendiri menawarkan beragam paket pendakian.

Selain paket di atas ada Paket Fun Hiking dan Paket Inap Jambe Kembar. Untuk Paket Fun Hiking dibandrol dengan harga 200.000 rupiah, dengan fasilitas yang diperoleh: hiking Gunung Mendelem 1450 Mdpl, guide, makan & snack, trekking pole, hydropack, dan dokumentasi. Sementara untuk Paket Inap Jambe Kembar seharga 100.000 rupiah mendapatkan akses menginap 1 malam, welcome drink, sarapan 1x, dan antar jemput hotel tebing.
Bagi saya pribadi, mendaki Gunung Jimat Via Ferrata adalah pengalaman pertama kali mendaki melalui tangga besi dengan seperangkat alat panjat tebing. Helm terpakai di kepala, harness lengkap dengan webbing dan carabiner dll juga sudah terpakai dan siap jalan. Awalnya, saya merasa kesulitan untuk mengoperasikannya, membuka-tutup carabiner unutuk mengaitkanya ke tangga besi. Di sini skill kedisiplinan, ketekunan, ketelitian, ke-tlaten-an, dan kesabaran dipertaruhkan. Mungkin bagi fans Manchester United F.C. – seperti teman saya – skill sabarnya sudah cukup teruji dan tak perlu dipertanyakan lagi. Maka tak heran ia bisa begitu cepat dalam melangkah sembari mengaitkan carabiner.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya bisa dengan mudah mendaki tangga besi yang disajikan oleh Gunung Jimat Via Ferrata. Mengaitkan dan melepaskan carabiner tak lagi menjadi persoalan. Kami pun sampai di tangga besi terakhir. Dilanjutkannya dengan menikmati pemandangan Gunung Slamet dan hamparan Pemalang yang tampak dari atas Gunung Jimat. Ritual foto-foto juga tak bisa dipisahkan dari setiap healing dan berwisata. Sekalipun pose fotonya ya cuma gitu-gitu aja. Pose jempol bapak-bapak adalah pose legend yang sulit untuk ditinggalkan.
Seusai merasa puas di puncak Gunung Jimat Via Ferrata, kami pun lanjut turun sebelum sempat hujan mengguyur. Karena lebih berisiko jika hujan sudah turun sedang kami masih di atas atau sedang dalam perjalanan di tangga besi tersebut. Tentu besinya jadi lebih licin ketika basah oleh air. Kami pun turun dengan selamat dan dilanjutkan dengan menikmati hidangan makan siang yang sudah disiapkan oleh pihak basecamp. Setelah menyantap makan siang dengan lahap, kami pun undur diri dan berpamitan untuk pulang lebih duluan.
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_




