
Di sebuah desa bernama Desa Panembangan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang sederhana. Rumah mereka tidak besar, berdinding tembok dengan halaman yang kecil di depan, tetapi selalu terasa nyaman karena adanya orang tua yang memiliki rasa sayang yang cukup besar untuk anaknya. Di rumah itu terdapat anak laki-laki yang masih duduk di bangku SD tepatnya kelas tiga, ia bernama Edo. Ia juga merupakan anak tunggal dari sepasang kekasih bernama Mira dan Yudi.
Setiap hari, kehidupan keluarga itu berjalan dengan sederhana. Pagi hari diisi dengan aktivitas sekolah dan pekerjaan, sementara itu malamnya digunakan untuk berkumpul bersama di ruang keluarga. Namun di samping kehidupan sederhana mereka, Mira dan Yudi harus menghadapi ujian, menghadapi kebiasaan Edo yang membuat kedua orang tuanya khawatir.
Pada siang hari, tepatnya pukul setengah dua belas, Edo baru saja pulang dari sekolah. Wajahnya nampak murung. Ia masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam, lalu melepas sepatunya tanpa menaruhnya di tempat yang benar.
“Sudah pulang, Nak? Ayo cuci kaki dulu, baru masuk ke kamar,” ucap ibunya dengan lembut.
“Tidak mau, Bu. Edo mau langsung ke kamar saja,” jawab Edo dengan nada lesu.
Ia pun meletakan tas sekolahnya di meja ruang tamu, lalu langsung berjalan memasuki kamar dan menutup pintu kamarnya. Tanpa mengganti baju dan mencuci kaki dan tangannya,
Setelah melihat Edo pulang dengan wajah murung, Bu Mira tidak terkejut. Hal seperti ini sudah sering ia alami hampir setiap hari. Ia menghampiri tas sekolah Edo yang tergeletak di ruang tamu. Ia membuka tas tersebut dan memeriksa buku pelajaran Edo. Betapa sedih hatinya saat melihat angka nol tertera pada PR Edo. Seperti biasa, Edo kembali lupa dan enggan mengerjakan tugas yang diberikan gurunya.
Sementara itu, di dalam kamar, Edo sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan tertidur pulas. Seakan untuk melupakan omelan gurunya di sekolah.
Tepat pukul satu, Ibu Mira menghampiri kamar Edo, lalu masuk ke dalam.
“Edo, bangun, Nak. Ganti baju dulu, lalu salat dzuhur,” lirih ibunya sambil mengusap kepala Edo.
“Nggak mau, Bu. Edo mau tidur. Edo juga masih kecil jadi tidak harus salat,” jawab Edo dengan mata yang masih terpejam.
“ Justru karena kamu masih kecil, sayang, harus dibiasakan salat,” tutur Bu Mira dengan sabar.
Namun, Edo tidak menghiraukan perkataan ibunya. Ia tetap melanjutkan tidurnya hingga sore hari, masih dengan seragam sekolah yang ia kenakan.
Matahari mulai condong ke barat, sinarnya masuk melalui jendela kamar Edo. Namun Edo masih terlelap di atas tempat tidurnya dengan seragam sekolah yang belum juga diganti.
Bu Mira kembali masuk ke kamar dengan langkah pelan. Ia menatap anaknya yang masih terlelap dan berniat membangunkannya.
“Edo… bangun, Nak. Sudah sore,”ucapnya sambil mengelus kepala Edo.
Edo mengerjap pelan, lalu membuka matanya.
“ Ayo bangun, Nak. Mandi lalu salat asar ya”. Lirih Bu Mira lalu meninggalkan Edo karena sudah di pastikan ia sudah bangun.
Edo hanya diam. Lalu kemudian ia bangkit perlahan duduk di tepi ranjang malas. Ia masuk kedalam kamar mandi akan tetapi tidak mandi hanya membasuh mukanya lalu keluar. Ia juga tidak melaksanakan shalat asar, ia langsung menuju ruang keluarga dan melihat televisi yang sedang menayangkan kartun. Ia tertawa terbahak-bahak disetiap adegan lucu. Tanpa dia sadari Bu Mira menghampiri anaknya sambil membawa buku pelajarannya.
