
Aku adalah Tomi, dan ini adalah catatan mimpiku. Aku sendiri tidak begitu sering mengingat mimpi, apalagi bisa membayangkan imajinasi. Aku mengidap Aphantasia dan Anauralia. Pada suatu hari, di ruang 7, jam untuk pelajaran Bimbingan Konseling. Bu Ika, Guru BK, menyuruh kami yang saat itu sedang lesu setelah pelajaran Informatika. Terkait Hexadecimal. Dengan pembuka:
“Cobalah bayangkan Apel” oke, mudah. Apel. Aku tahu bentuknya, aku tahu warnanya merah, dagingnya kekuningan, dan rasanya agak asam dan manis. “Apa yang kalian lihat?” Bu Ika berkata, melihat berbagai reaksi muridnya. Dari yang memegang kepala dengan mata melihat ke pojok ruangan. Hingga mereka yang penasaran arah dari perintah Guru. “Sebagian dari orang-orang pasti bisa membayangkan bentuk dan warna umumnya walau agak kabur, tapi tahu gak sih? Kalau ada juga yang bisa melihat Apel itu seakan-akan betul terlihat di depan mata. Membayangkan teksturnya, beratnya, bahkan memutar Apel dengan mudah, dan mengatur pencahayaannya. Ya, kayak lagi ngeliat film di bioskop, bedanya ini cuman bermodalkan kepala, dan sedikit imajinasi. Itulah yang namanya Hyperphantasia.”
Seketika, sekelas kami mengeluarkan suara yang sama kagetnya. ‘Ada orang yang kayak gitu?’ ‘Aku apelnya agak kabur sih’ ‘Kayak ngeliat film? Keren dong’ Suara-suara mereka mengisi ruangan, di saat aku terheran-heran.
“Nah, dari itu. Kita semua sebenernya ada spektrum soal ini, ada yang BLAS nggak bisa ngebayangin gambar apa-apa. Ada yang sedikit bisa, tapi samar, nggak jelas, dan nggak konsisten. Mayoritas dari kita ada di tengah-tengah. Pada tingkat kejelasan sedang, melihat objek, tetapi gambar tersebut nggak sejelas atau setajam penglihatan nyata. Dan untuk yang Hyperphantasia, ada di ujung tinggi, 3% populasi. Sementara kebalikannya: Aphantasia. Saat diminta membayangkan sebuah apel merah, mereka mungkin tahu deskripsinya: merah, bulat, buah. Tapi nggak bisa ‘liat’ gambar tersebut di pikiran mereka. Gitu. Biasanya sih sepaket sama Anauralia, yang artinya nggak ada Suara Batin juga.”
Secepat itupun Bu Ika menjelaskan bahwa visualisasi pikiran orang-orang itu bagai spektrum, ada yang kuat dan ada yang lemah. Rata-rata orang cukup bisa membayangkan kasarnya bentuk apel tersebut, seperti gambar yang dilihat dari belakang mata. Namun itulah yang membuatku agak aneh, aku tidak bisa melihat apa-apa. Secara konseptual, aku tahu betul Apel itu bagaimana. “Ada nggak nih yang punya Hyperphantasia?” Bu Ika ucapkan dengan nada bertanya. Melirik ke arahku, sebagaimana yang lain.
“…Kayaknya saya nggak deh, bu. Kalau ditanya bisa ngebayangin, saya bisa. Tau Apel itu gimana, tapi kalau ngelihat bener-bener bentukannya… kayaknya nggak deh.” Kujelaskan, yang membuat mereka bertukar tatap kebingungan. ‘Dia yang menang lomba cerpen tahun kemarin loh’ ‘Eh iya, aku aja sering liat tulisannya dipajang di mading, kok bisa ya?’
Aku pun menanyakan hal tersebut secara tersirat di kepalaku, tanpa suara, tanpa gambaran. Alien rasanya, pada waktu itu. Menjadi panutan jurusan bahasa, apalagi soal prosa. Tapi bahkan nggak bisa ngebayangin bentuk Apel di atas kepala. Tetapi anehnya, walau dunia di dalam diriku hampa dan sunyi. Aku selalu bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk merakit dunia “imajinasi”-ku dengan berbagai konsep. Baik abstrak maupun konkret, secara deskriptif.
