Hati yang Tak Dikehendaki

Angin malam meremukkan setiap persendian dinding kamar yang rapuh. Taring tajamnya menggigit apapun yang dia lewati. Mencoba mengusik seorang wanita muda yang tampak memeluk kaki di sudut ranjang. Ia menggigil sendirian, hanya berteman cahaya lampu ublik. Selalu seperti itu, terlebih ketika kelam mulai jatuh. Kesepian ini terasa lebih menyakitkan dibanding dinginnya musim penghujan.

Padahal ia tidak menjanda, seperti kebanyakan wanita lain di desanya. Jelas ia telah bersuami, seorang blantik baru dengan panggilan Mas Kus. Selayaknya blantik baru, tentu perlu kerja lebih keras guna mencari rejeki. Mas Kus belum memiliki pelanggan tetap, ia masih harus memenangkan hati pembelinya. Naimah sadar betul hal itu, ia rela menunggu jika sewaktu-waktu Mas Kus pergi bekerja. Ya walaupun sambil ngedumel dan sambat. Setidaknya uang hasil berjualan sapi bisa menjadi pelipur lara. Saat hatinya tergores akibat mulut-mulut lamis tetangga, seperti yang terjadi pagi ini,

“Punya istri kok ditinggal terus, janda apa bagaimana?” ejek Jumaiyah saat mereka bertemu untuk membeli sayur. Naimah kaget mendengarnya, tidak sangka mulut pemilik warung tepi sungai itu begitu sadis.

“Iya lho Mbak Imah, nanti kapan mau punya anak?” Sauni ikut menimpali seraya tertawa, janda baru tiga bulan itu ditalak suaminya karena terpergok selingkuh. 

Naimah sekuat tenaga meremas sawi dalam genggaman. Tawa mereka pecah, tukang sayur pun ikut menginjak harga diri Naimah. Sejak saat itu ia malas belanja bersama mereka, lebih baik pergi ke warung Mbok Lin. Memang lebih mahal, selain itu Naimah juga risih karena sering kali mendapat siulan pemuda-pemuda iseng yang melihatnya. Ia sudah tidak tahan dengan kelakuan orang-orang kampung. Naimah sebetulnya berasal dari keluarga yang cukup, pendidikannya juga lumayan tinggi. Tamatan SMA ini jelas tidak mau dibandingkan dengan janda-janda desa lain. Mereka kebanyakan hanyalah keluaran SD, satu-dua orang yang SMP. Itulah alasan Mas Kus sudi meminangnya. Pria yang beda usia 11 tahun dengannya itu ingin istri pandai. 

“Mas Kus, saya kepingin punya anak,” ucap Naimah suatu ketika saat suaminya pulang, air matanya mengalir ke samping. 

“Sabar ya dik, Mas juga kepingin.” Mas Kus mengelus kepala istrinya. Setelah hampir dua tahun pernikahan mereka belum memiliki momongan. 

Mas Kus lalu mengecup lembut bibir Naimah yang masih basah sebab air mata. Keduanya berpagutan mesra, walau baru sampai rumah, Mas Kus masih bertenaga. Mereka bergumul dalam remangnya cahaya ublik. Tidak terasa sudah lepas semua pakaian yang semula melekat. Namun pikiran Naimah menerawang jauh. Apa sebetulnya yang membuat ia sampai kini belum hamil? 

Ia merasa belum menjadi wanita seutuhnya. Walau secara ekonomi dan pendidikan lebih baik dari yang lain, orang tetap melihat kekurangannya. Kenyataannya Naimah memang belum memiliki anak, belum menjadi seorang ibu. Terlebih belakangan ini mertuanya mulai sering bertanya. Saat tahu perut Naimah belum terisi, mereka tampak kecewa. Sang ibu mertua mulai  membanding-bandingkannya, Naimah lama-lama tersinggung.

Diam-diam ia menaruh iri pada si mulut lamis Jumaiyah, wanita empat puluh tahunan itu sudah empat kali kawin-cerai. Hebatnya Jumaiyah, tiap bersuami ia pasti hamil lagi. Terakhir adalah mandor yang sedang membangun jembatan di dekat warungnya. Saban hari sang mandor mampir ke warung untuk ngaso, niatnya mendekati Jumaiyah sudah terbaca. Meski pernikahan itu tak bertahan lama, Jumaiyah sendiri tak masalah. Toh ia mendapatkan untung juga. Warung Jumaiyah modalnya bertambah, ia jadi janda kaya yang tak perlu lagi pusing memikirkan uang bulanan anak-anaknya. Semua mantan suaminya memberikan jatah.  

