
Dyah Wiyat berjalan mondar-mandir. Tubuhnya gemetaran sembari menahan bulir-bulir bening agar tak jatuh di pipi. Berkali-kali ia menggeleng mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Tangannya terulur meraih bejana yang berada dekat jendela, lalu melemparkannya. Suara keras yang ditimbulkan seketika membuat Dyah Gitarja lari tergopoh-gopoh memasuki kamar saudarinya itu.
“Ada apa?” Dyah Gitarja terperangah melihat kondisi Dyah Wiyat yang tak karuan.
“Kita harus melakukan sesuatu! Tak bisa kita biarkan Kakanda Kalagemet terus menerus seperti ini. Lihat apa yang baru saja ia perbuat kepadaku! Hampir saja aku kehilangan kehormatan!”
Dyah Gitarja menghampiri saudarinya. Dengan segenap ketenangan yang ia miliki, didekapnya sang adik. Meskipun hatinya sendiri membara mengetahui polah Kalagemet. Bukan kali pertama, Kalagemet bertindak tak senonoh terhadap saudarinya sendiri. Ia sendiri nyaris mengalami peristiwa serupa yang dialami Dyah Wiyat saat ini.
“Kita berdua adalah pewaris sah Wilwatikta sementara Kakanda Kalagemet hanyalah anak seorang garwa ampeyan. Tingkah lakunya pun tak mencerminkan seorang raja. Kakanda tak pantas menggantikan Baginda Kertarajasa!”
“Cukup, Dyah Wiyat! Cobalah menghormati paduka raja. Seburuk apa pun kakandamu itu, dia adalah junjungan tertinggi Wilwatikta,” sergah Dyah Gitarja dengan wajah merah padam. Bersigegas ia meninggalkan saudarinya itu seorang diri.
Perlahan, tubuh Dyah Wiyat luruh. Ia meremas kedua tangan sekuat tenaga. Kesekian kali, ia gagal mempengaruhi saudari kandungnya untuk menyingkirkan Kakanda Kalagemet. Padahal kesempatan untuk melakukannya terbuka lebar. Dyah Wiyat tahu banyak pihak yang tak suka terhadap baginda raja saat ini.
Senyum terkembang dari bibir Dyah Wiyat. ‘Aku tak akan menyerah, Kakanda Kalagemet. Akan kubalas semua perbuatanmu selama ini. Kedatanganku dari Daha ke kedaton ini bukan tanpa tujuan.’
***
“Ketahuilah adinda, kita tidak mungkin bersatu. Aku hanyalah rakyat jelata yang karena kebaikan ramamu hingga bisa menjadi bagian Dharmaputra.”
“Mengapa Kakanda Tanca selalu merendah? Jika rama mengangkatmu bukankah itu berarti Kakanda mempunyai kecakapan dan jasa bagi Wilwatikta.”
Ra Tanca tak membalas ucapan Dyah Wiyat. Kepalanya terus menunduk, segan untuk melihat meski hanya sekilas. Hingga terdengar suara lembut memanggil namanya. Kali ini, tak sanggup bagi Ra Tanca untuk tidak menengadah.
“Adinda, maafkan saya yang sudah sangat lancang menaruh hati kepada adinda. Sepatutnya, hubungan ini kita akhiri saja. Saya memang bukan lelaki sejati.” Ra Tanca berjalan mundur dengan berjongkok seusai pamit. Sungguh, sama seperti Dyah Wiyat, hatinya pun pedih. Namun, menurutnya, inilah jalan terbaik untuk mereka berdua. Dyah Wiyat, seorang sekar kedaton, tentu akan banyak lelaki yang ingin menikahinya.
“Adinda Dyah Wiyat.” Dyah Gitarja mengguncang-guncang bahu saudarinya itu. Sementara terlihat Dyah Wiyat tergeragap.
“Sedari tadi, Paduka memanggilmu tetapi kau diam saja.” Dyah Gitarja mengingatkan Dyah Wiyat.
Sepasang mata Dyah Wiyat beralih kepada dua lelaki yang berada di hadapannya. Kalagemet tersenyum sinis sedangkan Ra Tanca menunduk.