Seakan citra imaji dan auditifku, hilang. Menjadi bayaran dari harga yang kupilih sebelum lahir. Tapi tetap saja, rasanya seperti mengkhianati diri sendiri. “Kamu tuh ya Tom, imajinasimu gak ada tanding, kalo udah ngerancang dunia. Dari konstelasi, hingga pola daun pun kau pikirkan!” Seperti arsitek yang tahu menahu kerangka bangunan, konsep dari dalam hingga luarnya, sampai ke material yang dibutuhkan. Tanpa perlu melihat wujud aslinya. Kurang lebih itulah gambarannya sekarang, melihat kebelakang. Bermodalkan tulisan tanganku yang tak lebih bagus dari ceker ayam sedari SD. Hingga terbiasa mengetik 10 jari dengan keyboard laptop dari SMP hingga sekarang. Kini aku sudah mulai merakit komputer pribadi, menjelang umur 17. Kurang lebih 16 hari dari sekarang.
Tapi begitulah, pada malam akhir Januari yang sedang diterpa angin barat dan hujan secara konstan. Aku habiskan susu yang harapannya menambah beberapa centimeter ketinggian badanku. Mematuk saklar lampu. Lalu tombol power laptopku itu, usai mengetik esai ‘Akal Imitasi, Air, & Lingkungan.’ Lelap sudah badanku berbaring di kasur yang tidak begitu empuk, namun cukup untuk menerima punggung yang sudah seperti orang tua. Mataku terpejam, masuk kepadanya keheningan yang sudah biasa aku rasakan. Mendengarkan ketukan air hujan yang deras, menjadi white-noise pembawa tidurku.
Terhanyut pikiranku, menuju tempat yang berada di ambang hidup dan mati. Aku terbangun. Bukan di kasur. Tetapi di lantai masjid, memandangi langit-langit putih bangunan suci itu. Aku melihat berjejer banyaknya lampu yang memancarkan cahaya dari listrik yang mengaliri mereka. Meninggalkan jejak cahaya, ketika aku melihat ke sekitar. Aku terlentang rata di atas lantai, pagi buta yang terasa betul dingin rasanya. Aku tidak pernah bermimpi, maupun mampu mengkhayal setara melihat bioskop, selama 16 tahun hidup di dunia ini.
Aku tampaknya ‘terdampar’ di masjid terdekat yang biasa ku bersubuh dengan warga yang lain. Di situ aku terdiam setelah melihat banyaknya lampu yang terhitung di belakang kepala: 16 buah. Cerah menyala, statis, dan steril. Seketika itu juga. Kilatan petir tanpa suara memenuhi ruangan, menghilangkan putih atap persegi. Hampa seperti angkasa. Dan yang tersisa dari dunia hanyalah enam belas deretan benda langit; menyala-nyala, memanggang badan khayalanku yang tergantung di angkasa.
Aku dibakar, juga dikuliti oleh mata yang biasa menuntun hari. Di tempat yang tidak sesunyi kepalaku dalam melihat adegan yang begitu nyata. Suaka tanpa asa di antara gugus enam belas bintang yang bertetangga. Dengung telinga, oleh jerit otak yang berusaha mengisi hati yang terbiasa kosong ini. Seluruh bulu kuduk tiada hanya berdiri, namun pergi dari tubuh ini. Jauh dari bayangan awalku, panas paparan mereka berhenti menggangguku. Bahkan menyumbang energi, bagaikan bunga yang hidup dari tatapannya.
Enam belas, angka yang muncul seketika saat aku memimpikannya. Enam belas Matahari yang merentang berbaris rapi, seperti ditata pujangga yang lebih nyata. Seperti mereka yang sudah berlatih Peraturan Baris-Berbaris, membentuk persegi sempurna, terlatih untuk terbiasa dengan Surya tunggal, yaitu Matahari, di tengah banyaknya Matahari palsu. Diangkatnya tanganku di ruang kosong ini, aku coba halangi cahaya yang bisa saja membutakanku. Dan dari yang bisa kupandang, di antara sela-sela jariku. Di antara mereka hanya ada kekosongan, membentuk baris persegi, menggantung begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Kembalilah aku di lantai dingin masjid itu. Bayangan sisa dari enam belas matahari itu tertinggal di retina, menatap jiwa, meneror diriku yang terbiasa tidak melihat apapun di alam bawah sadar. Mengingat keberadaan raksasa-raksasa itu membuat kepalaku pening. Nafas tersendat, saraf yang terasa mati, aku terombang-ambing tenggelam seperti di bawah air. Terlalu nyata untuk disebut mimpi. Jika bisa dideskripsikan, aku memanglah terasa bagaikan butir debu yang hanya tampak di bawah mikroskop; dipandang dewa-dewa Matahari, mengamati ragaku yang renik tanpa kuasa. Belum lagi cahayanya yang menerangi bahkan pojok tergelap dari kepalaku, membuat mataku sampai berair, dan masih berbayang buram.
