
Waktu seusia anak yang mengenyam bangku Sekolah Dasar, saya sering diajak sama bapak untuk menemaninya service mobil ke bengkel. Tak hanya satu atau dua kali, namun lebih dari itu. Mulai dari bengkel satu ke bengkel lainnya. Dari bengkel yang hanya berpagar anyaman bambu hingga bengkel-bengkel yang sedikit lebih bagus dengan berpagar tralis dari besi maupun baja ringan. Sekalipun demikian, ada kesamaan yang hadir di antara beranekaragam bengkel-bengkel tersebut. Salah satu kesamaannya adalah para mekaniknya yang terlihat jorok, berpakaian yang kumuh, dan bahkan ada juga yang bekerja sembari merokok.
Pekerjaan di bengkel memang tidak bisa terlepas dari hal-hal yang kotor, dekil, kumuh, jorok, dan serba berbau-bau mesin, oli, dan onderdil. Maka tak heran jika para mekaniknya lantas berpenampilan kotor dengan pakaian yang sudah berlumuran oli dan bernoda asap kendaraan. Sekalipun demikian, sebenarnya hal semacam itu bisa disiasati dengan penggunaan celmek (seperti para koki dan barista) atau pengoptimalan kerja cerdas, terampil, dan mahir meminimalisir resiko terhadap mobil yang sedang ditangani maupun terhadap diri sendiri. Hal terakhir inilah yang saya temukan di bengkel Primamitra Auto Service yang berdiri kokoh di Jl. Sampang Rawalo, Dusun Cindaga RT 04 RW 07 Kecamatan Kebasen, Kabupatan Banyumas, Jawa Tengah.
***
Tepat pada Jumat, 12 September 2025, kami bertolak dari Ajibarang menuju Rawalo, Banyumas. Mentari sedang gencar-gencarnya meluapakan terik-panasnya, sekalipun kami berada di dalam mobil yang AC-nya sudah tak terlalu terasa geliat dinginnya. Perjalanan itu diwarnai dengan drama yang cukup menyebalkan karena harus mendorong mobil terlebih dahulu setelah di tengah perjalanan selepas salat Jumat, mobil mendadak mogok. Starter-nya tak kuasa mengangkat mesin agar menyala sebagaimana mestinya. Walhasil, kami pun pasang kuda-kuda untuk bersiap mendorong mobil. Akhirnya mobil bisa menyala meski harus menyeka keringat terlebih dahulu dan memerlukan satu-dua kali adegan dorongan yang cukup agresif.
Sesampainya di bengkel mobil Primamitra Auto Service, kami ditampar dengan suasan bengkel yang teduh dan luas meski di luar, panas. Bengkel yang tidak pengap karena pos-pos sirkulasi udaranya, banyak. Terhampar mobil-mobil yang sedang tekun digarap oleh para mekaniknya. Tertuliskan di kaca depan tiap-tiap mobil, status pengerjaannya. Ada yang Tunggu Sparepart, Proses Pengerjaan, Tunggu Diambil, dll.Sebagai informasi utama, bengkel ini melayani service, tune up, engine, scaner, ecu, overhoule, AC, radiator, body repair. Pelayanan booking service dan antar jemput unit untuk wilayah sekitar juga tersedia.
Usaha bengkel mobil tak semata persinggungan mekanik dengan unit. Melainkan juga berhadapan dengan para customer-nya. Di sinilah letak karakteristik Primamitra Auto Service. Admin hingga mekaniknya yang berperangai sumeh (baca: murah senyum), komunikatif, amanah, mengedepankan kepuasan pelanggan, menerapkan budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) serta K3L (Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan), tak ada yang merokok sewaktu bekerja, sekaligus menerima segala kritik dan saran dari klien adalah beberapa hal dari sekian budaya yang diwanti-wanti oleh Mas Suwandi atau yang lebih akrab dipanggil Mas Adi, pemilik bengkel Primamitra Auto Service, binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).
Menjadi owner bengkel tak ubahnya seumpama seorang guru
Sejak berdirinya Primamitra Auto Service dari Agustus 2009 sampai sekarang, sudah barang tentu Mas Adi bersinggungan dengan segenap mekanik yang bekerja di bengkel tersebut. Memang sewaktu awal berdiri, hanyalah Mas Adi sendiri dan waktu itu juga sebatas cucian mobil. Namun seiring berjalannya waktu cucian mobil tersebut menjelma bengkel mobil yang saat ini kurang lebih ada sepuluh personil mekanik berikut adminnya. Dari sekian banyaknya mekanik yang pernah bekerja di Primamitra Auto Service ada beberapa yang sudah membuka bengkel sendiri. Hal semacam ini, bagi Mas Adi bukanlah suatu masalah dan bukan juga sebuah kerugian. Justru merasa senang dan merupakan bagian dari pelebaran sayap dan networking. Di sisi lain juga bisa dijadikan mutualan, “Semisal ketika banyak order-an masuk, bisa kita lempar ke sana dan sistemnya nanti bagi hasil.” Tukas Mas Adi.
“Konsep saya bikin usaha bengkel adalah si mekanik tidak harus bekerja di tempat saya selamanya. Saya didik mereka untuk mandiri. Saya kasih tahu manajemen dan teknisnya. Harapan saya, mereka menjadi punya greget untuk bikin usaha bengkel sendiri.” Tambah Mas Adi dengan rasa percaya dirinya yang tampak dari nada dan gaya bicaranya.
Pemilik (owner) bengkel Primamitra Auto Service yang dalam hal ini tak lain adalah Mas Adi, mengungkapkan kesimpulan pikirnya selama menekuni bengkel berikut dinamika para mekaniknya, “Saya ini kan owner di sini ya, mas. Bagi saya, jadi owner tuh ga jauh beda sama guru kok, mas. Perlu tahu caranya ngajarin dan didik mekanik yang senior dan junior. Terus juga menyikapi mekanik yang Gen Z. Itu semua harus kita ketahui. Masing-masing mekanik memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Maka dari itu, saya harus menyesuaikannya.” Tutur Mas Adi dengan soft spoken serta dibumbui ekspresi wajah yang ajer peraupan (baca: ceria).
Para mekanik di bengkel Primamitra Auto Service juga dididik dengan cara study tour ke bengkel lain. Hal ini merupakan model Mas Adi dalam mengajar dan mendidik kompatriotnya agar lebih termotivasi dan semangat dalam bekerja sekaligus belajar. Alih-alih hanya mempekerjakan dan menggaji mekanik. Primamitra Auto Service benar-benar mendidik dan memberikan ruang selebar-lebarnya kepada segenap mekaniknya untuk berkembang, maju, dan mandiri.
“Bagi saya, jadi owner tuh ga jauh beda sama guru kok, mas.“
Kepada seluruh mekanik, tak hanya pendidikan berupa teori dan praktik menghadapi permasalahan mobil, setiap pagi selalu diadakan briefing dan doa bersama untuk keselamatan kerja. Bahkan di Primamitra Auto Service, terpampang banner besar dan panjang bertuliskan “Utamakan keselamatan kesehatan kerja dan sholat.” Ini mengingatkan para personil bengkel untuk ingat Tuhannya dan mengingat ada keluarga, sanak saudara, dan orang tersayang yang sedang menunggu kepulangannya dalam kondisi sehat wal afiat.
Pelatihan dari LPB-YDBA

