
Ketika kerabat atau teman mengetahui bahwa saya merawat anggrek, beberapa bertanya, “Kok, bisa?” Saya maklum karena pelaku hobi itu biasanya adalah ibu-ibu paruh baya atau pensiunan yang punya banyak waktu luang (grup WhatsApp hobiis anggrek yang saya ikuti menunjukkan pola tersebut).
Saya memutuskan untuk menjadikan anggrek sebagai hobi pada tahun 2024. Ketertarikan sebenarnya sudah ada jauh sebelumnya, dibangun melalui buku yang diperkenalkan saat saya mengikuti program Bengkel Penulisan dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2007. Judulnya, Pencuri Anggrek (diterjemahkan dari The Orchid Thief) karya Susan Orlean, diterbitkan oleh Banana. Saat itu, mentor kami, Yusi Avianto Pareanom (pemilik Banana) dan AS Laksana menyebut tulisan Orlean sebagai contoh tulisan yang memiliki riset yang baik.
Orlean, seorang jurnalis untuk majalah The New Yorker, menulis Pencuri Anggrek melalui proses investigasi selama bertahun-tahun. Dia menghabiskan waktu sekitar dua tahun untuk mengikuti dan mengamati kehidupan John Laroche, protagonis dalam buku ini, serta menerjang rawa-rawa liar di Florida, untuk melihat langsung habitat anggrek hantu (Dendrophylax lindenii)—MacGuffin (objek penggerak narasi) dalam buku tersebut.
Pencuri Anggrek berpusat pada obsesi John Laroche terhadap anggrek hantu superlangka itu, sebuah kondisi yang secara historis disebut orchidelirium. Laroche yang eksentrik ditangkap aparat bersama tiga orang dari suku Seminole gara-gara mencuri anggrek hantu dari Cagar Alam Fakahatchee Strand. Premis itu menarik karena Pencuri Anggrek menceritakan betapa kasus itu tidak hanya melibatkan masalah kompleks seperti celah hukum adat, identitas budaya, serta kemandirian suku pribumi, tetapi juga moralitas Laroche yang mencuri tanaman langka justru untuk “melindunginya” (sebuah ironi!).
Orchidelirium
Mengapa anggrek bisa mengacak-acak kewarasan manusia hingga mengakibatkan orchidelirium? Dalam Pencuri Anggrek, Susan Orlean menyajikan tanaman itu sebagai entitas yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tanaman hias. Saya ingat betul membaca paragraf yang menggambarkan bahwa anggrek adalah salah satu tanaman yang evolusinya paling canggih di dunia. Bentuknya sering kali tidak biasa, keindahan warnanya unik, wanginya kuat, strukturnya rumit, dan mereka sangat berbeda dari kelompok tanaman lainnya.
Anggrek bisa tampak mirip anjing, bawang, Mickey Mouse, ekor tikus, tanduk kerbau, gurita, monyet, merpati, atau tampak mati, serta entah mengapa anggrek dalam buku itu disebut anggrek hantu (ada yang pernah melihat hantu?). Di kemudian hari, saya menginsafi bahwa sebutan anggrek hantu cukup umum. Selain Dendrophylax lindenii dari Florida yang disebut dalam buku itu, ternyata ada juga spesies Jawa seperti Chiloschista javanica dan Taeniophyllum hasseltii yang juga disebut anggrek hantu. Sebaliknya, ada juga anggrek yang berjulukan lebih suci daripada hantu: Peristeria elata atau anggrek roh kudus, Flor del Espíritu Santo, bunga nasional Panama (ini juga, ada yang pernah melihat Roh Kudus?).
Bentuk anggrek yang tidak biasa, aneh, dan ajaib (Orlean menggunakan frasa queer freaks), serta kepribadiannya yang menantang membuat banyak orang terobsesi padanya. Anggrek bisa tampak seperti tanaman yang manja, rapuh, dan membutuhkan kondisi tempat tumbuh serta perhatian khusus dari perawatnya. Sebaliknya, ia juga sangat tangguh. Banyak anggrek yang bisa berumur panjang melampaui umur pemiliknya, bahkan secara teknis masuk akal jika anggrek bisa hidup mendekati keabadian. Anggrek yang rapuh dan membutuhkan perlakuan khusus, tetapi berpotensi berusia panjang, menjadikannya tantangan yang eksotis. Ia bagaikan hadir untuk ditaklukkan, untuk dibungakan.
Membuat anggrek berbunga adalah suatu prestasi, medali tidak ternilai bagi manusia yang berhasil melakukannya. Ditambah lagi, jumlah anggrek sangat banyak. Ia adalah salah satu keluarga tanaman terbesar di dunia dengan jumlah 25–30 ribu spesies. Belum lagi penemuan spesies baru atau munculnya hibrida atau silangan baru, baik antarspesies maupun antargenera, yang selalu terdaftar di Royal Horticultural Society setiap tahun. Jumlah jenis anggrek selalu bertambah.
