
Kali ini saya akan berbagi tulisan mengenai kebahagian yang ditularkan oleh Al-Ghazali melalui salah satu karya monumentalnya yaitu Kimyaus Sa’adah. Karya yang mengulas seputar kebahagiaan baik di dunia maupun di kehidupan selanjutnya, yakni kehidupan akhirat. Memanglah bukan kitab yang berjilid-jilid akan tetapi isi dalam kitab ini seumpama daging yang bergizi dan sangat mendesak untuk dikonsumsi. Lebih-lebih di era saat ini. Di mana banyak dari kita yang untuk merengkuh kebahagian saja perlu pontang-panting.
Jangan-jangan sejauh ini kita belum tahu sebenarnya apa itu kebahagiaan. Bisa jadi yang selama ini kita cari dan perjuangkan justru bukanlah kebahagiaan. Mungkin bisa pemuasan hasrat semata atau kesenangan semu atau kesenangan sesaat yang nirmakna.
Di era media sosial sekarang ini, cara kita melihat serta memaknai kebahagiaan acap kali blur atau bahkan ngawur. Hal itu bisa sangat mungkin terjadi. Kehidupan orang lain yang indah-indah dan wow, ketika itu semua ditimpakan kepada kita, belum tentu kita lantas bahagia. Yang kita lihat di sosial media sebenarnya hanyalah momentum-momentum enaknya saja. Pada dasarnya mereka juga punya ketidakenakan hidup yang mereka coba tutup-tutupi serapat mungkin. Karena salah satu sifat dasariahnya manusia adalah tak ingin terlihat jelek, buruk, susah, kalah dll. Manusia selalu ingin tampil sempurna, meskipun sejatinya sangat jauh dari kata sempurna.
Jadi, barangkali justru kita yang belum sepenuhnya tahu apa itu kebahagian. Mungkin juga wawasan kebahagiaan kita hanya itu-itu saja. Oleh karena itu, kita coba topup wawasan kebahagiaan kita yang dalam hal ini kita ambil dari tokoh islam yang seorang teolog, sufi, ahli fiqih, yang hidup di era zaman keemasan islam. Beliau bernama Imam Al-Ghazali. Dalam buku “Filsafat Kebahagiaan” disebutkan, “Menurut Zwemer, seorang orientalis Jerman, ada empat tokoh besar islam yang paling berpengaruh: Nabi Muhammad, Imam Bukhari, Imam Asy’ari, dan Imam Al-Ghazali.”
Menurut Al-Ghazali, langkah bahagia yang utama adalah pastikan dulu bahwa menurut kita apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang diridhoi oleh Allah. Jika kita melakukan sesuatu yang memang diridhoi oleh-Nya, maka hati kita menjadi tenang. Ketenangan jiwa adalah bentuk lain dari kebahagiaan. Karena dengan hati yang tenang kita mudah untuk melakukan aktifitas, tugas, maupun pekerjaan pekerjaan yang sedang kita lakoni.
Berbeda halnya ketika kita melakukan sesuatu yang pada dasarnya tidak diridhoi oleh-Nya. Umpamanya berdusta, mencuri, menyebar ujaran kebencian, menyebar hoax, meninggalkan salat, mendurhakai orang tua dll, pastinya jiwa kita tidak tenang. Ketidaktenangan jiwa menyebabkan kita tidak bahagia. Yang ada tak lain justru kegelisahan, merasa bersalah, gemrungsung, ketakutan, dll.
Sudah barang tentu apa yang diridhoi oleh-Nya adalah sesuatu yang merupakan perintahnya dan yang merupakan larangannya. Kita sebagai muslim, semoga mampu dan dimampukan untuk terus ada di jalan-Nya. Dengan cara menunaikan perintahnya dan menjauhi larangannya. Dengan demikian kita akan mudah mendapatkan ketenangan jiwa yang kemudian merupakan satu bentuk kebahagiaan. Jadi pada hakikatnya fasilitas untuk kita bahagia itu sudah disajikan olehnya. Dalam diri kita ini, sudah dibekali perangkat untuk bahagia. Tinggal kita mau mengaplikasikannya atau tidak.
Selanjutnya, langkah bahagia yang ditutorialkan oleh Al-Ghazali adalah mengenali diri sendiri. Saat kita benar-benar bisa mengenali diri kita sendiri, kebahagiaan adalah keniscayaan. Kebahagiaan bukanlah suatu yang jauh yang sulit digapai, ketika kita sudah kenal sepenuhnya dengan diri kita sendiri. Al-Ghazali menyebut, “Sesiapa mengenal dirinya, dialah yang akan merasakan kebahagiaan sejati”. Selain itu ada ujar-ujar juga yang menyebutkan “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”
Saat kita mengenali diri kita sendiri, kita mendapat dua benefit sekaligus. Pertama, kita mengenal Tuhan. Kedua, kita bahagia. Kita fokus ke yang kedua. Mengapa dengan kita mengenali diri, kita bisa bahagia? Salah satu jawaban hematnya karena kita jadi tahu siapa sebenarnya diri kita, kita ini posisinya sebagai apa, kita ini maunya apa. Umpamanya, kamu mencoba mengikuti makanan-makanan temenmu yang biasanya diunggah di sosial media, karena kamu merasa ingin keren dan ngga mau ketinggalan, kamu ikut-ikutan memakannya dan mengunggahnya di sosial media. Setelah kamu membeli (yang ternyata mahal juga) dan memakannya, kamu merasa ingin muntah atau jeleh dengan makanan tersebut. Ternyata kamu ngga suka makanan itu. Bagimu, ternyata lebih enak mie ayam 5000-an yang dijual keliling itu dengan gerobag warna biru. Walhasil, kamu tak menemukan kebahagiaan yang kamu kira akan menemukannya di saat kamu mampu membeli dan memakannya kemudian mengunggahnya di sosial media.
Akan lain cerita jika kamu tahu apa yang kamu suka. Tentu kamu akan menemukan kebahagiaan. Ketika kamu tahu posisimu, kamu juga akan bahagia. Umpamanya, posisimu adalah mahasiswa semester akhir, dengan begitu kamu perlu melakukan penelitian, mengerjakan skirpsi, dan wisuda tepat waktu. Jika kamu tidak sadar posisi, semisal kamu mahasiswa semester akhir tapi kamu masih ngalor-ngidul ngurusin organisasi atau nongkrong-nongkrong yang unfaedah, tugas akhirmu ngga akan selesai-selesai. Jika begitu wisudamu pun akan tertunda. Jika tertunda kamu akan merasa tidak bahagia. Karena itu, sadar posisi itu penting dan vital demi keberlangsungan kebahagiaan.
Mungkin itu saja dulu yang bisa saya bagikan. Sekurang-kurangnya kita dapati dua langkah strategis dari Al-Ghazali untuk meraup kebahagiaan. Pertama, dengan melakukan sesuatu yang diridhoi-Nya. Kedua, dengan mengenali diri kita sendiri. Semoga tulisan ini bermanfaat dan mari sama-sama kita aplikasikan dalam keseharian.
Rachmat Sumpeno. Setelah lulus kuliah tahun 2024 dan pernah menjadi guru madrasah, kini Ia bekerja apa saja. Sambil bersih-bersih mushola.




