
Untuk Sephia,
Hari ini kuantarkan bekal untukmu. Kau tidak perlu memasak, makanannya aku jamin enak. Dapat kausajikan untuk keluargamu, penuh kehangatan, seolah penuh rasa cinta dan kesetiaan kepada keluarga. Ada makanan pembuka, hidangan utama, dan pencuci mulut. Minuman esnya pun aku simpan terpisah dalam kotak es.
Aku ingin memastikan kau menerima bekal ini dalam keadaan hangat. Warna rantangnya berwarna merah muda dengan gulungan pita yang aku anyam serupa dengan kepang rambutmu. Aku memilih warna ini, karena akan selalu mengingatkanku pada bagian tubuhmu, yang menjadi favoritku.
Anak-anak dan pasanganmu pasti mengira, bakat masakmu baru ditemukan. Jangan khawatir, resepnya aku tuliskan terpisah. Tak lupa aku selipkan berbagai resep untuk seminggu dan tidak akan membosankan. Kautinggal menggantinya dengan protein yang ada. Hei, jangan lupa dengan protein nabati.
Aku paham kolesterol, tekanan darah tinggi, dan gula akan mempengaruhi urusan ranjang. Sebab itu, aku memasaknya dengan alat masak berkualitas. Menghitung takarannya dengan presisi.
Memastikan, kau bisa menikmati masakan ini, dengan hanya sedikit rasa bersalah. Aku memanfaatkan dengan baik penggoreng tanpa minyak pemberianmu, dengan watt rendah. Cocok dengan rumah KPR subsidi 36 milikku, dengan listrik hanya 900 VA.
Aku mulai dengan makanan pembuka, risol. Ini makanan yang menyerap banyak minyak, tetapi kali ini alat itu membantuku dapat memasaknya tanpa teknik menggoreng rendam. Risol ini kulitnya aku buat setipis mungkin, agar tubuhmu dan keluargamu tidak berlebihan memakan karbohidrat.
Isiannya jelas premium, telur rebus yang berasal dari ayam petelur yang bebas dari kandang. Jaminan omega 3 yang bagus buat tumbuh kembang anak-anakmu. Aku tambahkan juga daging asap dari sapi Angus. Kejunya mozarella, aku membuatnya sendiri dengan campuran lemon dan susu cair segar dari peternak di dekat rumahku.
Aku menambahkan elemen kejutan di dalamnya, rawit. Aku mengirisnya tipis sekitar lima irisan, mengingatkan jumlah kencan kita sebelum ke ranjang. Aku ingin melatih anak-anakmu, supaya mendapat kenikmatan hidup dari pedasnya rawit sejak kecil. Agar mereka tidak perlu melakukan tindakan “pedas” seperti kita, hanya untuk menikmati hidup.
Mayo sudah aku siapkan sebagai cocolan. Mayo buatanku, lagi-lagi tanpa minyak, tinggi protein. Telur rebus, cuka, madu, air, bubuk bawang putih, dan garam himalaya. Makanlah perlahan, pastikan kau sangat menikmati bagian kriuknya.
Makanlah sampai bercucuran keringat, pada bagian ini saat anak-anak dan pasanganmu perlu mencari air es, aku ingin kau rehat sejenak. Ingatlah saat keringat kita menyatu menjadi satu aliran yang deras. Saat kita begitu lengket, tak ada sekat antara tubuh kita.
Persembahan utamanya ada di menu utama. Sebuah soto paling berempah dari Kalimantan, menggunakan ayam pejantan organik. Ayam jago itu aku ternak sendiri, pakan dari sayur-sayuran sisa di pasar ditambah juga dengan ulat maggot. Aku jamin tak ada bahan kimia atau bama yang masuk ke ayam itu. Aku pastikan bobotnya dua kilogram.
Ayam itu mengingatkanku seperti hubungan kita, merawatnya dengan cinta. Seandainya pun boleh kusebut cinta. Lalu saat waktunya tiba, aku harus menyembelihnya, dan orang lain yang menikmatinya. Seperti aku tahu kapan saatnya melepas kau dariku.
Rempah dalam soto ini begitu kompleks dan punya cita rasa yang kaya. Kapulaga, kayu manis, cengkeh, lawang, jahe, lada, jinten, pala, dan lainnya. Temanku menunjukan dari instagramnya, jika kau akan liburan sekeluarga ke puncak, cocok dengan masakanku. Aku tak bisa lagi memelukmu, tapi melalui masakanku yang berempah ini, kehangatanku pun akan sampai. Menemani dari dinginnya puncak dan juga pasanganmu, yang tak kalah “dingin’-nya dibanding aku.
