
Di rumah itu, kami selalu merasa hangat. Cerah warnanya sinar lembayung, semakin kuat ketika baru pulang dari tempat rantau. Dan ada rindu yang mencuat dari rumah yang kuat manarikku meski jauh di kota seberang. Tampak bunga-bunga di halaman rumah terawat dan tertata rapi, tak terlihat satu batang pun bunga layu atau tumbuh tak beraturan.
Rumah itu dirawat dengan baik, jendela rumah tampak selalu tak ada noda kotoran cicak atau pun sarang laba-laba, terlihat mengkilap. Dapur juga tak dibiarkan sebiji nasi menempel dilantai. Di area kompor gas, noda sehabis kegiatan masak-masak segera dilap menggunakan kain basah berbusa karena sabun cair berbau sunlihgt. Dan perabotan masak tertata rapi di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Tak lupa bahan dan bumbu masak juga menempati wadah toples bekas pakai dan keranjang kecil untuk bawang-bawangan. Dan di dalam rumah, debu-debu tak dibiarkan betah menempati lemari dalam waktu lama. Lantai rumah tak luput, akan selalu kinclong dipagi hari.
Setiap awal bulan, kebutuhan kebersihan seperti sabun, pasata gigi, sabun cuci piring, detergen dan pengharum, akan selalu ready stock. Hampir tak ada yang terlewatkan termasuk halaman rumah. Di halaman rumah tak ada satu batang rumput liar dibiarkan bertahan lama menempati halaman rumah kami. Dari dalam hingga pekarangan rumah tak ada yang luput dari pengamatan dan tangan mama. Seperti tak tenang jika ada yang tidak sesuai dengan estetika dalam pandangannya.
Genap satu tahun kepergian mama. Masih membekas di kepala, bagaimana suasana dingin ruang ICU, bunyi monitor yang silih berganti. Dan suasana khawatir tak henti-hentinya menyeruak dari ruangan itu. Dentang jam dinding turut mengiringi bunyi monitor masing-masing pasien.
Ruangan yang katanya jika setiap pasien dipindahkan ke tempat itu maka raut wajah gelisah, muka air tampak berat dan doa serta dzikir silih berganti dari orang terdekat pasien. Dan itu yang kami alami.
Ada gemuruh di dada dan riuh di kepala, ketika Jumat pagi datang. Kira-kira pukul enam pagi, ku lihat dari sela pintu ICU, bapak telah selesai memandu mama mengucapkan dua kalimat syahadat. Seketika seperti ada ledakan besar baru saja menghancurkan seisi dada, sesak. Riuh tak terbendung dikepala, pun berganti sunyi. Tak sadar, mata telah sembab dan tangis pun pecah.
Saat itu, pikirku kepala mesti tetap tegak. Dalam benakku bergumam “Aku anak pertama dari 4 bersaudara, tentu sebuah keharusan bahwa aku harus harus membantu bapak mempersiapkan kepulangan mama dari rumah sakit ke kampung halaman mama untuk proses pemakaman”. Kembali ku lihat sela pintu ruangan ICU, bapak adalah sosok yang tak pernah goyah, terlihat selalu tegar melihat kedepan, meski menghadapi situasi genting seperti dulu di tahun 1999-2000 saat konflik antara agama pecah di maluku. Ia tak gentar, menerjang situasi konflik lagi genting dan perang berdarah. Membawa keluarga kecilnya mengungsi di tempat yang aman.
Namun, sungguh kokohnya tatapan itu pun hancur lebur. Matanya selalu bercahaya seketika redup, separuh cahayanya padam oleh sembah. Saparuh dirinya telah terbaring dingin tepat di hadapannya.
“Untuk kehidupan yang penuh pesona, Untuk perginya sang pengelana”. Hidup dan kematian adalah dua hal yang niscaya, seperti kata Laila S. Chudori. Dua-duanya berjalan beriringan bagi setiap pengelana dunia. Setiap pengelana tak dapat mimilih untuk menunda dan meminta kematian seperti apa. Namu, bagi pengelana memilih hidup seperti apa bukan hal yang tak mungkin.