Pun cerita Sauni, sejak gadis ia sudah doyan tebar jala sana-sini, sebelum akhirnya dinikahi seorang petani tebu. Ikatan suci tidak membuat Sauni sadar diri. Apalagi ia juga hanya dinikahi siri. Kebiasaan bermain hati terungkap di saat suaminya pulang cepat dari kebun. Sauni sedang berasyik-masyuk dengan seorang laki-laki di kamar. Suaminya yang memergoki perselingkuhan itu, segera mencabut celurit. Jika Sauni telat menahan ayunan tangan suaminya, darah pasti sudah berserakan. Sang suami sempat meninggalkan rumah, namun memutuskan kembali. Hatinya luluh saat mengetahui perempuan genit itu sedang hamil. Entah dari siapa janin yang ada di kandungannya.

Melihat realita yang ada, Naimah pantas kecewa. Apa kurangnya ia? Tergolong cantik, tubuhnya tanpa cela. Kulitnya kinyis-kinyis, bedaknya paling mahal di pasar. Ia rajin merawat diri luar dalam. Ditambah lagi Naimah tidak sudi untuk mandi di sungai, sudah disediakan sumur agar ia tidak mandi bercampur tahi tetangga. Ataukah mungkin masalah ini bukan bersumber padanya? Bagaimana jika yang loyo adalah suaminya? Pekerjaan blantik kadang menyita waktu tidak sebentar. Terutama menjelang hari raya, Mas Kus bisa berhari-hari tidak pulang. 

“Dik, besok Mas mau ke pasar hewan,” Mas Kus membuka pembicaraan saat makan. Ada pesanan lima ekor sapi untuk seorang Haji di kota sebelah. 

“Lho, apa Mas nggak capek?” 

“Begini ini yang bikin kita nggak punya anak!” Naimah sebetulnya kurang setuju, ia khawatir Mas Kus kelelahan. Selain itu ia mulai khawatir, aktivitas inilah yang membuat Mas Kus loyo di ranjang. 

“Haji Junaidi perlu sapi dik, Mas juga diminta sediakan dua ekor kuda.” Mas Kus masih berusaha meyakinkan istrinya. Akan tetapi Naimah malah bungkam. Bibirnya menutup rapat-rapat, biasa ia lakukan ketika sedang marah. 

Keesokan hari, Mas Kus berpamitan untuk berdagang ke pasar hewan. Naimah masih merajuk, ia enggan memberikan pipinya dicium. Mas Kus hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan sang istri. Ia  pergi untuk beberapa hari, paling cepat seminggu sampai semua hewan terjual. 

Sepeninggal Mas Kus, Naimah hanya mengurung diri di kamar. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu dalam kesendirian kembali. Sehabis Isya, Naimah bermaksud segera tidur. Saat melewati cermin, ia melihat pantulan dirinya. Naimah merasa masih pantas dicintai lebih dari ini.  

Gelap malam menyeruak masuk lewat celah pintu, suara jangkrik terdengar makin nyaring. Kebetulan beberapa meter di depan rumah memang barongan. Gesekan bambu akibat terjangan angin menimbulkan bunyi, kriek, kriek. Naimah melamun di ranjang, terbesit dalam hatinya, 

“Gusti tidak adil!” Ia menunggu rumah ini berisik oleh tangisan bayi. Apapun keadaannya, ia ingin sekali punya anak. Naimah lalu terlelap dalam kesunyian.

Saat pulas itulah Naimah dikejutkan suara tok, tok, tok, pada pintu depan. Ia terbangun, siapa gerangan malam-malam begini bertamu. 

“Siapa?” Naimah bertanya dari dalam, tidak ada sahutan. Beberapa kali Naimah mengulangi pertanyaan, tetap tidak ada jawaban. Ia memberanikan diri mengintip sosok tersebut, sepertinya ia kenal. Itu Mas Kus, suaminya. 

“Mas Kus, kok sudah pulang?” tanyanya, seraya membukakan pintu. Mas Kus hanya diam mengangguk, ia berjalan ke arah kamar. Naimah membuntuti, sang suami lalu duduk di ranjang membelakanginya.

“Kok cepat Mas, sudah terjual semua?” lagi-lagi Mas Kus hanya mengangguk, ia lalu membuka kemejanya dan berbaring di ranjang. Naimah sebetulnya ingin meminta uang hasil jualan, tapi diurungkan. Ia menawari Mas Kus untuk makan terlebih dulu, hanya saja dibalas dengan gelengan kepala tanpa menoleh. 

