
Malam adalah waktu untuk wayang terasa hidup. Cahaya lampu temaram, suara denting gamelan, dan bayangan tokoh yang bergerak di balik kelir. Dahulu, pertunjukkan wayang dapat mengumpulkan ratusan hingga ribuan penonton di satu ruang. Kini, panggung tersebut berpindah ke layar ponsel. Namun, Bagi Bramantyo Hardo Saputro (24), seorang dalang muda asal Banyumas, hal tersebut bukan menjadi alasan untuk menghentikan sebuah cerita.
Sejak kecil, Bramantyo tidak serta-merta menyukai dunia pewayangan. Ia tumbuh di keluarga yang sangat dekat dengan seni tradisional. Sang kakek memiliki hobi bermain gamelan, kemudian diwariskan ke ayahnya. Dari suara itulah yang kelak akan menjadi bagian hidupnya.
“Awalnya saya biasa saja. Tapi karena sering dikenalkan orang tua untuk menonton wayang, dan dipertemukan dengan dalang-dalang terkenal, lama-lama jadi suka,” ujarnya, sembari mengingat masa kecilnya dulu. Sejak kecil, ia lebih sering melihat dari sudut panggung, mengamati setiap gerak wayang dari kejauhan. Ia hanyalah seorang anak yang tertarik kepada gerakan tangan dalang, suara sinden, dan denting gamelan yang menyatu menjadi satu cerita yang penuh makna
Perjalanan awal
Ketertarikan itu tumbuh secara perlahan. Ia mulai belajar mendalang sejak kelas 3 SD (Sekolah Dasar), meskipun pada saat itu ia belum menampilkan secara resmi di depan publik. Sebuah kesempatan yang ia nantikan pun datang ketika kelas 6 SD. Untuk pertama kalinya Bramantyo tampil di hadapan ratusan penonton. Rasa grogi, takut, dan ragu bercampur menjadi satu. Namun, pengalaman itu justru menjadi keyakinan baginya untuk melangkah di dunia pewayangan.
Seiring berjalannya waktu, kesempatan terus datang untuk Bramantyo. Pada saat Bramantyo kelas 10 SMA (Sekolah Menengah Atas), ia diberi kesempatan untuk menampilkan kemahirannya dalam memainkan wayang di acara Spartafest, sebuah acara untuk memperingati hari ulang tahun sekolahnya. Penampilannya mendapat apresiasi dari penonton, membuatnya kembali diundang untuk tampil pada tahun berikutnya. Pengalaman tersebut semakin memantapkan pilihannya untuk menekuni seni pedalangan.
Perjalanan Bramantyo kemudian berlanjut ke bangku kuliah. Ia memilih melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dengan jurusan Seni Karawitan. Bukan tanpa alasan ia memilih jurusan ini, karena pedhalangan sangat erat kaitannya dengan music pengiringnya. Baginya Pendidikan formal menjadi bekal penting untuk memperdalam pemahamannya akan dunia seni. Hal tersebut membuatnya ingin melanjutkan kembali pendidikannya, yaitu S2 di program studi Seni Pertunjukan.
Ketika panggung mulai berubah
Meski demikian, menjadi seorang dalang di era modern tidaklah mudah. Bramantyo menyadari bahwa menjadi seorang dalang di zaman sekarang merupakan sebuah tantangan. Seiring berjalannya waktu, jumlah penonton kini mulai berkurang.

“Kalau melihat indikatornya, hari ini lebih sedikit daripada yang dulu. Itu suatu keniscayaan.” Ucapnya. Dulu, pertunjukkan wayang dipenuhi oleh suara canda tawa dari penonton. Orang-orang rela duduk semalaman untuk menantikan akhir dari sebuah cerita hingga fajar menyingsing.
Kini kebiasaan itu mulai tergeser. Banyak orang yang lebih memilih untuk menatap layar ponsel dibandingkan melihat suatu pertunjukkan seni. Pergeseran ini yang menjadi suatu tantangan bagi para pelaku seni.
Menurut Bramantyo, menurunnya jumlah penonton diakibatkan oleh beberapa faktor. Misalnya, penggunaan Bahasa Jawa yang tidak dipahami oleh generasi muda, durasi yang panjang, serta minimnya ruang untuk melestarikan sebuah karya menjadi penyebab utama. Adanya perubahan gaya hidup masyarakat juga menjadi faktor yang sulit, karena masyarakat lebih memilih untuk menonton video hiburan di dalam ponsel, daripada pertunjukkan tradisional.
“Ruang berkarya semakin sempit,” ujarnya. Hal tersebut tidak membuat Bramantyo menyerah. Ia percaya bahwa seorang seniman harus totalitas dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Salah satu langkah yang ia gunakan adalah memanfaatkan teknologi, dengan mengadakan siaran langsung saat memainkan wayang. Melalui cara ini, ia berharap pertunjukkan wayang dapat dinikmati dalam jangkauan yang luas.
Menjaga cerita di tengah perubahan
Bramantyo menyadari akan pentingnya menjaga sebuah tradisi. Sebagai bentuk pelestarian seni tradisional, ia membuat suatu media yaitu Kabramantyan Art & Culture Center. Sebuah komunitas untuk belajar seni pewayangan dan karawitan. Di sana baik dari anak-anak hingga orang dewasa akan belajar mengenal wayang dengan lebih dekat. Dengan adanya komunitas ini, Bramantyo berhasil merangkul masyarakat agar mengingat tentang seni tradisional. Ia sadar bahwa seni harus ditanamkan sedari kecil, agar tidak ditelan oleh waktu.
Tak berhenti di situ, Bramantyo juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana pelestarian. Ia membuat akun @kabramantyan_official di Instagram. Di sana ia membagikan informasi tentang dunia karawitan, pewayangan, dan sastra. Baginya, pelestarian tradisi harus mengikuti cara masyarakat untuk mengakses.
“Selain belajar tradisi, kita juga belajar tentang kehidupan.” Katanya. Setiap tokoh tentunya memiliki sifat moral yang dapat menjadi sebuah pelajaran dalam kehidupan. Melalui pertunjukan wayang, Bramantyo ingin menyampaikan pesan kehidupan kepada masyarakat. Ia berharap generasi muda tetap memiliki kepedulian terhadap tradisi dan ikut mengambil peran dalam pelestariannya.
Pelestarian budaya dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membuka ruang kesenian hingga memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi budaya. Baginya, tradisi tidak harus terjebak di masa lalu, tetapi bisa berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman.
Di wajahnya tersirat senyum optimistis. Dunia memang terus berubah, tetapi semangat untuk menjaga sebuah wayang tetap ada. Di tangannya, bayang-bayang itu bukan sekadar hiburan, melainkan cerita panjang yang terus diperjuangkan agar tidak hilang ditelan zaman.
“Tradisi tidak harus terjebak di masa lalu, tetapi bisa berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman.”
*Artikel ini terpilih sebagai juara harapan I dalam lomba FLS3N 2026 Cabang Jurnalistik Tingkat Kabupaten Banyumas.
Shabrina Lubna Azizah adalah siswi dari SMA N 1 Jatilawang. Aktif dalam kegiatan literasi dan kesehatan siswa (PMR). Bisa disapa melalui Instagram @_llubnaz.




