Perempuan Berhak Memilih

Hidup di tengah masyarakat patriarki berarti hidup di dunia yang masih menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa. Perempuan sering kali dianggap sebagai warga kelas dua. Suara mereka sering diabaikan, pilihan hidupnya dipersempit, dan kebebasannya dibatasi dengan alasan “norma” atau “kodrat.” Apakah adil jika perempuan hanya diminta patuh, sopan, dan tidak boleh lebih pintar dari laki-laki? Apakah adil jika mereka sering diminta mengorbankan mimpinya demi keluarga?

Di banyak tempat, perempuan masih dipandang dari tiga kata: dapur, kasur, dan sumur. Ungkapan ini seolah menjadi “aturan tak tertulis” yang diwariskan dari generasi ke generasi. Perempuan dianggap cukup jika bisa memasak, mengurus rumah, dan melayani suami. Kalimat seperti “perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya ke dapur” masih sering terdengar di meja makan, forum keluarga, bahkan di media sosial. Sekilas terdengar seperti lelucon, tetapi apakah lucu jika kalimat itu membuat banyak anak perempuan kehilangan kesempatan sekolah? Sebenarnya pikiran tersebut perlu dikremasi atau keramasi? supaya tidak menular pada generasi berikutnya.

Patriarki bukan hanya mengatur peran perempuan di rumah, tetapi juga memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap masa depan mereka. Seorang anak perempuan yang ingin melanjutkan kuliah sering mendapat pertanyaan, “Buat apa sekolah tinggi? Nanti juga menikah.” Mengapa menikah selalu dianggap tujuan utama hidup perempuan? Bukankah pendidikan juga penting untuk membuka wawasan, memperluas cara berpikir, dan membantu perempuan mengambil keputusan yang bijak?

Masalahnya tidak berhenti di situ. Perempuan sering ditekan untuk tidak terlalu “memilih” pasangan. Masih ada anggapan, “lanang menang milih, wedok menang dipilih.” Artinya, laki-laki berhak memilih siapa yang ia inginkan, sementara perempuan hanya menunggu. Apakah benar perempuan tidak boleh memilih? Bukankah memilih pasangan adalah hak setiap orang? Perempuan juga bisa menentukan masa depannya dengan bebas, tanpa ada unsur paksaan.

Selain itu, ada pandangan lain yang masih melekat di masyarakat: perempuan yang belum menikah di usia 20-an akhir atau 25 ke atas sering disebut “perawan tua.” Apakah sebutan itu pantas? Apakah itu benar-benar standar norma yang berlaku? Kita tidak bisa menghakimi seseorang hanya karena belum menikah. Tidak semua perempuan yang belum menikah berarti tidak ingin menikah. Ada yang sedang fokus mengejar pendidikan, karier, atau mimpi lainnya. Ada pula yang memang belum bertemu jodoh yang tepat. Bukankah jodoh datangnya dari Tuhan? Mengapa kita harus memberi label negatif seolah-olah perempuan yang belum menikah sudah terlambat? Pikiran seperti ini juga perlu kita kremasi supaya perempuan tidak merasa hidupnya gagal hanya karena belum memakai cincin di jari manisnya.

“Kita butuh dunia yang melihat perempuan bukan hanya dari perannya di dapur, kasur, dan sumur, tetapi dari pikirannya, mimpinya, dan kemampuannya membawa perubahan.”

Patriarki juga menciptakan standar ganda. Perempuan yang tegas sering dianggap galak, sedangkan laki-laki yang tegas dipuji sebagai pemimpin. Mengapa sifat yang sama diukur dengan cara berbeda? Mengapa perempuan yang berani berbicara dianggap kasar? Padahal keberanian untuk bersuara penting, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat. Jika kita terus melabeli perempuan yang tegas sebagai galak, bukankah itu sama saja memaksa mereka untuk diam?

Jika cara pandang seperti ini terus dibiarkan, kita sedang menciptakan dunia yang tidak adil bagi separuh penduduk bumi. Perempuan yang cerdas dan berpotensi besar akhirnya dipaksa menahan diri. Apakah kita rela melihat generasi masa depan kehilangan kesempatan hanya karena terjebak pikiran lama?

Sejarah menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi kesempatan, mereka bisa memberi perubahan besar. Lihatlah R.A. Kartini berjuang agar perempuan bisa bersekolah. Cut Nyak Dhien yang berani memimpin perlawanan melawan penjajah. Ada juga Dewi Sartika yang mendirikan sekolah khusus perempuan di zamannya. Bukankah mereka bukti bahwa perempuan bisa memberi kontribusi besar jika diberi ruang yang sama?

Perjuangan memutus rantai patriarki bukan hanya tugas perempuan. Laki-laki juga harus ikut terlibat. Mereka perlu mengubah cara pandang, dari melihat perempuan hanya sebagai pengurus rumah menjadi melihat mereka sebagai mitra yang setara. Pendidikan tentang kesetaraan gender harus dimulai sejak dini. Anak laki-laki harus diajarkan menghormati keputusan perempuan, dan anak perempuan harus diberi keberanian untuk bermimpi setinggi-tingginya.

Memutus warisan patriarki juga bukan berarti menolak peran perempuan di rumah. Perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga pun tetap layak dihargai. Bedanya, pilihan itu harus lahir dari kesadaran, bukan paksaan. Perempuan harus bebas menentukan apakah ia ingin bekerja, melanjutkan sekolah, atau fokus membesarkan anak tanpa merasa tertekan oleh pandangan masyarakat.

Selain itu, penting untuk mengubah cara kita menilai perempuan. Ketegasan bukanlah sifat buruk. Jika seorang perempuan berani berbicara, itu bukan berarti ia galak itu berarti ia tahu apa yang ia inginkan. Jika ia memilih untuk menolak lamaran atau menunda pernikahan demi pendidikan, itu bukan berarti ia terlalu memilih itu berarti ia menghargai dirinya.

Kesetaraan gender bukan untuk menjatuhkan laki-laki. Kesetaraan gender adalah tentang menciptakan dunia di mana semua orang memiliki hak yang sama untuk bermimpi, belajar, bekerja, dan menentukan masa depan. Jika perempuan diberi ruang yang sama, bukankah masyarakat akan lebih seimbang dan lebih maju?

Menghapus pandangan sempit tentang “dapur, kasur, sumur” memang tidak bisa dilakukan dalam sehari. Tapi apakah kita akan diam dan menunggu? Atau mulai dari hal kecil: berhenti meremehkan pendidikan perempuan, mendukung pilihan hidup mereka, dan tidak lagi melabeli sifat tegas sebagai sesuatu yang buruk?

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Kesadaran di rumah, di sekolah, dan di lingkungan akan menciptakan dunia yang lebih adil. Ketika perempuan bebas berkembang, semua orang akan merasakan manfaatnya. Perempuan yang berpendidikan akan melahirkan generasi yang cerdas. Perempuan yang percaya diri akan menginspirasi anak-anaknya. Perempuan yang berani bersuara akan membuat dunia lebih seimbang.

Karena itu, warisan patriarki harus kita kremasi bersama-sama. Kita butuh dunia yang melihat perempuan bukan hanya dari perannya di dapur, kasur, dan sumur, tetapi dari pikirannya, mimpinya, dan kemampuannya membawa perubahan. Bukankah itu yang kita harapkan untuk masa depan?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top