Naimah tak tahu harus berbuat apa, ia memutuskan untuk kembali tidur. Dalam tidur, Naimah merasa ada yang sedang menaiki tubuhnya. Ketika membuka mata, ia melihat Mas Kus sedang mengeluarkan alat kelamin. Tanpa meminta persetujuan, ia memaksa Naimah melayaninya. Naimah yang sempat kaget mau tidak mau langsung membuka celana. Kejantanan Mas Kus menyeruak, entah kerasukan apa, ia bercinta dengan sangat perkasa. Naimah sampai terengah-engah dibuatnya. Hampir tengah malam pergumulan itu selesai, Mas Kus langsung tidur kembali tanpa mengeluarkan satu kata pun. Karena terlalu capek, Naimah juga ikut tertidur. 

Paginya, Naimah tidak menemukan keberadaan Mas Kus. Ranjang sebelah sudah kosong, dilihat seisi rumah juga nihil. Apakah ke ladang? Biasanya jika sedang tidak ke pasar hewan, Mas Kus memang memilih ke ladang. Hingga malam tiba Mas Kus tetap tidak muncul, Naimah makin khawatir. Tapi kemudian ia kembali dikejutkan ketukan pintu depan, Mas Kus pulang. Ditanya dari mana, ia kembali bungkam. 

Dan seperti kemarin malam, Mas Kus memaksa bercinta dengan sang istri. Kali ini lebih ganas, Naimah hampir tidak bisa mengimbangi. Setelah selesai, ia memalingkan wajah untuk tidur. Kemudian bisa ditebak, pagi harinya ia kembali menghilang. Kejadian ini terus berulang sampai hari ketiga. Pada malam hari keempat, Naimah yang sudah tidak sabar dengan kelakuan sang suami menolak untuk diajak ke ranjang.

“Mas, njenengan ini kenapa sih?” tanya Naimah cukup tegas,

“Sudah tiga hari seperti ini, dan selalu diam!” ia terus mendesak Mas Kus yang hanya terpaku melihatnya. Dalam keremangan malam, Naimah melihat wajah suaminya tampak berbeda. Ada goresan tipis di bawah kelopak matanya. Juga bulu-bulu halus di sepanjang jambang. 

“Sekarang aku tanya, uang hasil jual hewan mana?” tanpa mengeluarkan suara, Mas Kus menunjuk lemari di belakang Naimah. Naimah pergi untuk membuka dan ia temukan uang dalam jumlah banyak. Ia kaget tapi juga senang, lalu kembali ke ranjang. Naimah memperbolehkan suaminya jika ingin melakukan kembali, tapi kali ini tidak boleh diam saja.

“Iya.” Satu kata akhirnya keluar dari mulut Mas Kus. Kali ini ia mulai memagut bibir Naimah, sangat lembut. Lalu menidurkan sang istri perlahan di ranjang. Semua ia lakukan dengan sangat sopan tanpa paksaan. Naimah bahagia, sang suami memperlakukannya sangat istimewa. Kamar temaram itu menjadi saksi bagaimana Naimah menyerahkan diri seutuhnya. Ia tidak peduli lagi desahan yang mungkin akan terdengar tetangga. Malam itu mereka lalui penuh kehangatan.

Keesokannya, Mas Kus kembali tak terlihat. Sayangnya untuk kali ini ia tidak kembali ke rumah, sampai hari ketujuh. Naimah gusar tidak terkira, tapi tak tahu harus meminta bantuan siapa. Ia takut jika kabar ini diketahui khalayak ramai, ada orang jahat yang mengetahui bahwa ia sedang sendiri di rumah. Terlebih Naimah dan Mas Kus tinggal jauh dari saudara. 

Harapan Naimah untuk mengetahui kabar sang suami terwujud. Malam hari Mas Kus pulang. Ia tampak sangat keletihan, dan mulai mengomel karena Haji Junaidi yang memesan sapi dan kuda telat mengambil hewannya.

“Untung aja Mas kasih harga lebih, lumayan hasilnya dik.” Naimah yang mendengar itu semua hanya membeku. Bukankah Mas Kus sudah pulang sejak hari pertama? uang hasil menjual hewan juga sudah ada di lemari. Naimah cepat-cepat lari ke kamar, ia membuka lemari tergesa-gesa. Jantungnya hampir lepas saat melihat isi lemarinya dipenuhi dedaunan busuk. Wanita itu terduduk di ranjang, Mas Kus menghampirinya bingung. 

“Kamu kenapa Mah?” Mas Kus menatapnya penuh perhatian. Naimah menceritakan semuanya, sejak Mas Kus pulang hingga sekarang. Mas Kus mengernyitkan dahi, ia pikir sang istri sedang mengigau. Mas Kus tegas berkata ia baru saja sampai rumah. Naimah masih ngotot dengan keyakinannya, mereka berdua berselisih paham. Mas Kus juga mulai curiga, jangan-jangan Naimah mengarang cerita. Bagaimana mungkin Naimah bertemu dengannya jika ia masih berada di pasar hewan? Naimah pasti selingkuh. 

