Sebutir Penawar Ambyar yang Anti Mainstream

Minggu-minggu lalu. Tepatnya pada tanggal 12–18 Juni 2025, digelarnya acara besar-besaran tentang literasi di bumi Banyumas. Tak lain yaitu, event Banyumas International Literacy Festival atau disingkat menjadi BIL Fest. Ajang literasi terbesar di Banyumas ini, terselenggara di Hetero Space Banyumas.

Sudah barang tentu, event sebesar itu pastinya tidak bisa berjalan dengan lancar tanpa campur tangan, campur keringat, campur kaki, dan campur jerih payah dari orang-orang yang berbudi baik, bersemangat anti lemes, dan tanpa pamrih. Mengapa saya sebut demikian, karena teman-teman panitia di BIL Fest sifatnya relawan atau volunteer.

Namun, sekalipun sebutannya volunteer, tetapi integritas, kompetensi, dan kapabilitas serta tanggungjawabnya pada divisinya masing-masing, bagi saya (meski baru kali ini ikutan volunteer) layak untuk diacungi 4 jempol, 2 jempol tangan dan 2 jempol kaki. Tapi ngga perlu dipraktikkan juga, seketika. Kasihan kakinya jadi angkat-angkat, kan…

Di sisi lain, event tersebut juga cukup tergolong lama, karena memakan waktu 7 hari 7 malam. Dari pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB. Waktu yang cukup menghabiskan energi dan menguras keringat. Tapi dengan panitia yang full senyum, full bahagia, full bahu membahu, pada akhirnya event tersebut bisa berjalan dengan baik. Barangkali, disadari ataupun tidak teman-teman panitia yang sebelumnya belum kenal sama sekali, terus kemudian kenal dan berjibaku bersama-sama adalah pemantik dari api semangat yang membara di masing-masing volunteer. Bisa jadi, bertemu dan mendapatkan teman baru adalah satu hal yang menyenangkan.

Sesekali di sela-sela kerja kepanitiaan BIL Fest, saya mencoba (secara iseng-iseng dan samar-samar) bertanya kepada sesama panitia, tidak semuanya, hanya beberapa. Saya menanyakan ini, “Apa yang membuatmu tergerak mendaftar volunteer di event BIL Fest ini?” atau pertanyaan-pertanyaan yang senada dengan itu. Memang bukanlah pertanyaan yang berbobot dan jauh dari kata berkualitas. Hanya saja saya ingin tahu modus atau motivasi apa yang membuat mereka ikut andil dalam kemeriahan BIL Fest. Barangkali ada yang berniat hati cari jodoh, mungkin. Hehehe. . .

Ternyata ada beragam modus yang saya temu-jumpai, yang melatarbelakangi teman-teman berpartisipasi di event BIL Fest 2025. Di antaranya, ada yang mencari pengalaman, mencari teman, menambah relasi, bahkan ada juga yang tidak ada modus sama sekali. Mungkin akan menjadi panjang-lebar jika semuanya saya curahkan pada kesempatan kali ini. Tapi ada satu hal yang menarik bagi saya. Bahwa, ada di antara teman-teman panitia yang ternyata modus berkontribusi di BIL Fest adalah menyibukkan diri agar mudah melupakan seseorang. Dalam hal ini, orang tersebut tak lain sedang diterpa musibah ambyarrrr (baca: patah hati). Jadi kasihan juga saya mendengarnya. Heuheu…

Penawar Ambyar yang Anti Mainstream

Baginya, menyibukkan diri sendiri akan memudahkan untuk melupakan seseorang yang tega meninggalkannya. Syukur sekali kalau bisa menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif. Diputuskannya volunteer BIL Fest 2025 menjadi ajang pelampiasan perasaan. Bisa juga disebut sebuah kerja progresif untuk memulihkan hati yang terluka, meski tidak berdarah.

Bagi saya, keputusannya — dengan keikutsertaan sebagai volunteer BIL Fest 2025 — adalah suatu bentuk ide kreatif yang diejawantahkan dengan bersibuk ria demi tujuan mulia, yakni meminimalisir naik-turunnya kenangan yang cukup fluktuatif, meski intensitas naiknya lebih dominan. Syukur-syukur hati yang terluka bisa kembali sehat sentosa. Menurut saya, apa yang dilakukannya adalah semacam penawar ambyar yang anti mainstream. Dengan kata lain, volunteer BIL Fest menjadi sebutir obat patah hati yang berbeda dengan yang lainnya. Lebih-lebih, BIL Fest menyajikan banyak hal positif yang bisa mengobati, menumbuhkan, sekaligus menyegarkan hati, akal, dan budi pekerti.

Berhati-hatilah dengan cinta. Kalau kata J.S. Khairen “Cinta datang begitu cepat. Namun pergi terlalu lambat.” Yang tersisa dari cinta yang tak terbalas adalah kenangannya. Sementara cara kerja kenangan, tak ubahnya seperti yang saya sebut di atas. Oleh karena itu, jika kita tidak disibukkan dengan sesuatu. Ia akan timbul-tenggelam atau bahkan timbul terus-terusan sejauh diri kita masih saja termenung, ngalamaun, menyimak seksama playlist lagu Didi Kempot, Guyon Waton, dan Aftershine atau yang se-genre dengannya, ambyar… ambyar…

Sekadar info. Bagi teman-teman yang belum familiar dengan istilah ambyar. Sedikit akan saya coba jabarkan sependek pengetahuan saya. Ambyar adalah Bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Jawa. Ambyar secara etimologi adalah hancur, berantakan, dan cerai-berai atau arti yang seirama dengannya. Sedangkan secara terminologi, ambyar adalah suatu situasi dan kondisi tentang apapun yang hancur dan berantakan. Namun seiring berjalannya waktu, diksi ambyar sering digunakan untuk menggambarkan perasaan sedih, kecewa, atau patah hati yang mendalam.

Kurang lebih demikian yang baru saya pahami dari istilah ambyar. Memang sependek itu. Biasanya yang sudah jauh pengetahuannya adalah dia yang telah melampaui teori dan praktik. Jadi, mohon koreksinya di kolom komentar, jika saya salah. Karena mungkin, saya masih di fase teori, belum praktik.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top