
Sewaktu mengenyam sekolah dasar, saya bersama teman sebaya suka bermain mendem-mendeman (meski saya sebatas menontonya). Karena saya pribadi selalu gagal dalam prosesi jelantur (baca: memasukkan ruh gaib ke dalam diri/mengeluarkannya), masuk aja belom, apalagi keluar. Sampai sekarang saya masih belum tahu persisnya, mereka yang kesurupan/mendem memang sungguhan atau hanya pura-pura. Terlepas dari itu, saya senang-senang saja dan turut menikmati permainan ini meski hanya sebatas menjadi penonoton saja.
Tak hanya itu, saya dan teman-teman juga acap melihat pagelaran Ebeg yang digelar di tetangga desa. Menaiki sepeda untuk menuju ke sana, kami berbondong-bondong dengan antusiasme yang membara. Hal itu berjalan hampir setiap ada Ebeg diselenggarakan dan waktunya memang memungkinkan untuk menontonnya. Namun sampai suatu waktu, kami tidak lagi menonton pertunjukan seni – yang sarat akan mendem, mistis, gaib, dan atraksi tidak wajar lainnya – karena salah seorang teman dinasihati orang tuanya untuk tidak lagi mengikuti kegiatan-kegiatan semacam itu dengan alasan kegiatan itu bertentangan dengan agama (islam). Karena saya waktu itu masih kecil yang belum tahu seputar kesenian serta kebudayaan dan adanya norma kepatuhan kepada orang yang lebih tua, walhasil kami ikuti nasihat orang tua dan tidak lagi menonton Ebeg.
“Laku kesenian dan kebudayaan tidak hanya sebatas tontonan melainkan tuntunan dalam kehidupan.”
Setelah dewasa dan mudahnya akses informasi, saya dapati bahwa secara “esensi” Ebeg mengandung antara lain: nilai filosofis, spiritualitas, dan nasihat moralitas. Hal ini mungkin sekali ada dalam setiap kesenian maupun kebudayaan yang mewujud di sekitar kita. Kebudayaan peninggalan para leluhur pastinya menyimpan nilai dan falsafah hidupnya masing-masing. Dalam lokalitas Banyumas, kita mengenal tradisi Cowongan yang anggapan orang kebanyakan adalah mistis, klenik, bau-bau dukun, dan jauh dari nilai agamis. Setelah duduk manis dengan seorang budayawan Banyumas, ternyata dalam tradisi Cowongan banyak nilai yang dikandungnya. Di antaranya adalah hubungan manusia secara vertikal (hablumminallah), hubungan manusia secara horizontal (hablumminannas), dan hubungan manusia dengan alam.
Dengan demikian, poinnya adalah “esensi” dan “sosialisasi”. Pastinya dari sekian banyaknya kesenian dan kebudayaan yang berdenyut di Banyumas sudah barang tentu memiliki nilai dan ajaran yang dibawanya masing-masing. Selanjutnya adalah bagaimana mendistribusikan nilai dan ajaran tersebut kepada segenap masyarakat? Dengan kata lain adalah men-sosialisasi-kannya. Dengan mengetahui cara sosialisasi dan mengkampanyekan laku kesenian, masyarakat akan dengan senang hati menerima dan bahkan turut mengajarkan kepada anak-cucunya.
Sebenarnya banyak cara agar nilai-nilai dalam kesenian bisa tersampaikan kepada masyarakat. Di antaranya, membuat video yang mengupas tuntas nilai filosofis suatu kesenian, menuliskannya dan menyelenggarakannya di ruang yang lebih mudah diakses oleh masyarakat. Bahkan kalau perlu dan memungkinkan, hadirkan juga di sekolahan dengan skema yang lebih mudah diterima oleh anak-anak. Dalam penyelenggaraannya pun, jangan tetiba langsung dimulai begitu saja, akan tetapi disajikan prolog yang menjelaskan tentang nilai-nilai kehidupan dan tuntunan yang dibawa kesenian tersebut. Tak hanya itu, dalam membawakan kesenian maupun kebudayaan perlu juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai relevansinya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sebagai pribadi maupun masyarakat sebagai kolektif. Dengan formula semacam ini, diharapkan kejadian seperti fenomena di awal, menjadi sedikit dan semoga tidak terjadi.
Sebagai penutup, “Esensi dan sosialisasi adalah kunci dari lestarinya sebuah kesenian maupun kebudayaan. Oleh karenya, penting untuk siapapun pelaku budaya dan generasi saat ini untuk terus mengedepankan esensi kesenian dan sosialisasinya supaya laku kesenian dan kebudayaan tidak hanya sebatas tontonan melainkan tuntunan dalam kehidupan.”
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_




