
Pagi yang sibuk di gudang penyimpanan barang. Seperti biasa, truk kargo berlalu lalang, datang dan pergi, bongkar dan angkut muatan paket ekspedisi disortir sebelum diserahkan kepada kurir yang akan mengantarkannya dari pintu ke pintu pelanggan.
Sambil berdiri di depan mulut gudang, Pak Alim memperhatikan saksama tabel daftar paket barang yang keluar-masuk ekspedisi. Sebagai supervisor gudang, sudah menjadi tanggung jawabnya memastikan setiap paket sampai dengan selamat ke tangan penerima.
Kening Pak Alim berkerut. Dari daftar pengiriman yang dipegangnya, ia melihat satu kolom pengantaran yang belum tercentang sempurna. Tanpa menunggu lama, ia masuk ke dalam gudang dan berjalan menuju kantor.
“Rudi! Bisa tolong jelaskan apa maksud ini?”
Pak Alim menyodorkan tabel pengiriman kepada Rudy, ketua tim ekspedisi.
Rudi membaca keterangan itu, dua bola matanya membulat.
“Sebentar Pak, saya cek dulu.” katanya sambil menyalakan komputer di mejanya. Ia mengetik Distrik 13 di kolom pencarian. Sebuah garis merah muncul disertai keterangan paket tertunda/belum terkirim.
“Tampaknya ada satu paket di minggu lalu yang masih belum terkirim, Pak. Tujuannya rumah di Distrik 13,” jelas Rudi tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Kenapa belum terkirim?”
Rudy menggaruk tengkuknya, “Anu Pak. Distrik 13 adalah wilayah yang hanya bisa diakses lewat jalur Distrik 11 dan 12.”
“Iya, lalu?”
Rudy berdehem. “Distrik 11 dan 12 adalah tempat isolasi wabah penyakit zombi yang terjadi tiga tahun lalu, Pak. Mengirimkan paket ke sana sangat berisiko bagi keselamatan para kurir.”
Pak Alim menatap layar komputer. Tertera alamat penerima: Nenek Alina, rumah nomor 9, Distrik 13. Di bawahnya tertulis keterangan makanan-harus segera dikirimkan. Bayangan seorang nenek tua yang menunggu kiriman makanan di wilayah terpencil itu melintas di benaknya.
Pak Alim menarik napas dalam.
“Kita punya puluhan kurir terbaik. Tawarkan gaji dua kali lipat bagi siapa pun yang bersedia mengantarkan paket ini. Siapkan truk dan perlengkapan anti zombi. Sekarang!”
Rudi mengangguk patuh dan segera bergegas menyiapkan eksekusi atas perintah atasannya.
***
Anton akhirnya menjadi sukarelawan, sebab tergoda iming-iming imbalan yang dijanjikan. Menggunakan truk yang kokoh serta bekal starter pack peralatan anti zombi seperti gas api dan semprotan bawang, ia pun melajukan kendaraannya menuju ke Distrik 13.
Ia sangat memahami bagaimana sulitnya menjangkau wilayah itu. Satu-satunya jalur adalah jalan tikus yang melewati Distrik 11 dan Distrik 12. Sebuah jalan alternatif yang dibuat oleh pemerintah untuk menghindarkan akses manusia pada daerah yang terkontaminasi jamur zombi.
Tiga tahun lalu, warga di Distrik 11 dan 12 hanyalah manusia biasa. Semua bermula dari tempe, makanan fermentasi kedelai dengan jamur Rhizopus, yang menjadi makanan sehari-hari warga di sana.
Kala itu, sebuah laboratorium kecil di Distrik 11 merilis inovasi jamur Rhizopus O-3. Konon, tempe yang difermentasi jamur ini diklaim lebih gurih, cepat matang, dan tahan lama. Namun masalah muncul ketika jamur tersebut dipanaskan di suhu di atas 90 derajat Celsius. Sifatnya berubah menjadi parasit. Saat masuk ke tubuh manusia, ia menginfeksi sel-sel tubuh secara perlahan. Awalnya tak terasa. Baru setelah tujuh hari, gejala muncul.
Penderitanya berhenti beraktivitas normal, menarik diri dari komunikasi sosial, lalu menjadi hiperaktif tanpa mengenal lelah. Mereka mengembara tanpa arah, menggigiti apa pun yang ditemui. Gigitan itu menularkan infeksi kepada manusia lain.
Pemerintah panik. Sebelum ditemukan fakta bahwa zombi takut sinar ultraviolet, wabah telah menyebar hingga Distrik 12. Kedua distrik pun diisolasi dan dipagari barikade UV. Antidot masih dalam tahap pengembangan. Banyak zombi tak bisa diselamatkan karena kondisi tubuh mereka telah rusak parah.
Lamunan Anton buyar ketika truknya memasuki kawasan gelap Distrik 11 dan 12. Sejujurnya, tidak banyak yang ia ketahui dari area itu. Hanya saja, mengingat zombi tidak menyukai sinar matahari, artinya mereka menyukai zona yang bebas sinar matahari sehingga area itu akan jadi tempat yang disukai para zombi.
Anton menepikan truknya, kemudian mengeluarkan semprotan aroma bawang yang dibawakan oleh Rudy. Ia mengernyitkan kening saat mencium aroma parfum bawang dari botol yang dipegang. Menurut para ahli, zombi itu tidak menyukai aroma bawang.
“Jadi, tak apalah!” Maka, ia pun menyemprotkan parfum bawang itu ke sekujur tubuh. Berharap jika, amit-amit, ada zombi yang hendak mendekatinya, akan langsung pergi karena sengatan baunya.