Melihat enam belas matahari dengan ukuran yang nyaris serupa, aku tidak lagi mampu menyebutkan skala yang lebih masuk akal, selain debu di antara perwujudan dewa-dewa itu.
Tapi sekali lagi, aku masih ada di masjid itu. Masih gelap pula di luar jendela. Dengan pepohonan, dan rerumpun bambu menutup bulan yang kutebak tergantung di balik kabut. Aku duduk bersila, selagi melihat jam dinding. Yang entah sejak kapan, sudah habis baterai dan berhenti di jam 4 pagi. Dari kejauhan, jam tersebut mengingatkanku akan Matahari yang menantangku dalam kontes tatap mata. Jam panjang tepat berhenti di menit 16.
Enam-belas Bintang tersebut, seakan mengambil alih sensasi terbakar secara fisik, mengukir memori dalam benak. Seolah-olah aku melihat enam-belas bola api tersebut, selagi aku memandang pintu yang tak kunjung dibuka siapapun.
Memandang Jam tersebut, aku tidak yakin sekarang masih jam 4. Dengan perasaan janggal, barangkali jika aku keluar dari sini. Aku akan disapa olehnya, Enam-belas Matahari yang akan terbit dari arah barat. Konsep yang secara hening menyelinap masuk ke duniaku yang kosong ini. “Enam-belas, Matahari.” Apakah karena aku yang sekarang masih berumur 16 tahun? Barangkali memang berhubungan. Sudah kubaca berbagai esai tentang mimpi, utamanya dari Carl Gustav Jung.
“Mimpi adalah pintu kecil yang tersembunyi di bagian terdalam dan paling intim dari jiwa… yang terbuka ke arah malam kosmik.”
Sampai saat ini, aku hanya mengira ia mengigau. Tapi kini aku harus memikirkan ulang pemahamanku sendiri. Sejalan dengan bagaimana dunia ini tidak luput untuk mengingatkan manusia, bahwa kita sejatinya; butiran yang lebih sadar dari butiran yang lain. Di bawah bintang-bintang yang biasa menghiasi langit, dihias pujangga yang tak bernama. Seperti ada makna yang disengajakan, oleh pemilik rumah-Nya yang sempat ku singgahi. Di umur menjelang kedewasaan. Ditandai angka 16, dan berbagai tanggung jawab yang akan kupikul.
Seakan ditarik dari ujung palung, jiwaku kembali di sini, kamar tidurku. Terbangunlah dari bioskop yang mendadak gelap gulita, menyisakan pecahan untuk dikenang. Mungkin hanya bagian 16 Matahari itu yang masih sulit untuk kulupakan. Bangun dari kasurku yang sudah banjir dari palung tersebut, sebasah-basahnya di sekujur tubuh, dan ranjang tempatnya beristirahat.
Aku keluar kamar untuk mandi air dingin di luar, seperti biasanya. Memasak nasi di dalam presto, menggodok air di dalam ketel di sebelahnya, dengan tungku tua yang menemani 4 generasi. Selagi menunggu, aku-pun berpakaian rapih untuk Sekolah, berwudhu dengan keran, dan sholat Subuh setelahnya di tempat yang sama, seperti yang ada di mimpi. Tetap terbayang, gambaran itu, di belakang mataku. Memberi makna kepada kekosongan yang kini ku hargai.
Digra Mauda Adib, lahir di Purbalingga bulan Maret 2009. Ia merupakan pelajar SMK Negeri 1 Kaligondang, jurusan Desain Komunikasi Visual. Kini masih menjadi seorang siswa yang berminat di dunia Desain, Jurnalisme, dan Bahasa. Aktif di 3 Ekstrakurikuler terkait. Memiliki cita-cita menjadi “Pengajar Publik” terinspirasi oleh Guru Gembul, Gita Wirjawan, dan Orang-Tua. Instagram: @digra_maudaa @ddeigra