Oleh karena itu, kegilaan terhadap anggrek itu mengesankan dan dapat dimengerti. Seseorang ingin berprestasi, berhasil membungakan satu jenis anggrek. Keberhasilan itu sangat memuaskan. Lalu, dia ingin membungakan jenis lainnya, lalu yang lain pula. Lama-lama, satu-dua kepuasan itu menjadi renjana, keinginan untuk mengoleksi dan membungakan sebanyak mungkin jenis anggrek. Namun, ia adalah renjana yang mustahil untuk terpenuhi. Seorang kolektor dengan renjana besar untuk membungakan semua jenis anggrek dipastikan akan mati sebelum mencapai tujuannya.
Keunikan anggrek sebagai puncak proses evolusi tanaman pada akhirnya membuat Orlean mendeskripsikannya sebagai tanaman yang tampak cerdas (atau bahkan licik). Mungkin saya lebih sering mendengar kecerdasan dalam dunia satwa seperti pada kera besar, lumba-lumba, anjing, gajah, atau gurita, tetapi bagaimana bisa ada tanaman yang pintar? Namun, deskripsi itulah yang pada akhirnya tertanam kuat di benak saya sehingga akhirnya memutuskan: jika ingin memelihara tanaman, saya harus memelihara anggrek.
Pertemuan Tak Terduga
Saya bisa bilang bahwa program Bengkel Penulisan Novel DKJ hampir dua puluh tahun silam itu berhasil, setidaknya bagi saya. Selain memperkenalkan pesertanya pada teknik menulis dan karya-karya unggulan dari Jaroslav Hasek, Milan Kundera, Alice Munro, atau Sherman Alexie, program itu menanamkan ke saya sesuatu yang mengesankan tentang tanaman lewat Pencuri Anggrek (output yang tidak diduga, bukan?). Sekali lagi: jika ingin memelihara tanaman, saya harus memelihara anggrek.
Pertemuan itu datang pada akhir tahun 2019 ketika saya baru pindah ke Purwokerto. Ketika menuju Masjid Al-An’am untuk salat Jumat, saya menjumpai anggrek yang mekar di area gerbang masuk utara Fakultas Peternakan UNSOED. Roncean bunga putihnya segar dan menjuntai cantik sekali. Saya tidak memfotonya, tetapi saya mencarinya di Google berdasarkan kesan itu dan kemudian mengingat namanya: anggrek merpati (Dendrobium crumenatum). Itu anggrek pertama saya.
Saya datang dari Jakarta, kota berpolusi dan berudara buruk yang tidak memudahkan anggrek tumbuh liar. Namun, di Purwokerto saya dengan mudah menemukan anggrek merpati di pohon-pohon pinggir jalan. Biasanya mereka berbunga pada musim hujan karena dipicu oleh perubahan suhu ekstrem hasil transisi dari cerah ke hujan (tulisan-tulisan Seifriz, Burkill, serta Rutgers & Went seabad lalu mengonfirmasi mekanisme ini). Bila Purwokerto disiram hujan lebat, lihatlah tujuh atau delapan hari kemudian. Kita bisa menyaksikan pameran mekarnya anggrek dari jalan raya. Entahlah tentang kota lain, tetapi saya tidak menemukan fenomena itu di Jakarta.
Lalu, setelah mulai mapan dan memiliki rumah berpekarangan, saya mulai memikirkan bagaimana jika saya mengadopsi anggrek merpati di halaman belakang. Pada suatu hari, ketika parkir di ATM depan Fakultas Pertanian UNSOED, saya mencabut anggrek dari pohon di dekat situ. Besok paginya saya ke pasar dan meminta serabut kelapa ke bakul kelapa. Serabut itu menjadi medium tanam anggrek dan langsung saya tempelkan ke batang pohon tabebuia di halaman belakang rumah. Belakangan saya baru tahu bahwa cara itu sangat serampangan. Biasanya serabut kelapa direndam semalam suntuk dahulu untuk menghilangkan zat tanin yang toksik bagi anggrek.
Akan tetapi, nyatanya anggrek adopsi saya hidup sangat baik. Ia berbunga. Sekali, dua kali, lalu berkali-kali dari tanamannya yang makin lebat, rimbun, dengan perakaran bagaikan jaring putih Spider-Man serta tunas dan keiki yang tumbuh tak terkendali. Bunganya masih cantik (dan harum—kali itu saya merasakan wanginya!), tetapi hanya bertahan satu hari. Saya merasa berhasil–dan itulah yang kita bicarakan sebelumnya: saya merasa memiliki prestasi!
Ketika pertanyaan “Kok bisa?” (tentang saya merawat anggrek) itu muncul lagi, mungkin saya bisa bilang bahwa saya adalah salah satu manusia yang takluk pada tanaman ini. Obsesi John Laroche yang saya baca di Pencuri Anggrek mungkin adalah kegilaan yang ganjil dan asing, tetapi ironisnya kini saya mulai masuk ke dalamnya. Benih orchidelirium yang ditanam Susan Orlean lewat bukunya kini tumbuh di kepala saya. Mengoleksi dan membungakan anggrek menjadi adiksi, cara untuk memenuhi sekaligus menaklukkan ego karena merawat anggrek yang rapuh membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Tentu saja saya tidak akan merawat seluruh anggrek di dunia ini (kita sudah tahu itu mustahil). Namun, saya sukarela menyerahkan diri pada kegilaan yang indah ini.
Aldi Aditya adalah pecinta bunga anggrek yang saat ini mengajar di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman. Bisa disapa melalui Instagram @aldi.aditya.165.