Keduanya bertengkar makin hebat. Tidak ada yang mau mengalah, sama-sama keras kepala. Naimah yakin sekali Mas Kus sudah pulang selama beberapa hari. Sedangkan sang suami berani sumpah belum sekalipun kembali ke rumah. 

Tidak lama kemudian, Naimah terlambat datang bulan, ia juga mual-mual. Karena sedang bertengkar, Naimah memberanikan diri pergi sendirian ke dukun beranak untuk menanyakan kondisinya. Mbah Mur sudah terkenal sebagai dukun beranak langganan orang desa. Nenek berusia 73 tahun itu menyambut pasien barunya dengan ramah. Ia mulai memeriksa kondisi Naimah, ya, wanita muda itu mengandung. Naimah terharu, setelah sekian lama akhirnya ia akan jadi ibu. Tapi mendadak Mbah Mur memelototinya, sambil meraba perut Naimah.

“Kamu dari mana nduk?” Mbah Mur bertanya dengan suara berat. Seakan tahu maksud dari Mbah Mur, Naimah hanya sanggup menundukkan kepala.

Cah ayu, ini bukan manusia.” Naimah hampir pingsan mendengar hal itu. Ia mulai menangis, Mbah Mur memeluknya sambil membisikkan beberapa kalimat.

Sepulang dari rumah Mbah Mur, Mas Kus telah menunggunya. Ia menyeret Naimah ke dalam rumah, tampaknya ia mendengar dari tetangga jika istrinya itu datang ke tempat dukun beranak.

“Aku hamil Mas.” Ucapan Naimah itu membakar emosi Mas Kus, sudah berminggu-minggu ia tidak menggauli sang istri. Bahkan sejak kejadian terakhir kali ia berjualan di pasar hewan. Bisa-bisanya sekarang sang istri hamil. Tanpa memperhitungkan apapun, Mas Kus melayangkan tangannya ke pipi Naimah. Ini pertama kali ia bertindak kasar. Selanjutnya ia mengambil rokok dan baju, lalu pergi. Naimah hanya bisa memegangi bekas tamparan yang memerah. Anehnya, Naimah tidak gusar sedikit pun, dalam sudut hati kecilnya ia tetap bahagia. Impiannya menimang putra sudah ada di pelupuk mata. 

Hampir tengah malam ia terbangun saat suara ketukan kembali muncul. Naimah tidak curiga, ia membuka pintu saat “Mas Kus” hadir kembali. Naimah dibawa ke ranjang, “Mas Kus” terdiam sejenak sebelum melucuti semua pakaian. Naimah teringat pesan Mbah Mur, ia dilarang melihat pada alat kelamin. Pandangannya mengarah sedikit ke atas. Benar saja, makhluk itu tidak memiliki pusar. Naimah segera mengeluarkan daun bidara yang ia sembunyikan di bawah bantal. Persis seperti kata Mbah Mur, makhluk itu tampak marah lalu lenyap. 

“Kita menyebutnya Gandharwa, atau Genderuwo nduk,” Mbah Mur menjelaskan nama makhluk tersebut,

“Ia suka sama kamu, rumahnya di barongan depan.” Saat itu asal-usul sang makhluk diungkap Mbah Mur, ia memberikan nasihat untuk mengusir Genderuwo itu menggunakan daun bidara.

Sepeninggal mahluk itu, Naimah kini tenang. Hanya tidak lama, orang-orang desa mendengar desas-desus Naimah hamil. Mereka mulai menyebarluaskan gosip ia selingkuh. Sebab sang suami jarang sekali di rumah. Suatu ketika Mas Kus pulang, ia membawa berita bahwa secara resmi menjatuhkan talak. Naimah tidak lagi peduli, yang paling penting ia bahagia karena hamil. Lelaki bisa datang dan pergi. Tetapi, kesempatan untuk jadi wanita sepenuhnya hanya kali ini. 

Malam hari Naimah menyelinap ke luar rumah. Ia memandang ke arah barongan di depannya. Angin semilir mengibas rambut. Bau busuk tercium hidung Naimah, tatapannya berhenti pada satu titik. Sosok Genderuwo yang menyerupai Mas Kus telah menunggu di sana. Sambil mengelus perutnya, Naimah tanpa ragu membawa dua hati masuk ke barongan itu. Hatinya, dan bayinya yang entah berbentuk seperti apa. Yang jelas, ia sayang.

Keterangan:
Blantik: Penjual Hewan (Maklar)
Barongan: Hutan Bambu

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top