
Jika mendengar orang bicara dengan dialek ngapak, biasanya kalian akan menahan tawa. Atau jika yang bicara itu teman dekat kalian, pasti akan tertawa. Budaya ngapak yang ditampilkan di televisi atau konten-konten sekarang adalah melucu. Konten yang berkonsep komedi. Membuat orang tertawa, karena terhibur. Begitu tujuannya. Bahkan seolah menganggap orang yang berdialek ngapak adalah “badut” yang akan semakin lucu jika ditanggap. Saya tidak akan sinis terhadap konsep konten yang seperti itu. Silakan saja. Meskipun kadang kala saya miris. Mengapa dialek yang merupakan bagian dari budaya bahasa, mengalami reduksi dalam posisi berkomunikasi di tingkat nasional.
Mungkin dari reduksi itulah orang yang merantau malu menggunakan bahasa ibunya –ngapak. Itu akibat dari reduksi bahwa dialek ngapak dijadikan konten yang berkonsep komedi. Menjadikannya “badut” yang menjadi bahan tertawaan.
Saya tidak berniat ngrasani konsep hiburan dan konten seperti itu. Toh tidak ada reduksi yang sampai negatif. Semoga saja kalau ada yang terhibur, ya alhamdulillah. Membuat orang tertawa adalah ibadah, berpahala. Bisa sejenak lupa akan masalah-masalahnya.
Tentang dialek ngapak, saya belum lama ini tertarik untuk mengupas sebuah kata yang sering dipakai orang Banyumas, yang maknanya sangat dalam. Kata itu adalah bombong. Indonesia ini kaya akan budaya bahasa. Jadi makna bombong di setiap daerah berbeda-beda. Tidak hanya Banyumas yang memiliki kata bombong. Ada dari Ambon, Flores dan lain sebagainya. Dengan cara pengucapan yang mungkin berbeda. Namun jika dituliskan akan sama, bombong.
Jika kata bombong dipakai oleh orang Banyumas, yang memiliki arti bahagia, namun kebahagiaan yang seperti apa yang dimaksud? Pelan-pelan akan kita pelajari bersama.
Biasanya kata bombong dalam komunikasi sehari-hari orang Banyumas, dipakai saat seseorang dalam keadaan kecewa atas suatu hal yang belum tercapai. “Sing bombong bae”, yang jika diubah dalam Bahasa Indonesia, maknanya bisa bermacam-macam. Bisa “yang tenang saja”. Karena kalau diterjemahkan perkata, akan wagu, “yang senang saja”. Meminjam istilah Afthonul Afif, “bahagia itu bukan soal senyum, tapi soal makna”. Jadi kata bombong akan memiliki perluasan makna jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Bahagia yang dimaksud dalam kata bombong, adalah bahagia yang memang diciptakan secara sengaja. Sehingga dalam menghadapi situasi yang tidak kita inginkan, kita tidak meletakkan sedih atau kecewa yang berlebihan dalam hati kita.
Kemampuan itulah yang diajarkan oleh para leluhur Banyumas ketika mengucapkan “sing bombong bae”. Meskipun ajaran itu dilakukan secara tutur (lisan). Dimana seseorang diajarkan untuk menghadapi situasi yang tidak diinginkan dengan perasaan yang bahagia. Sehingga dominasi rasa bahagia yang diletakkan diawal akan mengikis perasaan sedih atau kecewa. Meskipun itu ajaran tutur, jika ditarik dalam keilmuan psikologi, ada keterkaitan eratnya. Dominasi rasa bahagia yang memang dengan sengaja diupayakan akan memperkuat hormon endorfin yang berada di otak. Fungsi dari hormon endorfin dalam diri seseorang akan menekan rasa sakit dan meningkatkan kebahagiaan suasana hati.
Efek dari suasana bombong yang diciptakan, menjadikan suasana hati lebih tenang, dan pikiran akan jernih. Dalam menghadapi situasi yang tidak kita inginkan atau di luar kendali kita, ketenangan hati dan kejerihan pikiran lebih dibutuhkan. Karena itu akan berdampak pada pengambilan keputusan.
Suasana bombong bisa diciptakan dengan cara berinteraksi sosial. Curhat dengan teman, membaca buku, bernyanyi, nonton film, olahraga, pijat, atau yang suka ngopi, seduh dulu kopinya lalu sebat dulu.
Ciptakan bombong dalam hatimu. Karena masalah dalam hidup itu pasti ada. Tinggal bagaimana kita berkata dalam hati, “sing bombong bae”. Sambil senyum.

dari Banyumas menyapa Indonesia




