Duduk Sendiri di Dalam Rumah dan Puisi Lainnya

Tak Ada Puisi Malam Ini

Malam ini ngilu
Tak ada puisi yang sempat ditulis.
Ini bukan puisi.
Ini hanya pikiran sederhana,
yang diizinkan Tuhan untuk ditulis.

Malam ini, tak ada puisi
yang benar-benar menjadi puisi.
Ini hanya pikiran yang melantur, bukan ngelindur.

Malam ini, benar-benar tak ada puisi.
Angin diam,
Burung tidur.
Detak jam mulai terdengar pelan.
Yang terakhir, waktunya tidur.
Mimpi membuat puisi, yang lebih puisi.

Tapi ini bukan puisi.
(2025)

***

Malam yang Sepi

Langit mendung
Bintang sedang bingung.
Apalagi, penyair yang sedang butuh uang.
Pasti tambah bingung.

Duh.
Puisi beberapa bulan tak lagi diterima koran, rubrik sastra.
Uang, rokok,
Apalagi gas di rumah sedang habis. Tambah bingung.

Malam yang sepi,
Penyair tengah menjerit di hati.
Lantas,
Puisi tak lagi menenangkan.
Malah membuat pesimis
Dengan hidup yang mengandalkan royalti menulis puisi.
(2025)

***

Belajar Menulis Puisi

Mula-mula membaca Sapardi Djoko Damono
Puisinya lirih,
Cukup untuk penenang tidur,
dengan hati penuh lara.

Selanjutnya, melompat ke Joko Pinurbo.
Penuh kegetiran,
dan nyaris ada humor.

Tapi, aku mencintai diriku sendiri
Dengan payah menulis puisi, tak jadi-jadi.
Sekali lagi, aku mencintai diriku sendiri.
Belajar mengeja angin,
langit dan burung-burung terbang melesat jauh.
(2025)

***

Duduk Sendiri di Dalam Rumah

Terdengar televisi yang nyala.
Tanpa penonton.
Tak ada suara berisik omongan tetangga.
Semuanya tiba-tiba hening.
Ibu berangkat berjanji.
Ayah pergi tak pamitan.

Aku hanya duduk sendiri di dalam rumah.
Membayangkan menjadi blablabla.
(2025)

***

Sajadah Nenek

Hanya tergantung di dalam kamar.
Terlihat sudah kusam.
Tak pernah dicuci,
Selepas kembali ke haribaan-Mu, beberapa tahun silam.
(2025)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top