Surabaya Pulang Kerja dan Puisi Lainnya

Tunjungan dan Teman-teman Barunya yang Asyik Sendiri

Tunjungan yang tua
berkenalan dengan anak-anak muda
yang tak pernah bertanya
berapa umurnya?

Tunjungan yang tua
duduk mendengar anak-anak muda
yang terus berbicara
tak menghiraukannya

Surabaya, 2025

***

Penyair

Ya ampun, si penyair nge-thrift
memunguti puisi-puisinya
yang dulu dimuat di Jawa Pos Sabtu
kini dijual kilo di Jalan Semarang

2025

***

Patung Karapan Sapi

Sapi-sapi kekar berlari
mengejar Surabaya
yang tak mau berhenti

Pak Bhuto mencambuk
pantat sapi-sapi
menuju pos polisi

menabrak mereka
hingga luluh lantak

begitulah
angan bayangku
setelah ditilang polisi
di siang Surabaya
yang tak berhenti berlari

2025

***

Penyair Sampah

TPS Keputih
melatih puisinya
supaya tak tutup hidung
di depan pemulung,
lalu memuntahkannya
jadi penyair
yang murung

TPA Benowo
menggembleng puisinya
supaya tak lembek
menantang sengsara,
lalu mengolahnya
jadi penyair
yang beraroma.

Surabaya, 2025

***

Surabaya Pulang Kerja
sambil mendengarkan Suara Surabaya

Surabaya menyetelmu
untuk kenalan dengannya
tiap budhal kerja,
lalu memaksamu melupakannya
tiap pulang kerja.

kau sendiri dalam macet
bersama orang-orang
yang juga sendiri

menuju jumpa istrimu
yang mahir menjahit utang
jadi makan malam–
untuk kausantap
sambil men(/r)atap
tanggalan.

di macet yang sepi
hatimu bersiap
berangkat lagi esok pagi

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top