Mungkin yang jadi pertanyaan adalah “Lantas dari mana Mas Adi berikut kompatriotnya bisa menjadikan Primamitra Auto Service berkembang dan maju? Jawabannya tak lain adalah selain kegigihan Mas Adi beserta istri tercinta dalam memajukan bengkelnya ada sentuhan magis dari Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) yang merupakan bagian dari Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA). Sebuah perusahaan yang memiliki tujuan luhur, yakni “Memajukan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) melalui pembinaan & berkomitmen mendukung pertumbuhan bisnis lokal.”
“Menjadi bagian dari LPB-YDBA itu semacam diangkat derajate, mas. Sing tadine bengkel itu identik dengan kotor, bajunya kotor, dan berantakan, setelah bergabung dengan LPB-YDBA kita dididik supaya seperti seorang dokter. Dokter itu, kan ada darah dan segala macam kotoran, tapi mereka bersih. Simpelnya seperi itu.” Ungkap Mas Adi dengan wajah berseri-seri serta senyum simpul menutup ungkapannya tersebut.
Bagi Mas Adi, kemajuan bengkelnya tidak terlepas dari uluran tangan LPB-YDBA. Mereka yang berkenan memberikan pelatihan, ilmu, dan pengetahuan tentang cara-cara memanajemen bengkel secara profesional menjadi amunisi bagi Primamitra Auto Service untuk tetap eksis sampai sekarang dan yang akan datang. Meskipun badai cobaan terus berdatangan – umpamanya pandemi Covid-19 kemarin – Mas Adi dan bengkelnya bisa survive, berbekal ilmu dari LPB-YDBA yang kemudian olehnya benar-benar diaplikasikan dan diimplementasikan.
“Menjadi bagian dari LPB-YDBA itu semacam diangkat derajate, mas. Sing tadine bengkel itu identik dengan kotor, bajunya kotor, dan berantakan, setelah bergabung dengan LPB-YDBA kita dididik supaya seperti seorang dokter.”
Dalam mengikuti pelatihan dari LPB-YDBA, Mas Adi tidak sendiri. Ia sering mengajak istrinya atau bahkan beberapa dari mekaniknya secara bergilirian. Dengan begitu, para mekaniknya menjadi lebih tahu bagaimana peran krusial seorang mekanik dalam tiap-tiap denyut bengkel, lebih paham dalam melayani setiap customer service, serta menjadi lebih mengerti bagaimana semestinya sebuah bengkel bekerja. Bahwa pelayanan yang optimal melahirkan kepuasan pelanggan. Sekali pelanggan merasa puas, ia akan kembali lagi di lain waktu tanpa ragu.
Tak hanya persoalan menjadi mekanik sebaik-baiknya. Lebih dari itu, LPB-YDBA sejatinya mendidik agar orang menjadi pengusaha bengkel sejati, bukan menjadi mekanik sejati. “Kalau jadi mekanik, kita tinggal kursus, nanti buka. Ya udah sampai tua ya jadi mekanik.” Beber Mas Adi dengan mata menyala semangat dan penuh antusias.

dari Banyumas menyapa Indonesia





Keluhan konsumen :
Tgl 25/3/2026, sy ada service AC mobil honda mobilio, hasil service hasil baik, tetapi tanggal 27/3/2026 kondisi AC tiba2 tidak dingin dalam perjalanan cilacap – jakarta