“Edo, kamu lupa lagi tidak mengerjakan PR ?” Tanya Bu Mira.
Edo sudah mengira, jika ibunya pasti akan membahas hal ini.
“Iya bu, Edo lupa”. Jawab singkat Edo
Bu Mira menghela nafas sabar, sudah tau kalau jawaban Edo akan seperti itu.
“Nanti malam kamu tidak boleh menonton televisi. Kamu harus belajar.” Perintah ibunya dengan nada sedikit agak tegas.
Edo yang mendengarnya semakin murung, lalu menjawab dengan nada keras.
“Tidak mau ibu, besok libur sekolah aku mau menonton televisi saja, tidak mau belajar!” jawabnya dengan nada tinggi.
Mendengar jawaban Edo, hati Bu Mira seakan seperti diiris tipis. Ia sebenarnya sudah mendapat telepon dari sekolah kalau Edo sering bermalas-malasan di kelas dan terancam tidak naik kelas.
Suasana sudah memanas, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata, ayah Edo sudah pulang sejak pukul tiga sore tadi, ia mendengar percakapan antara ibu dan anaknya.
“Ada apa ini? Edo, kenapa kamu membantah ibu?” tanya ayah.
Edo langsung mengadu, “ Ibu menyuruhku belajar terus, padahal aku mau menonton televisi. Besok juga libur sekolah. Pokoknya aku tidak mau belajar malam ini!”.
Ayah mengangguk pelan. “Hm… ya sudah, Nak. Kalau kamu tidak mau belajar”.
“Mas, kenapa malah membiarkan Edo tidak belajar?” Sela Bu Mira dengan nada khawatir.
Ayah menoleh dan berkata pelan, “Biarkan saja dulu, Bu. Nanti malam ayah akan mengatasinya”.
Suasana rumah sore itu terasa tegang setelah perdebatan antara Edo dan ibunya. Edo yang kesal memilih duduk di depan televisi, matanya terpaku pada layar tanpa memedulikan perkataan Ibu.
Bu Mira hanya bisa menghela napas panjang. Ia sudah lelah mengingatkan Edo yang sering lupa mengerjakan pekerjaan rumah dan malas belajar. Ayah yang memperhatikan memilih untuk diam setelah mengeluarkan beberapa kata dan menunggu waktu yang tepat.
Setelah makan malam. Edo kembali asyik menonton televisi, melupakan semua nasihat yang diberikan ibunya.
Tiba-tiba…..
“Duk!”
Listrik di rumah padam. Televisi pun langsung mati.
“Yahh… kok mati siih!” keluh Edo kesal.
Rumah mendadak gelap. Tak lama kemudian, ayah datang membawa lilin.
“Sepertinya listriknya padam,” ucap ayah tenang.
Edo mendesah panjang. “Jadi tidak bisa nonton….”
Ayah tersenyum tipis, lalu duduk di samping Edo. “Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita istirahat saja? Ayah temani kamu tidur… sekalian ayah mau membacakan buku cerita yang baru ayah beli tadi sepulang kerja”.
Edo terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia pun mengikuti ayah masuk ke kamar. Dalam cahaya lilin yang temaram, ayah mulai bercerita dengan suara hangat yang menenangkan. Perlahan, mata Edo mulai terpejam lalu tertidur pulas.
Dalam tidurnya Edo bermimpi… Edo berdiri di depan cermin. Ia terkejut.
“Hah? Aku jadi monyet?” serunya.
Namun bukannya sedih, Edo justru merasa senang.
“Asyik! Aku tidak harus belajar, salat, dan tidak perlu mendengar omelan ibu di rumah atau ibu guru di sekolah”. Katanya kegirangan sambil melompat-lompat layaknya lompatan seperti monyet.
Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang.
“Hai, Edo! Ayo keluar, kita latihan sirkus!” ujar seorang ketua sirkus.
Edo pun ikut bergabung bersama monyet-monyet lain. Mereka semua terlihat sangat mahir melakukan berbagai atraksi. Edo mencoba mengikuti salah satu atraksi. Ia mencoba mengambil tiga bola lalu berlatih melemparnya, tetapi karena tidak terbiasa, Edo jadi kesusahan. Bola-bola itu terus berjatuhan ke lantai.
