Perjuangan dan Keberanian Seorang Perempuan

Judul Buku : …dan janda itu ibuku
Penulis : Kang Maman
Penerbit : GRASINDO
Cetakan : 1, November 2024
ISBN : 978-602-05-3119-9

Membaca buku Kang Maman satu ini tak ubahnya seperti sedang menyaksikan seorang perempuan yang terlahir dengan segenap keberanian untuk mengarungi samudera kehidupan yang luas, buas, dan lebar tak bertepi. Di mana, di saat perempuan yang mayoritas atau sebagian hanya sekadar tampil di belakang layar, di dalam rumah, dan berkawan dapur dan kasur. Sosok perempuan dalam buku ini berbeda. Ia tak hanya berpangku tangan menerima uang saku dan dana operasional rumah tangganya. Melainkan sebagai garda terdepan dengan segenap perjuangan dan keberanian.

“Ibu akan perjuangkan ini sampai mati, kalau tidak, kapan saja kamu dan adik-adikmu bisa terusir dari rumah ini. Apalagi ibu dengar, surat tanah itu digadaikan ke bank.” (Hal. 76). Perkataan tersebut lahir dari ibu Kang Maman sewaktu mendapati tragedi yang cukup kalut. Yakni perihal surat tanah yang ternyata ada dua buah. Entah bagaimana, kok bisa-bisanya terjadi semacam itu. Ada dua surat tanah. Naasnya, surat tanah satunya sudah digadaikan atau dijual dengan tanpa sepengetahuan ibu Kang Maman dan keluarganya.

Dari situ timbullah dialog genting antara ibu dan anak pertamanya yang tak lain adalah Kang Maman sendiri. Pada saat itu Kang Maman marah, sedih, takut akan tetapi juga takjub dengan kegigihan ibunya untuk memperjuangkan hak milik tanah berikut rumahnya yang dimilikinya dengan peluh keringat dan perjuangan bersama suaminya.

Kalau boleh saya katakan (dalam nada bercanda), barangkali penyuplai yang cukup signifikan tentang mental dan keberanian Kang Maman adalah dari ibunya sendiri. Sekalipun tetap ada kontribusi dari ayahnya yang tak lain adalah seorang tentara. Hanya saja yang saya temukan dalam buku ini, gambaran ayah Kang Maman adalah sosok yang ramah dan tak pernah memaraih anak-anaknya sampai memukul ataupun menyubitnya.

Sebenarnya masih banyak lagi fenomena-fenomena ibu Kang Maman yang tangguh dan berani menghadapi segala bentuk persoalan kehidupan yang menimpanya bahkan menimpa keluarganya. Seperti halnya, hinaan seoarang anak pejabat desa kepada Kang Maman yang didasarkan dari kondisi ibunya yang janda ditinggal meninggal oleh suaminya. Sampai-sampai Kang Maman lebih memilih jalan memutar sepulang dari sekolah, agar di jalan yang biasanya ia lewati, tidak bertemu dengan orang-orang yang suka mengejek ibu Kang Maman. Mengetahui hal demikian, ibu Kang Maman justru langsung melabrak ke rumah pejabat desa tersebut dan langsung melayangkan sebuah peringatan dan ancaman atas perilaku anaknya yang tidak etis dengan melecehkan seseorang sekalipun itu verbal.

Buku ini, disadari ataupun tidak, sebenarnya sedang mengajarkan keberanian yang setidaknya perlu dimiliki oleh seorang perempuan. Apalagi bagi perempuan-perempuan Gen Z yang mungkin lebih dominan lebay dan hidupnya lebih aktif di dunia maya, namun sering gugup gempita ketika di dunia nyata. Bisa jadi, buku ini juga sebuah kritikan akan hal itu. Tapi apapun modus di balik terbitnya buku ini. Kita bisa menjadi lebih terpelajar dan tahu bahwa perempuan adalah sosok yang hebat, tangguh, pejuang militan, dan pemberani kelas kakap. Bahkan ada pepatah lucu tapi banyak benarnya juga, yang pernah saya dengar, “Sehebat-hebanya singa podium, akan kalah dengan singa betina.” Sekaliber sahabat Umar bin Khattab pun juga nyatanya takut sama istrinya. Hahaha.

Di antara kelebihan buku ini yang saya dapati kurang lebih demikian:

Pertama, Berdasar Fakta

Buku ini sebagaimana disampaikan oleh Kang Maman sendiri di bagian sampul di dalam buku, di atas tanda tangannya, “Fiksi ini kurajut dari fakta-fakta di sekelilingku.” Hal ini menjadi nilai ketertarikan tersendiri karena diangkat dari kisah nyata dan pengalaman personal dari penulisnya. Sebuah karya sastra yang terlahir dari rahim realita selalu saja menarik untuk dibaca. Lain halnya karya sastra yang semata lahir dari sebatas imaji. Sekalipun jelas ada juga atau bahkan mungkin banyak juga karya-karya sastra yang semata berangkat mutlak dari imajinasi penulisnya terus kemudian menarik dibaca cum diperbincangkan. Namun, karya sastra yang berbasis fakta pun semacam ada nilai tersendiri yang memberikan warna sejarah di balik karya tersebut.

Kedua, Disertai Ilustrasi

Salah satu yang menjadi keunikan dan keunggulan buku ini tak lain adalah adanya ilustrasi-ilustrasi yang memberikan ruang bagi pembaca untuk lebih mendalami pesan yang terkandung dalam cerita yang disuguhkan. Di sisi lain, kehadiran ilustrasi dalam buku yang di dalamnya full teks, menawarkan semacam penawar atau obat dari timbul tenggelamnya kebosanan di sela-sela menunaikan ibdah membaca. 

Ketiga, Pembahasan yang tidak ngelantur-lantur

Cara bercerita Kang Maman yang enjoy dan lugas serta tidak ngelantur-lantur membuat pembaca merasa nyaman. Pembaca bisa dengan mudah menyelesaikan satu judul dan bisa membacanya dengan loncat-loncat. Karena buku ini tidak mengharuskan pembacaan yang runtut dari awal hingga akhir. Sangat direcomendasikan untuk menemani perjalan di transportasi umum maupun pribadi. Untuk satu judul pembahasaan atau cerita, bisa dikunyah hanya beberapa menit saja. Keberagaman judul dalam buku ini juga menjadi nilai plus. Pembaca dibikin penasaran, lantas terdorong untuk kemudian melanjutkan pembacaannya sampai titik terakhir dalam buku ini.

Sementara kekurangan buku ini sependek pembacaan saya, mungkin terletak dalam pengklasifikasian buku ini. Seharusnya buku ini masuk kategori kumpulan cerita pendek atau kumcer. Bukan kategori novel. Namun di cover belakang tertuliskan “Novel”. Mengapa saya berpendapat demikian? Sejauh pengalaman membaca cerpen dan novel, ditemukan perbedaan di antara keduanya. Cerpen, lebih ringkas, padat, satu efek, momen hidup, cenderung menggantung. Sedangkan novel, lebih panjang, kompleks, eksploratif, punya alur dan resolusi yang lebih bulat. Di sisi lain, novel dominan harus dibaca secara urut dari awal hingga akhir. Oleh karena itu, saya lebih menyebut buku ini sebagai kumpulan cerpen. Tapi ini pandangan subjektif saya. Bisa jadi beda dengan anda. Coba kasih pendapatmu di kolom komentar, ya guys.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top