“Ingat, Dyah Wiyat, kedatanganmu ke sini sebagai Rajadewi Maharajasa Bhre Daha. Dan bukan sebagai putri kedaton yang pernah menaruh hati kepada seorang tabib istana. Ingat kedudukanmu!”
“Hamba akan selalu mengingat perkataan, Paduka.” Sesudah mengatakannya, Dyah Wiyah memandang ke bawah, berusaha menyembunyikan kecamuk yang ia rasakan. Ia merasa Kakanda Kalagemet telah mempermalukannya!
Baginda Raja Kalagemet meninggalkan ruangan diikuti Dyah Gitarja dan sejumlah pembesar kedaton lain. Sementara Dyah Wiyat masih mematung di tempat.
“Kakanda Tanca.”
Langkah Ra Tanca terhenti seraya memutar tubuh. Lelaki itu dan Dyah Wiyat saling berbalas pandang. Sekujur tubuhnya hampir saja gemetar manakala perempuan yang pernah singgah di hatinya tersebut mendekat.
“Aku ingin bicara padamu. Ini penting.” Suara Dyah Wiyat setengah berbisik membuat Ra Tanca mengangkat alis.
“Jika ini hanya untuk sebuah urusan pribadi, hamba tak berani,” kilahnya berusaha menutupi gemuruh dalam hati.
“Ini perintah, tabib Ra Tanca. Tiga hari lagi aku kembali ke Daha. Tak banyak waktu yang kupunya hanya untuk membicarakan sesuatu yang tak penting.”
Dyah Wiyat berlalu meninggalkan Ra Tanca seorang diri. Dalam hati, ia berharap kebaikan Dewata agar membantunya menyelesaikan pekerjaan ini. Hanya Ra Tanca yang bisa ia andalkan saat ini setelah Dyah Gitarja memilih setia kepada Sri Paduka.
‘Kakanda Tanca harus datang malam ini.’
Temaram obor yang menerangi sebuah pesanggrahan di luar kedaton diiringi jangkrik yang berderik menemani pertemuan dua anak manusia yang pernah memadu kasih. Mereka saling berhadapan dan menatap dalam satu sama lain. Sesaat, wajah Ra Tanca mengeras seusai mendengar penuturan Dyah Wiyat. “Ini adalah hal mustahil. Mana mungkin kau memintaku melakukannya,” kata Ra Tanca. Matanya sekilas tampak menyala.
“Kakanda, pikirkan nasib Wilwatikta ke depan. Selama Baginda Kalagemet memerintah, hanya musibah yang bisa ia ciptakan. Apa kau masih lupa dengan perlawanan yang dilakukan orang-orang kepercayaan ramaku?”
“Bagaimana aku bisa lupa sedangkan aku sendiri kehilangan sahabat-sahabatku di Dharmaputra. Ra Kuti, Ra Semi, Ra Pangsa, dan ….” Ra Tanca tak mampu lagi berucap. Wajah-wajah mereka mendadak berkeliaran memenuhi kepalanya. Ia lalu memejamkan mata. “Namun, bukankah kondisi Wilwatikta sendiri mulai tenang? Kuanggap nyawa para sahabatku serta orang-orang dekat Kertarajasa adalah tumbal yang diminta para Dewata untuk membuat Wilwatikta lebih baik,” sambungnya dengan nada rendah.
Dyah Wiyat tergelak mendengar kata-kata Ra Tanca. “Tumbal katamu? Apa kau yakin pengorbanan mereka hanyalah tumbal untuk Dewata demi mewujudkan Wilwatikta yang lebih baik? Tidak kakanda. Kau salah! Justru sesungguhnya Baginda Kalagemet-lah yang harus menjadi tumbal! Ia bukan trah murni Singasari. Hanya karena kebaikan biyungku saja maka ia bisa menjadi putra mahkota. Ia tak memiliki kecakapan untuk mewarisi kerajaan ini. Wilwatikta akan segera hancur jika terus dipegang oleh pemimpin yang tak bermoral. Pikirkan itu! Kudengar, Nyai Macakaru, istrimu, juga tak luput dari godaan Baginda Kalagemet, ha … ha … ha …. Hanya ksatria lemah yang tak mampu membela kehormatan istrinya,” ujar Dyah Wiyat dengan tatapan sinis kepada lawan bicaranya sebelum meninggalkan pesanggrahan.