Selesai menyemprotkan seluruh isi parfum bawang itu, Anton kembali melaju dengan truknya. Suasana di area gelap begitu tenang, hanya terdengar deru kendaraannya. Pun juga gelap, sehingga ia harus menghidupkan lampu truk. Tiba-tiba…
“Rrrraaaaaarrrr!” seorang zombi muncul di hadapannya.
Anton terkejut. Melajukan truknya ke depan, dan sengaja menyenggolkan mulut truk ke tubuh Zombi itu agar menyingkir dari jalan. Zombi yang menghadang jalannya tadi tampak mengerikan dengan dua bola mata putih dan gerak badan yang patah-patah tidak sinkron satu sama lain.
Dalam hati ia berdoa agar tidak bertemu dengan manusia zombi lagi. Namun, dari kejauhan ia melihat siluet di depan yang lama-lama memperlihatkan sekelompok manusia zombie menghadang jalan.
Tidak mungkin ia bisa mengelak dari sekelompok zombi itu. Anton meringis, sambil menginjak pedal gas dalam-dalam. “Ya Tuhan, apa pun yang terjadi tolong maafkan saya.” Batinnya memohon.
“Duuaaakkkkkkk!”
Anton oleng setelah menabrakkan truk ke depan sekelompok zombi yang berjalan tak beraturan itu. Brakk. Truk berhenti, membentur batang pohon. Anton mengambil paket barang dan semprotan api yang ia taruh di kursi penumpang. Kemudian, ia langsung keluar dari truk dan berlari tunggang langgang menyusuri sisa jalan di area gelap Distrik 11 dan 12.
Anton berlari. Di tengah jeda pelariannya, ia menyempatkan diri menengok ke belakang, dan mendapati tiga zombi tengah berjalan patah-patah dengan cepat mengejarnya. Ia pun berbalik dan langsung melangkahkan kaki. “Sial. Ternyata semprotan bawang itu tidak mempan!” gerutunya.
Anton dapat sedikit menghela napas lega tatkala melihat siluet cerah matahari di depan jalan, tanda batas area gelap yang tidak disenangi oleh para zombi. Ia mempercepat langkah kakinya, dan hap. Akhirnya ia pun sampai di area terang yang tersirami cahaya matahari.
Sayangnya kelegaan Anton tidak berlangsung lama. Terpisah tebing dan jurang yang menganga, tampak sebuah jembatan yang sudah lama dipotong dan dirusak. Praktisnya, jalan penghubung antara Distrik 12 dan 13 kini hanyalah seutas tali flying fox.
Anton mengusap wajah separuh frustasi. Demi mengantarkan sebuah paket makanan untuk pelanggan, ia harus melewati rintangan jurang yang menganga itu dengan meluncur menggunakan flying fox. Tapi, paket itu harus diantarkan mengingat penerimanya adalah seorang nenek tua yang mengharapkan kedatangan paket makanannya.
“Rrraaaarrrr!” Suara zombi dari perbatasan area gelap, mengagetkan Anton.
Tak ingin banyak membuang waktu, ia pun akhirnya meraih tali tambang dan mengikatkan diri pada kaitan katrol yang dapat menopang badannya.
Anton mengambil napas. Demi rasa kemanusiaan, dia harus mengambil jalan ini.
“Demi kemanusiaan!” teriaknya lantang, sambil meluncur melewati tebing jurang.
Anton melayang sambil menutup mata. Saat dirasai dua kakinya menjejak tanah, ia baru berani membuka mata. Segera ia melepas kaitan tali yang melingkar di pinggangnya. Lalu berjalan menuju rumah nomor 9 di Distrik 13.
Ding dong. Anton memencet bel rumah.
“Paket! Paket!” teriaknya lantang.
Samar-samar Anton mendengar langkah kaki pelan dari dalam rumah.
“Iya?” seru suara serak dari balik pintu, yang saat dibuka langsung menampilkan sosok perempuan paruh baya dengan senyum terpasang di wajahnya.
“Paket makanan atas nama Nenek Alina?”
Dua mata Nenek Alina membulat senang, masih tersenyum ia berkata, “Terima kasih. Kitty sudah lama menunggu datangnya paket ini.”
“Kitty?”
Seekor kucing bongsor datang, dengan ekor panjang yang mengangkat tinggi.
Nenek Alina membuka bungkus paket tersebut, mengeluarkan sekaleng makanan kucing dan menuangkannya ke mangkuk bertuliskan nama Kitty di pinggirannya.
“Kitty sangat senang, terima kasih Pak Kurir.” Nenek Alina berkata pada Anton dengan sorot penuh kelegaan.
Anton meringis. Tidak menyangka jika paket bertuliskan makanan itu ternyata untuk makanan kucing. Lalu pamit sambil salam dan sapaan Nenek Alina ramah. Meski tidak sesuai dengan bayangan, namun ia lega karena telah mengirimkan paket makanan itu dengan selamat. Setidaknya, misinya untuk menyelesaikan amanat dari masyarakat telah ditunaikan.
Anton berbalik. Melangkahkan kaki menjauhi rumah nomor 9 Distrik 13 itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Sambil memegang satu benda yang tersisa di tangannya, semprotan api, ia terpikirkan.
“Setelah semua hal yang terjadi. Bagaimana nanti cara aku pulang ke rumah?”
Seorang penulis yang sedang mengasah “taring” karyanya untuk bisa menyaingi Pak Ahmad Tohari. Kini bertempat tinggal di Semarang. Dapat dihubungi via Instagram @pilosopikopio.





🔥🔥🔥