Purwokerto Katanya Kota Healing, Tapi Wisatawan Turun di Stasiun Langsung Bingung?

Pernahkah kamu merasakan jadi tamu di Purwokerto? Bayangkan, kamu turun dari kereta di Stasiun Purwokerto dengan tas ransel di punggung, penuh semangat untuk liburan dan menjelajahi kota yang konon disebut sebagai kota healing. Tapi begitu melewati gerbang stasiun, langkahmu langsung terhenti. Pertanyaan pertama yang muncul di kepala, ini harus naik apa? Ojek? Angkot? Bus kota? Semuanya tidak jelas. Tidak ada papan petunjuk yang membantu, tidak ada petugas yang menyambut, dan tidak ada informasi transportasi yang mudah diakses.

Masalah makin terasa kalau kamu ingin naik ojek online atau taksi online. Banyak wisatawan yang tidak tahu bahwa penjemputan transportasi online hanya diizinkan dari pintu barat stasiun. Salah keluar, misalnya lewat pintu timur, kamu akan mendapati zona larangan transportasi online dan harus repot memutar atau bahkan jalan kaki lagi. Situasi seperti ini tidak jarang membuat wisatawan kebingungan di detik pertama kedatangannya.

Slogan manis, realitas pahit
Selama ini kita sering mendengar slogan “Purwokerto kota transit, kota wisata, kota strategis”. Kalimat itu memang terdengar indah, seperti janji bahwa Purwokerto sudah siap menyambut siapa saja. Namun, ketika wisatawan benar-benar datang, realitasnya jauh dari manisnya slogan. Stasiunnya sudah modern, megah, dan nyaman. Tetapi begitu keluar, pengalaman itu seolah dipatahkan oleh akses transportasi yang tidak tertata.

Banyak wisatawan akhirnya mengandalkan transportasi online atau bahkan angkutan berplat hitam yang mungkin mangkal tanpa izin resmi. Angkot? Memang masih ada, tetapi trayeknya membingungkan, interval kedatangannya lama, dan armadanya sudah renta. Warga lokal saja enggan menggunakannya, apalagi wisatawan dari luar kota yang baru pertama kali menginjak Purwokerto. Trans Banyumas juga ada, tapi letak halte dan rutenya tidak cukup ramah untuk wisatawan yang baru singgah.

Minimnya arah dan informasi wisata
Bayangkan wisatawan yang ingin ke Baturraden, ke aneka curug indah, atau sekadar mencari pusat kuliner malam. Alih-alih mendapat petunjuk dari agen wisata atau petugas khusus, mereka harus mengandalkan Google Maps dan bertanya ke warga sekitar. Tidak ada booth informasi resmi yang menunggu di sekitar stasiun. Tidak ada brosur atau papan digital yang memuat jalur wisata. Hal-hal kecil yang di kota wisata lain terasa biasa, di Purwokerto justru belum ditemukan.

Fasilitas bagus tapi aksesnya belum diatur
Pembangunan di pusat kota memang banyak. Trotoar ditata ulang dengan rapi, lampu jalan bergaya modern, beberapa titik bahkan Instagramable. Namun semua itu terasa sia-sia jika alur transportasi dan akses wisatawan tidak ditata dengan baik. Kesan pertama bagi wisatawan bisa jadi malah buruk. Bukannya disambut dengan sistem rapi, mereka justru harus kebingungan mencari rental kendaraan, atau berjalan kaki di trotoar yang sebagian sudah berubah fungsi jadi lapak pedagang.

Potensi besar, tapi butuh perbaikan serius
Purwokerto sebenarnya tidak kekurangan potensi. Objek wisatanya memikat, kulinernya menggoda, dan keramahan warganya sudah terkenal. Namun bicara soal infrastruktur pendukung, terutama transportasi dan akses wisata, kita harus jujur bahwa kondisinya belum siap. Wisatawan dipaksa mandiri, harus kreatif, bahkan siap repot sendiri. Padahal semestinya, sistem kota memudahkan mereka, bukan sebaliknya.

Katanya Purwokerto adalah kota wisata. Namun kenyataannya, wisatawan kerap merasa seperti tamu yang diajak main ke rumah besar, tetapi tidak disediakan kursi, tidak diberi petunjuk, dan dibiarkan mencari-cari sendiri. Sudah saatnya pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat bersama-sama memikirkan hal ini. Kita tidak hanya ingin wisatawan kagum pada alam dan kuliner Purwokerto, tetapi juga bangga dengan cara Banyumas menyambut mereka.

2 komentar untuk “Purwokerto Katanya Kota Healing, Tapi Wisatawan Turun di Stasiun Langsung Bingung?”

  1. Irfan Fadhlurrahman

    akses transum nya masih sangat susah, mau naik Trans Banyumas harus turun di pintu keluar barat dan jalan sekitar 300 meter ke pasar pon dan kalau mau naik Trans Jateng bisa juga cara seperti tadi, kalau mau keluar dari pintu timur juga bisa, tapi harus jalan hampir 1km ke arah pasar Manis. mau naik ojol atau taksol harus turun di pintu barat dimana sebagian orang tidak tau ada akses keluar sisi barat. dan angkot sekarang sudah tidak bisa diandalkan karena tidak adanya papan trayek yang jelas dan kadang sebagian driver menggetok tarif semau mereka sendiri.

  2. Pingback: Liburan Pertama Sebagai Mahasiswa Baru: Antara Lelah Kuliah dan Lega Menemukan Jati Diri - Temenan BIL Fest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top