“Dyah Wiyat, jaga ucapanmu!” teriak Ra Tanca dengan suara serak. Kemarahannya hampir saja meledak jika saja tidak dicegah lelaki yang menemani perempuan itu saat bertemu dengannya. Lelaki dengan sorot mata tajam tersebut menghadang Ra Tanca sembari tangannya bersiap menghunus keris.
Sosok Dyah Wiyat beserta pengawalnya berangsur menghilang ditelan kegelapan. Marah yang membuncah di dada Ra Tanca tak dapat ia tahan. Dyah Wiyat telah menghinanya. Ia memang bukan seorang ksatria yang pernah terjun langsung dalam medan peperangan. Tak seperti Ra Kuti, Nambi, maupun Ranggalawe, keahliannya hanyalah dalam urusan pengobatan.
Hati Ra Tanca terasa sesak. Pelita obor segera ia padamkan. Bersigegas ia kembali ke kompleks kedaton. Langkahnya setengah gontai memikirkan perkataan Dyah Wiyat. Meskipun perempuan itu telah menghinanya tetapi kata-kata yang keluar dari pemimpin Daha itu tentang Sri Paduka Kalagemet ada benarnya. Pikirannya terus berkecamuk, haruskah ia bertindak sesuai keinginan Dyah Wiyat? Bagaimanapun ini menyangkut kehormatannya sebagai suami Nyai Macakaru.
Tak terasa tiga hari berlalu sejak pertemuan rahasia Dyah Wiyat dan Ra Tanca. Selama itu pula keadaan kedaton tenang. Tak ada lagi keributan seperti saat Baginda Kalagemet berulah dengan bermain para perempuan di kedaton. Penyakit Baginda Kalagemet sedang kambuh.
Dyah Wiyat telah berada di kereta kuda yang akan membawanya kembali ke Daha. Ia pun sudah berpamitan kepada Dyah Gitarja dan Biyung Gayatri. Hanya patih Daha yang masih menunggu giliran bertemu Baginda Kalagemet yang sedang diobati tabib Ra Tanca. Dulu, patih Daha adalah bekas bekel raja ketika mengungsi ke Badander. Sang patih berjasa besar menumpas pemberontakan Ra Kuti yang sempat menguasai kedaton. Lalu, diangkatlah bekel tersebut menjadi patih Daha sebagai balas jasa.
Suasana pagi di kedaton sekonyong-konyong berubah gaduh. Tanpa pikir panjang Dyah Wiyat langsung turun dari kereta kemudian masuk ke kedaton. Sumber kegaduhan berasal dari kamar Baginda Kalagemet. Sesampainya di sana, dua orang terkapar bersimbah darah dengan masing-masing senjata yang masih tertancap pada tubuh Baginda Kalagemet dan Ra Tanca.
Dyah Wiyat menatap hampa kedua lelaki yang terbujur tanpa nyawa di hadapannya. Sekilas ia melirik patih Daha yang berada tak jauh darinya. Pelan-pelan ia menghampiri Ra Tanca yang tergolek dengan darah yang menggenangi sekitar tubuh lelaki itu.
‘Terima kasih, Kakanda Tanca. Kau sudah membuktikan ucapanmu. Kamu mungkin bukan ksatria palagan tetapi keahlian yang kau miliki setidaknya mengembalikan keturunan Keng Angrok ke singgasana Wilwatikta.’
Seulas senyum kecil muncul dari wajah Dyah Wiyat berbarengan dengan jeritan Dyah Gitarja dan Rajapatni Dyah Gayatri yang membahana memenuhi ruangan.
***
Keterangan
Jumantara: langit
Wilwatikta: sebutan untuk Kerajaan Majapahit di zaman dulu
Kalagemet: Nama asli Jayanagara
Garwa Ampeyan: Selir
Dewi Sartika adalah penulis kelahiran Lamongan tahun 1984. Banyak menulis di jaringshafa. Ia juga kontributor di telusuri.id, menulis di Medium & Kompasiana. Bisa disapa melalui Ig: @dewisartika8485