Aku memasaknya dengan begitu proporsional, seimbang. Kau tidak akan menemukan bumbu yang dominan. Cita rasa yang begitu kompleks, kaldu dari ayam akan mengikat semua bumbu, menjadi sebuah harmoni. Membangkitkan semua saraf lidahmu.
Rasa rempah itu akan masuk dengan sopan ke tenggorokanmu. Membangkitkan reseptor glutamat setelah kau memakannya. Meninggalkan kelembutan sebagai rasa sisanya. Ini benar-benar tanpa vetsin, aku merebusnya dengan telaten sampai kaldu-kaldu itu keluar.
Aku menambahkan pelengkap soto itu juga, khusus dirantang ketiga. Ada limau kuit, sambal matah, bawang goreng, perkedel, seledri cincang, telur rebus, dan bihun. Sungguh aku kehilangan akal untuk menaruh kecap secara terpisah. Aku yakin dirumahmu, pasti ada kecap anti-alergen dan rendah gula itu.
Tolong jangan remehkan pelengkap ini, kau harus meraciknya sendiri dan takarlah dengan paripurna. Perasan limau yang kebanyakan, sambal yang terlalu sedikit, atau kecap yang tidak premium, dapat merusak kerja kerasku di soto itu. Aku percaya kau tahu, bahwa seledri harus benar-benar ditambahkan ketika soto itu ingin disantap. Perkedel pun jangan terlalu banyak, itu akan membuat kental kuahnya.
Soto dan pelengkapnya adalah satu kesatuan. Memang soto seperti tokoh utama, seperti dapat berdiri sendiri, tetapi ia rapuh ketika berdiri sendiri tanpa figuran. Pedasnya sambal, kecutnya limau, manisnya kecap, sampai umaminya kuning telur rebus yang menyatu dengan kuah kaldu, terlalu sayang untuk dilewatkan. Mereka harus saling berpadu.
Ini seperti engkau, yang akhirnya memerlukan aku sebagai pelengkap, meskipun sudah punya pasangan sebagai yang utama. Kau selalu mengeluh tentang pasanganmu, yang katamu semua kekurangan dia terlengkapi dengan adanya aku. Jangan pernah remehkan aku sayang. Tapi kau juga sadar, jika harus memilih antara yang utama dan pelengkap, kau memilih yang utama.
Lebih mudah memakan nasi panas dengan soto saja, daripada memakan nasi hanya dengan kecap, sambal, dan limau bukan? Hahahaha, jangan sepelekan aku sayang. Rasa pedas dan kecut itu, gelora yang kau cari-cari itu hanya aku yang bisa memberikan. Akulah penyegaranmu, saat kebosananmu melanda deras-derasnya.
Ini kuncinya, es sarang walet. Aku tahu betul selera premium kau. Sering kau bercerita betapa nikmat dan bermanfaatnya sarang walet buat kesehatan. Aku membeli sarang walet tipe mangkok, putih dan bersih. Kata orang, itu tipe sarang walet paling mahal.
Walet sama sepertimu. Menjelajah berbagai macam tempat, tapi tetap kembali ke sarangnya. Aku seperti alam, tempatmu menjelajah. Tempatmu membuka topeng, yang bahkan dirumahmu, masih kau pasang. Seperti walet, kau tahu saat waktunya pulang ke sarangmu dan merawat anak-anakmu. Sedang di luar, aku menjadi tempat terliarmu. Betapa hidup penuh kemunafikan.
Kau tahu, saat kita saling menggebu, rayuan maut, dan segala omong kosong begitu mudah dilontarkan. Seolah kita menyebut ini dengan bahagia. Atau terlalu jauh lagi, kita mengharapkan ikatan suci sebagai ujungnya. Seperti kau tidak mengharapkan anak-anakmu pernah lahir di dunia ini. Semuanya demi aku.
Tetapi aku lebih rasional daripadamu. Aku tak pernah seperti kau, yang menjanjikan untuk hidup bersama. Aku tahu, tak ada kebahagiaan yang tumbuh di atas pengkhianatan. Tak cinta yang bersemi bersama sebuah kebohongan.
