
Matahari pagi baru saja muncul ketika langkah-langkah kecil mulai turun dari tempat tidur. Wajahnya masih menyimpan sisa kantuk, namun ada sorot mata yang berbeda pagi itu. Sorot mata penuh semangat. Dengan langkah kecilnya, ia berlari kecil menghampiri kami, seolah ingin memastikan bahwa hari yang telah lama ia tunggu akhirnya tiba.
Hari itu adalah hari pertamanya berangkat ke sekolah. Usianya baru empat tahun setengah. Usia ketika dunia masih dipenuhi rasa ingin tahu, ketika setiap hal baru adalah petualangan yang menakjubkan, dan ketika pelukan orang tua masih menjadi tempat paling aman untuk pulang.
Beberapa hari sebelumnya, antusiasmenya sudah begitu terasa. Hampir setiap sore ia membuka kembali perlengkapan sekolahnya. Tas berwarna merah muda menjadi benda favoritnya. Ia berkali-kali mencoba mengenakannya. Benda favorit lainya adalah tempat pensil berwarna ungu, yang ia isi dengan pensil. Botol minum bergambar karakter favoritnya pun tak lupa ia letakkan di dalam tas.
Melihat tingkahnya, tanpa sadar senyum kecil selalu menghiasi wajah kami. Kami ikut larut dalam kebahagiaannya. Barangkali beginilah rasanya menjadi orang tua. Menyaksikan setiap langkah kecil anak terasa seperti menyaksikan lembar demi lembar kisah hidup yang mulai ditulis.
Namun, di balik senyum itu, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada perasaan yang mengganjal. Bukan rasa takut. Bukan pula rasa cemas yang berlebihan. Apalagi rasa khawatir bahwa ia tidak mampu. Yang kami rasakan justru sesuatu yang lebih halus yaitu tentang belajar melepaskan.
Empat tahun terakhir, hampir setiap harinya ia berada dalam jangkauan mata kami. Kami tahu kapan ia lapar, kapan ia mengantuk, kapan ia sedih hanya dari perubahan ekspresi kecil di wajahnya. Kami tahu bagaimana cara menenangkannya saat menangis, bagaimana cara membuatnya tertawa kembali, dan bagaimana memeluknya ketika ia merasa dunia tidak sedang berpihak padanya.
Kini, untuk pertama kalinya, kami harus mempercayakan sebagian dari hari-harinya kepada orang lain. Kami menitipkan tubuh kecil yang selama ini kami jaga. Kami menitipkan hati kecil yang masih belajar memahami dunia. Kami menitipkan rasa ingin tahunya, tangisnya, tawanya, bahkan mungkin ketakutannya saat menghadapi hal-hal yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Kami percaya kepada guru-gurunya. Kami percaya bahwa mereka bukan sekadar mengajarkan huruf, angka, atau lagu-lagu anak. Lebih dari itu, kami berharap mereka menjadi tangan-tangan yang lembut ketika kami tidak berada di sisinya. Menjadi mata yang memperhatikan saat ia membutuhkan bantuan. Menjadi telinga yang mau mendengar cerita-cerita sederhananya. Dan menjadi hati yang mampu memahami bahwa setiap anak datang dengan keunikan dan cara belajarnya masing-masing.
Kami juga berharap lingkungan sekolah menjadi tempat yang ramah baginya. Tempat di mana ia belajar mengucapkan salam kepada teman-temannya, belajar menunggu giliran, belajar berbagi mainan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan mengucapkan terima kasih atas setiap kebaikan yang diterimanya. Karena kami yakin bahwa sejatinya sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung, malainkan ruang pertama di luar rumah yang akan membentuk caranya memandang dunia.
Saat akhirnya ia mengenakan seragamnya pagi itu, ia berdiri di depan cermin dengan senyum yang begitu lebar. Dan diam-diam kami berusaha menahan haru yang mulai memenuhi dada.
Tak terasa dia berjibaku dengan dunia barunya telah sampai bulan ke dua. Masih ada rasa khawatir, namun rasa itu selalu takluk ketia dia bercerita tentang teman, guru dan kegiatannya. Tiba-tiba rasa puas memenuhi hati kami. Dia menemukan tempat yang dapat membantunya untuk bertumbuh.
Di setiap langkahnya, ada harapan yang terus kami titipkan. Harapan tentang, dia yang akan memahami bahwa belajar bukan tentang menghafal, bukan tentang melafalkan, bukan juga tentang menjadi yang terbaik, tapi tentang bagaimana menjadi manusia seutuhnya.
Firnasrudin Rahim adalah penulis yang berasal dari Desa Wapaejaya Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Selain membaca buku ia gemar berburu buku promo di toko buku kesayangan, Dielaktika Bookshop. Silakan disapa melalui Instagram @firnas_id.




