
Kala Hijau Jadi Merah
Kala hijau jadi merah
Udara yang menyimpan amarah
Atmosfer yang kian merekah
Bara mengalir di bawah tanah,
Menggantikan air yang seolah punah
Kala hijau jadi merah
Siapa yang mengecatnya?
Siapa yang menikmatinya?
Siapa yang membiarkannya?
Siapa yang menderita karenanya?
Kala hijau jadi merah
Bahkan hak paling purba bagi manusia
Untuk bernafas bebas, direnggut paksa
Dari seberang, mulai tercium bau murka
Tapi pemilik rumah tebal muka
Tangerang, 2026
***
Berangkat
Bangun pagi, gosok gigi, tak usah mandi
Sarapan sesuap malas
Menenggak secangkir kantuk
pasang earphone, putar lagu
Sembari berjalan, menyanyi
“Mantra sihir, atau bahasa alien”
Mungkin itu yang mereka dengar
Aku menyanyi lagu Jepang
“Bodo amat” pikirku
“Daripada dengar suara knalpot laknat”
Tangerang, 2026
***
Knalpot Laknat
Meraung membelah sunyi
Bak suara monster di film fiksi
Kau geber gas sepenuh hati
Seolah konsermu dinanti tiap hari
Anjing menggonggong, kucing pun lari
Entah prestasi apa yang kau cari
Selain merusak kedamaian hari
Sampai hati mengundang tangisan bayi
Wahai kesatria knalpot laknat
Tidakkah kau bisa melihat?
Suara knalpotmu membuat telinga penat
Dasar keparat
Barangkali kau merasa gagah
Barangkali tak merasa bersalah
Padahal yang kudengar
Bahkan tak layak kusebut sampah
Teruslah meraung musisi jalanan
Pembawa konser tanpa undangan
Semoga kau peroleh penghargaan
Untuk dedikasimu merusak ketenangan
Tangerang, 2026
***
Knalpot Bijak
Meraung di tengah ramai
Saling saut knalpot bijak
Kau geber gas sepenuh hati
Konsermu dinantikan rakyat
Ketika anjing menjilat tuannya
Kabar buruk disulap baik
Rakyat menjerit, tuan tersenyum
Karena laporan palsu sang anjing
Wahai tuan pembuat kebijakan yang tak bijak
Tidakkah kaudengar raungan knalpot bijak?
Mereka menyuarakan hak rakyat
Dasar keparat
Barangkali tuan tak mendengar
Barangkali tuan tak melihat
Padahal raungan knalpot bijak
Terdengar sampai ujung dunia
Teruslah meraung knalpot bijak
Pembawa aspirasi dan suara rakyat
Semoga kau peroleh penghargaan
Atas dedikasimu menuntut keadilan
Tangerang, 2026
***
Khanif Nasrulloh Faizi, lahir di Banyumas tahun 2001.Saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta di Tangerang. Di sela kesibukannya, ia mengisi waktu luang dengan mendengarkan lagu dan sesekali menulis. Baginya, menulis menjadi salah satu cara menjaga kewarasan di tengah kondisi yang tidak menentu, dengan menuangkan pikiran, emosi, dan keresahan sehari – hari. Bisa disapa melalui Instagram: @khanif_nf.




