Daster Hijau Bermotif Bunga

Kala hari mulai malam, aku berteriak “tidak mau” pada wanita tua bertubuh berisi yang tingginya hanya sebahuku, tak lain adalah nenekku sendiri. Wanita tua yang merawatku sejak masih bau kencur hingga saat ini, dengan bau khas balsem para nenek yang selalu tercium kala malam di tempat tidur. Nenek adalah manusia yang tak pernah kehabisan kata entah mengomeli sesuatu, berteriak pada burung kakaktua yang rajin bersiul di teras rumah, atau mencemooh tubuh malasku. Nenek juga seorang khawatiran handal. Sesekali aku menemukan makanan basi dalam lemari yang merupakan perwujudan dari kekhawatiran nenek. Sepertinya nenek berencana menyimpannya untuk dimakan besok, namun usia memang jadi tantangan utama. Bisa jadi nenek lupa. Mengenai hal ini aku bisa mengerti, karena pada masa hidupnya makan tiga kali sehari saja sudah menjadi sebuah keberuntungan. Mungkin masa-masa itu yang menjadikan nenek seperti sekarang.

Aku, Mala, gadis muda tak tahu diri yang sudah numpang tinggal padanya selama bertahun-tahun. Nenek merawatku karena kondisi keluargaku, di mana ayah dan ibu dipaksa bekerja bersama agar tetap dapat bernapas tiap harinya. Dengan kata lain, keluarga kami masuk kategori miskin. Jika mendengar kisahku, yang muncul adalah, “Bersyukur kamu punya nenek yang mau mengurusmu.” Awalnya aku biasa saja, namun semakin kata itu berulang di telingaku, muncul rasa kesal dari hari ke hari. Belum lagi aku dan nenek memang tak seakrab dan seromantis yang orang lain bayangkan.

Aku yang dibesarkan bersama bentakan dan nada tinggi, menumbuhkan pula diriku sebagai manusia pandai membentak dengan nada tinggi. Tak heran orang-orang sering tersinggung dengan nada bicaraku. Aku dan nenek juga memiliki satu kesamaan, mudah tersinggung. Hal ini menjadi pemantik keributan setiap harinya. Dapat disimpulkan, rumah dengan dua manusia penuh ego dan nada suara tinggi, ya, tak pernah damai.

Hari itu nenek kembali memaksaku mencoba pakaian yang entah dari mana datangnya, sebuah daster hijau bermotif bunga yang kulihat terlalu jadul untuk tubuh elok ini. “Coba dulu, Nak,”  berulang kali kata itu mendesak telingaku. “Ah, sial, aku sudah muak.” Memang terkesan jahat, namun hal ini bukan terjadi satu dua kali. Hari itu aku merasa sangat asyik dengan ponsel pintar, sembari membaca episode baru di aplikasi hijau, sehingga tak perlu pertimbangan untuk mengatakan “tidak” pada apa pun. Nenek dan aku memang sudah hidup bersama cukup lama, namun tetap saja tak mengerti satu sama lain. “Coba sekali saja, Nak,” kembali ia melontarkan permohonan itu dengan daster di kedua tangannya. Jangankan mengiyakan, melihat nenek pun aku tak bisa. Sungguh, episode baru ini sangat menggugah. 

“AH, KALO GAK MAU YA GAK MAU! JANGAN DIPAKSA LAH, NEK!” Bentakku setelah ia terus terusan menghancurkan fokusku pada ponsel pintar.

Nenek hanya terdiam, berbalik, dan melangkahkan kaki pergi entah ke mana. Ada sedikit rasa bersalah, “sepertinya reaksiku berlebihan,” namun hanya sepersekian detik. “Ah, udahlah. Lagian aku udah bilang gak mau, malah dipaksa,” pikirku. Layaknya gadis tak tahu malu, aku kembali fokus pada ponsel, sembari tertawa kecil jika muncul adegan lucu, namun tak ada yang menyangka tawa itu akan melebur dalam waktu cepat.

“Langitnya abu. Hari ini tidak berisik. Entah hal baik atau jahat. Tidak ada suara nenek tua, ataupun suara gadis itu. Tak biasanya rumah sesepi ini. Jika aku bersiul, maka nenek tua akan bersiul. Namun kenapa tak ada jawaban? Kenapa mereka melawan hukum alam ini?” Pertanyaan itu mungkin ada di benaknya, Kakaktua jambul kuning, burung peliharaan aku dan nenek. Entah apakah dia sudah bisa beradaptasi dengan rumah yang mendadak sepi ini.

Tepat dua hari sebelum langit abu, suara riuh orang-orang bernyanyi. Kadang burung kakaktua bersiul, tak sesekali suara kendaraan berdatangan. Penuh manusia mengenakan dress code hitam, beberapa membawa amplop berisi uang, beberapa lainnya hanya numpang makan. Namun siapa peduli?

Mata sembab dan hati kosong. Aku benci suasana ini. Mungkin paksaan sore itu adalah bentuk kekhawatiran nenek, namun bukan khawatir tak bisa makan esok hari, melainkan khawatir tak bisa melihatku mengenakannya di esok hari. Dan benar saja, kekhawatiran itu terjadi. Bau kayu tercium dari tempat kepalaku merunduk, peti putih dengan nenek terbaring tidur, bunga di kedua tangannya, dan gaun berwarna pink favoritnya. Aku ingat sekali, gaun itu sering ia gunakan ketika hendak menghadiri pesta pernikahan. Ingin rasanya aku bertanya, nenek hendak ke pesta siapa. Namun ah, sudahlah, seperti orang bodoh saja. Bukan lagi bau balsem nenek yang khas, kini bau itu hilang ditutup bau bahan kimia. Memang tak tahu diri. Siapa sangka aku menangis terisak di sini. Memangnya aku layak?

Sungguh, aku tak pernah membayangkan keadaanku sekarang, menangis dan terus terusan mengingat daster hijau bermotif bunga itu. Mau aku kenakan sekarang pun, sudah tak ada gunanya. Lebih baik nenek mengomeliku, mencemooh sifat malasku, atau beradu mulut saja. “Jangan tiba-tiba meninggal dong.” Mengingat sifatnya, pasti nenek sudah menertawaiku di atas sana. Perasaan ini benar benar kosong. Entah marah atau sedih, yang jatuh hanya air mata. Memang penyesalan itu selalu di akhir, bak episode karya fiksi. Aku benar benar mendapatkan bad ending. Dasar gadis tak tahu malu, ini akhir yang layak untukmu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top