
Parenthink dan Grandparenthink demikan saya menyebutnya. Demam pola asuh yang biasanya sering menimbulkan konflik dalam keluarga. Bagi Ayah-Bunda yang masih tinggal bersama orangtua, biasanya akan merasakan Parenthink dan Grandparenthink. Dimana setiap pola asuh yang diterapkan kita sebagai orangtua kandung dari anak kita, akan berbeda dengan pola asuh orangtua kita terhadap anak kita (cucunya).
Hal itu pun saya rasakan sendiri. Tidak jarang saya dan orangtua berselisih paham tentang pola asuh terhadap anak. Ketika saya menerapkan kebiasaan A pada anak, maka akan menjadi kontra dengan kedua orangtua. Dampaknya, saya menjadi kesulitan ketika akan mengarahkan sebuah kebiasaan kepada anak. Namun, saya berusaha untuk mengambil jalan tengah agar anak tidak berlarut-larut dalam dua pola asuh yang berbeda.
Ayah-Bunda menyikapi demam Parenthink dan Grandparenthink sebaiknya tidaklah sulit. Kunci utamanya adalah komunikasi. Baik komunikasi kita kepada orangtua, komunikasi kita terhadap orangtua dari pasangan, ataupun komunikasi diantara Ayah-Bunda sendiri. Jika komunikasi tersebut bisa berjalan dengan baik, maka istilah demam Parenthink dan Grandparenthink tidak akan terjadi. Berikut ini beberapa hal yang bisa Ayah-Bunda pertimbangkan untuk mengatasi Parenthink dan Grandparenthink.
Pertama, duduk santai dengan orangtua kemudian utarakan keinginan kita dalam mengasuh anak. Contoh sederhana dalam memberikan jajan kepada anak. Jika tidak ingin anak terbiasa jajan sembarangan, maka utarakan kepada orangtua bahwa kita ingin menerapkan kebiasaan membuat jajan sendiri. Saya yakin jika dikomunikasikan dengan baik, orangtua akan mengerti dan mendukung apa yang kita lakukan untuk anak.
Kedua, tak selamanya pola asuh nenek terhadap cucu itu memanjakan. Saya mengalaminya sendiri tentang hal itu. Ketika saya kecil, kedua orangtua bekerja. Sehari – hari saya bermain di rumah nenek. Meskipun bersama nenek, saya merasakan bagaimana pola asuh nenek yang manfaatnya dapat dirasakan sampai sekarang. Nenek selalu meminta saya untuk tidur siang. Jika saya menolak, nenek pasti marah. Dari kebiasaan itu yang saya tangkap adalah nenek sesungguhnya mengajari bagaimana mengatur waktu. Waktu sekolah, waktu istirahat dan waktu bermain.
Tak hanya itu, nenek juga selalu meminta saya mencuci piring yang telah dipakai untuk makan. Bukan karena nenek tidak mau dibebani, namun nenek telah mengenalkan saya tentang pekerjaan rumah. Saya senang jika diperbolehkan mencuci piring sendiri saat itu. Dan manfaatnya sangat saya rasakan setelah dewasa. Mengenalkan anak dengan pekerjaan rumah dan tanggung jawab sedari anak berusia dini merupakan hal yang tepat.
Ketiga, lakukan “Qtime” dengan anak. Jika Ayah-Bunda diharuskan bekerja dan anak terpaksa diasuh oleh kakek dan nenek, maka Ayah-Bunda harus memiliki waktu rutin untuk “Qtime” dengan anak. Di waktu tersebut adalah waktu untuk Ayah-Bunda menerapkan pola asuh serta aturan atau kedisiplinan. Agar anak tidak bingung, Ayah-Bunda bisa memberikan nasehat kepada anak dengan bijak, tanpa menyalahkan pola asuh dari kakek-neneknya. Misalnya jika kakek-nenek biasa mencuci piring anak kita usai dia makan. Di saat “Qtime” Ayah-Bunda bisa berkata kepada anak “Bunda tahu kalau nenek sangat sayang padamu. Namun alangkah lebih baik jika kamu ikut membantu nenek dengan mencuci piringmu sendiri. Nenek pasti senang!” Dengan demikian baik anak kita maupun orangtua kita tidak akan tersinggung.
Keempat, jangan bertengkar dengan orangtua kita di depan anak. Berselisih paham dalam mengasuh anak tentu terjadi. Baik antara Ayah dan Bunda sendiri maupun antara Ayah-Bunda dengan orangtua. Jika sedang demikian, usahakan jangan sampai Ayah-Bunda bertengkar di depan anak. Anak adalah pengamat yang jeli. Jika dia melihat Ayah-Bunda bertengkar dengan orangtua, maka tidak menutup kemungkinan rasa percaya anak terhadap Ayah-Bunda menjadi terkikis.
Pola asuh bentuk apapun tujuan utamanya adalah ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang baik. Maka hal yang utama dan paling inti dalam mengasuh anak adalah komunikasi. Oleh sebab itu, pola asuh Parenthink dan Grandparenthink sesungguhnya adalah kolaborasi dua pola asuh yang baik jika dikomunikasikan dengan baik pula.

Agustina Wulandari Sutoro. Setiap hari Ia mengabdikan diri di SMP N 4 Sumbang sebagai guru matematika dan juga sebagai tutor matematika di PKBM Rumah Kreatif Wadas Kelir. Hobinya adalah menulis. Ia tinggal di Kranji Purwokerto Timur. Dapat menghubungi saya melalui IG : agustina0890