Mama telah mengelana sudah cukup lama dan menempuh jarak cukup jauh. Duri dan batu besar telah menghadang di akhir pengelanaannya. Kata dokter ahli tulang, mama menderita pengapuran di persendian lutut, dan kata dokter di rumah sakit ada saraf yang terjepit. Dua diagnosa ini dapat menjelaskan rasa nyeri dan sakit mama menjalar dari lutut hingga ke pinggang, ketika ia coba melangkah untuk berjalan. Namun, bukan diagnosa itu yang membuat ia terbaring di ruang ICU.
Ada infeksi tampak seperti luka bakar, melepuh dan sebesar telapak tangan laki-laki dewasa. Dan kata dokter ahli, bahwa infeksi itu harus di operasi, jika tidak akan bertambah parah. Setelah melewati prosedur medis dan administrasi, operasi dilaksanakan. Saat operasi, tak henti doa dan dzikir keluar dari bibir bapak, berharap proses operasi berjalan lancar dan membuahkan kesembuhan untuk mama. Selang beberapa lama mama keluar bersama perawat dan kembali di tempatkan di ruang rawat inap.
Satu hari pasca operasi semua berjalan lancar, mama tetap kuat untuk tahap penyembuhan. Namun, awan mendung menyelubungi kamar rawat inap. Bagian bekas operasi mulai merenggut perasaan tenang mama. Rasa sakit pasca operasi semakin menyiksanya beberapa malam. Hingga hari kamis, kesadaran mama berangsung dan terus menurun seiring dengan gula darah menunjukkan angka yang sangat rendah. Dokter yang menangani mama, menyampaikan beberapa pertimbangan kepada bapak bahwa pasien harus dipindahkan ke ruang ICU. Tak butuh waktu lama mama pindah ruang.
Ruang ICU, dingin dan tenang. Tanpa ada suara percakapan, hening. Hanya ada dua perawat penanggungjwab ruangan. Selebihnya pasien dan hanya satu orang keluarga pasien menemani. Tak ada kebisingan, yang ada hanya bunyi monitor jantung. Ruangan dimana, harapan dan kecemaasan melebur bercampur. Ada harapan di sela pintu ruangan itu dan dalam kecemasan itu kami belajar bahwa mencintai berarti siap kehilangan. Antara harapan dan ketakutan, bapak terlihat menggenggam tangan separuh hatinya yang dingin sambil berbisik, “Bertahanlah”. Dalam keyakinan, diujung khawatir, selalu ada cinta yang menolak menyerah.
Dini hari, di hari jumat, aku berdiri di tepi malam. Dalam sujud kurapalkan doa dan berharap keajaiban kesembuhan. Setiap embusan napas yang tersisa, hanya doa yang tak henti. Karena sebaik-baik sebuah harapan adalah hanya kepada Sang pemilik kehidupan.
Si pengelana tak lagi berkelana. Langkahnya terhenti di ruang dingin itu. Mama berpulang ke dekapan sang pemilik kehidupan tepat hari jumat pagi 27 september 2024. Kini di rumah itu tak ada lagi sosok yang menanti suara motor dan deru ban dari antara pintu masuk pagar halaman rumah dengan perasaan khawatir menembus diantara pori-pori wajahnya. Sosok yang selalu aku temui ketika pulang, duduk di teras rumah dengan pandangan yang kokoh tertuju mengawasi setiap kendaraan yang lewat dengan penuh penantian.
Firnasrudin Rahim adalah penulis yang berasal dari Desa Wapaejaya Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Selain membaca buku ia gemar berburu buku promo di toko buku kesayangan, Dielaktika Bookshop. Silakan disapa melalui Instagram @firnas_id.





Dan tulisan menemukan pembacanya. Terimakasih kisahnya kakak penulis, Al-Fatihah untuk ibunda terkasih 🙏
Al-fatihah