Semua protein nabati dan hewani, sayur-sayuran, sampai buah-buahan yang aku persembahkan dalam rantang ini. Memiliki syarat, hanya bisa tumbuh dan hidup diatas tanah yang subur. Tanah yang harus digemburkan dan ditambahkan kompos. Dialiri dengan air, tapi tak ada tanah yang benar-benar bisa menghindari dari benih-benih rumput liar.
Sungguh, petani-petani organik bekerja dengan keras mencabut dan memotong rumputnya agar tak kalah bersaing dengan tanaman utama. Jauh lebih baik mencabutnya dengan tangan, ketimbang membunuhnya dengan pestisida. Rumput-rumput itu kemudian harus mati dulu, untuk kemudian menjadi pupuk alami yang bermanfaat.
Itulah aku, benih rumput liar itu. Meski pasanganmu memperhatikanmu, merawatmu, memberikan segala materi bahkan keturunan yang menggemaskan. Kau tak bisa mengabaikanku, kau memberi ruang rumput liar sepertiku agar tetap bisa hidup di tanah suburmu.
Sama seperti rumput liar pula, aku harus mencabut diriku darimu. Segala hal yang kuajarkan kepadamu terutama tentang gairah, saat menjelajah masing-masing tubuh kita. Kenikmatan melukis dinding kamarku, dengan sisa-sisa keringat kita. Silakan kau lakukan dengan pasanganmu.
Jangan merindukanku, jangan pula memikirkanku. Apalagi sampai berkhayal menjadi jodoh di kehidupan setelahnya. Tidak perlu, aku sudah masuk ke tubuhmu lewat semua nutrisi ini. Aku ada dalam dirimu. Tentu setelah semua pencernaanmu mengerjakan tugasnya, aku akan hilang bersama dengan kotoranmu.
Bekal ini adalah tanda perpisahan dariku. Tanda nafsu yang tak abadi. Sebuah perpisahan yang getir, dari sebuah permulaan yang hina. Aku menemui diriku sebagai yang paling romantis dan manis saat bersamamu. Tetapi aku juga menemui sisi terjahatku sebagai pengkhianat, penghancur, saat tidak bersamamu.
Saat kau sedang bersama pasanganmu. Aku ditemani kesepian yang paling mendalam. Kejijikan yang tak bisa lepas dan kehinaan yang berkepanjangan. Lorong-lorong gelap yang terlalu panjang dan saling berkelindan dengan dosaku yang lain.
Di ruang segi empat, tempat paling favorit bersamamu, aku terhenyak. Mengingat, saat bersamamu menyantap mie instan setelah ritual kita. Tempat kita berbagi kopi dari cangkir yang sama, dimana aku selalu meminum dari sudut gelas bekas lipstikmu.
Aku akhirnya menemui betapa kotornya diriku dan tak tahu kemana aku harus membersihkannya. Seperti menunggu kapan pasanganmu menghampiriku. Meludahiku, sambil memastikan aku merasakan neraka di bumi tapi tidak di akhirat.
Setelah menyajikan bekal untukmu, aku bercermin diatas sisa kuah kaldu bening soto rempah itu. Kuah bening itu, membuatku mampu melihat jernih diriku sendiri. Seseorang yang masih layak dicintai. Seseorang yang ingin dicintai sepenuhnya, tanpa pernah berbagi dengan orang lain.
Hari-hari penuh gairah namun dengan kesepian akut itu, tentu tak sebanding jika aku menemukan satu saja, hari bahagiaku. Hari dimana aku bisa mencintai seseorang dan menunjukkannya. Hari disaat luka-luka itu sudah sembuh. Bekasnya masih ada, tapi itu hanya sebatas pengingat, bukan sesuatu yang harus diratapi. Cintaku penuh daya telah lama berlabuh pada tempat yang salah, kini saatnya perjalanan itu berlanjut. Aku tak perlu menjelajah seluruh samudra, tapi cukup ketika pelabuhan itu menyambutku penuh hangat, aku jadi tahu dimana aku harus pulang dan menetap.
Jika kau atau bahkan hidup tak memberi kesempatan kedua, maka aku akan menciptakan kesempatanku sendiri. Aku mulai dengan mencintai lagi diriku sendiri, mengampuni, dan menerimanya tanpa syarat. Aku sepertinya akan pulih, hidupku akan baik-baik saja, semoga juga denganmu.
Aloysius Germia Dinora seorang pekerja NGO lingkungan, yang juga petani sayuran dan walet. Sekarang tinggal di Bogor Kota untuk melanjutkan studi. Sapa saja di Instagram: @aloydinora.




