Halte Secang dan Tragedi Manusia Kecil: Sebuah Refleksi dari Tulisan Manunggal K Wardaya

Photo: Arsip Rob Dickinson dari blog Manunggal K Wardaya

Cerita perjalanan BIL Fest kali ini tidak sengaja dipertemukan dengan nama Manunggal K Wardaya, seorang dosen dan pengarsip, terpantau jelas dari tulisannya di buku Nada Tjerita maupun ruang tamu tempat kami mengobrol. Kami mengobrol panjang lebar, hingga tak sengaja sampai pada cerita tentang halte kereta secang. Singkat cerita setelah pulang, beliau mengirimkan tautan tulisan. Pada kesempatan kali ini saya ingin merespon tulisan tersebut yang berjudul Perihal Halte Secang dan Kisah Tentang Seorang Tukang Roti Yang Malang.

Mari kita mulai, ketika kita membaca kisah Halte Secang dan tukang roti malang yang mati di tangan seorang kepala stasiun pada 1905, kita tidak hanya sedang membaca sepotong berita dari koran Bataviasche Nieuwsblaad. Kita sedang menyelami luka sejarah, luka yang tak pernah benar-benar sembuh karena ia ditorehkan oleh kuasa yang tak punya empati.

Halte Secang, sebuah titik kecil di peta Magelang, bukan sekadar pemberhentian kereta api. Ia adalah metafora dari kehidupan manusia kecil, yang terhenti, terinjak, dan dilupakan begitu saja oleh roda-roda sejarah yang digerakkan oleh kolonialisme dan birokrasi.

Tulisan Manunggal K Wardaya, dengan jeli menggambarkan nasib si tukang roti, mengajak kita untuk bertanya: apa makna kematian seorang manusia yang tak punya nama dalam catatan sejarah? Seorang koekjesverkooper (Penjual Kue), yang mungkin hanya ingin mencari sesuap nasi dengan menjajakan roti di peron Halte Secang, dihajar hingga mati oleh seorang stationschef (Kepala Stasiun) seorang figur otoritas, yang dalam konteks kolonial adalah perpanjangan tangan dari kekuasaan Eropa. Ini bukan sekadar kasus penganiayaan. Ini adalah cermin dari relasi kuasa yang memandang manusia kecil tak lebih dari debu di rel kereta api.

Kematian tukang roti itu bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan manifestasi dari struktur yang menegasikan eksistensi manusia. Ia mati bukan hanya karena pukulan dan tendangan, tetapi karena sistem yang menganggap nyawanya tak berharga. Johannes Benedictus van Heutz, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, atau Ratu Wilhelmina di istananya yang megah, tak pernah tahu nama tukang roti ini. Dan itulah inti dari tragedi ini: kematiannya adalah kematian yang sepi, kematian yang tak mengguncang singgasana kekuasaan, tetapi justru membuka pintu rezeki bagi seorang penjual roti baru yang menggantikannya. Sungguh ironi ketika nyawa tak dianggap oleh penguasa.

Tulisan ini juga mengingatkan pada alienasi manusia dalam sistem kolonial. Halte Secang, dengan kereta api yang datang dan pergi, adalah simbol dari modernitas yang diimpor oleh Belanda. Tapi modernitas itu tak pernah benar-benar merangkul manusia pribumi. Ia hanya memberikan ilusi kemajuan, sementara di peron-peronnya, nyawa seperti tukang roti itu bisa lenyap begitu saja tanpa jejak. Kita harus bertanya: apakah modernitas yang kita kejar hari ini juga tak sedang mengulang logika yang sama? Apakah kita, dalam kereta api globalisasi dan kapitalisme, masih menginjak-injak manusia kecil tanpa kita sadari?

Kisah tukang roti ini bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia adalah panggilan untuk kita berpikir kritis. Sejarah bukan hanya tentang raja-raja, gubernur, atau pahlawan besar. Sejarah adalah juga tentang tukang roti yang mati di Halte Secang, tentang manusia-manusia kecil yang dilupakan oleh catatan resmi, tapi hidup dalam luka kolektif kita. Kita harus menolak logika yang menganggap kematian mereka sebagai sesuatu yang “wajar” dalam roda sejarah. Kita harus memberi nama pada yang tak bernama, memberi suara pada yang dibungkam.

Semoga kisah tentang tukang roti, yang diangkat dari arsip yang ditemukan Manunggal K Wardaya jadi pengingat untuk event Banyumas International Literacy Festival agar menabur benih kesadaran, berpikir kritis serta ada kemungkinan alternatif sejarah lain tentang suatu peristiwa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top