“Aduh … susah sekali,” gumannya.
Ketua sirkus yang melihat Edo langsung marah. “Kamu berlatih yang benar! Nanti malam kita semua harus tampil kamu harus berlatih lebih keras sampai bisa”. Edo pun terus berlatih, saat perutnya lapar ia meminta makan terhadap ketua sirkus, akan tetapi ia tidak diberi. Hati Edo tiba-tiba menjadi sedih, teringat akan orang tuanya yang setiap hari mengingatkannya untuk makan.
Malam pun tiba. Saat pertunjukan dimulai, Edo dipaksa ikut tampil. Ia mencoba melakukan atraksi, tetapi berkali-kali jatuh.
Penonton mulai menertawakannya.
“Ih, monyet itu kok tidak bisa apa-apa sih!”
“Kita ke sini mau lihat yang bagus, bukan yang bodoh!”
“Sudahlah kembalikan saja monyet itu ke hutan!”
“Dasar monyet bau, tidak bisa apa-apa!”
Kata-kata itu menusuk hati Edo. Ia menjadi sangat sedih.
Mendengar ejekan penonton yang tertuju ke Edo membuat ketua sirkus marah. Kemudian Edo ditarik keluar panggung.
“Kamu memalukan saya! Besok kamu akan saya antar kembali ke hutan. Dasar monyet tidak berguna!” bentaknya.
Keesokan harinya, Edo benar-benar di antar kembali ke hutan dan ditinggalkan sendiri. Ia duduk di tepi sungai. Perutnya lapar, ia tidak tahu harus bagaimana di sini. Badannya lemas, ia melihat bayangan dirinya di air sungai yang jernih. Ia menatap dirinya yang sangat kotor dan lusuh.
“Aku tidak mau jadi monyet lagi…aku tidak mau di bilang bodoh… Ayah…Ibu … Edo kangen….” Ucapnya sambil menangis.
Tangisnya semakin keras….
Hingga akhirnya…
Edo terbangun.
Ia melihat sekelilingnya, ternyata hanya sebuah mimpi dan di sampingnya masih ada ayahnya yang masih terlelap. Edo terdiam. Dalam hatinya, ia mulai mengerti dan memahami sesuatu.
“Aku tidak mau seperti itu…aku harus berubah,” batinnya.
Keesokan paginya, di hari minggu yang cerah, Edo bangun lebih awal. Ia menepuk pelan bahu ayahnya.
“Ayah, bangun…ayo salat, lalu kita jalan-jalan pagi,” ajaknya.
Ayah terkejut sekaligus merasa senang melihat perubahan itu.
Setelah salat, Edo berjalan pagi bersama ayahnya selama kurang lebih tiga puluh menit. Udara yang masih segar membuatnya merasa lebih bersemangat.
Sesampainya di rumah, Edo langsung membantu ibu. Ia membereskan kamarnya, menata rapi buku yang ada di meja belajarnya lalu mandi dengan benar. Air yang membasahi tubuhnya membuat tubuhnya segar. Setelah semua selesai dan rapi. Edo membantu ibunya menyiapkan sarapan. Mereka pun sarapan bersama sambil mengobrol hangat.
“Ayah, ibu…Edo tidak mau jadi seperti monyet di mimpi Edo. Aku mau berubah. Nanti siang Edo mau belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. Edo juga janji tidak akan meninggalkan salat lagi, dan akan mandi dengan benar,” ucap Edo sehabis sarapan dengan tangannya memeluk ibunya. Ayah dan ibunya tersenyum haru.
Sejak hari itu, Edo benar-benar mengubah pola hidupnya. Waktu yang biasanya digunakan untuk menonton acara di televisi, kini ia gunakan untuk belajar dan mengerjakan PR. Edo menjadi pribadi yang lebih disiplin, rapi dan rajin. Usaha yang dirakitnya perlahan juga tidak sia-sia. Edo berhasil naik kelas dengan nilai yang cukup baik. Ayah dan Ibu Edo sangat bangga dan senang melihat perubahan anaknya.

dari Banyumas menyapa Indonesia




