Sumber Kehidupan dari Telaga Kumpe

Di kaki Gunung Slamet, Kabupaten Banyumas menyimpan banyak cerita yang menghubungkan manusia, alam, dan tradisi. Salah satunya adalah kisah tentang Telaga Kumpe, sebuah telaga jernih di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, yang lebih dari sekadar objek wisata; telaga tersebut menjadi simbol keseimbangan antara manusia dan alam. Kenapa begitu? Dalam tradisi masyarakat setempat, rutin dilakukan resik telaga secara gotong royong, yaitu kegiatan membersihkan telaga dan lingkungan sekitarnya. Kegiatan ini bukan hanya sekadar ritual sosial, tetapi cerminan budaya ekologis yang hidup dalam masyarakat Banyumasan.

Dalam sejarahnya, tradisi resik telaga bermula dari kebiasaan warga yang sangat tergantung pada sumber air setempat. Mereka memandang telaga bukan sekadar objek alam, tetapi bagian dari tatanan hidup yang harus dijaga. Nah, sebelum kerja bakti dimulai, warga berkumpul di balai desa, kemudian bersama-sama berjalan menuju telaga dengan sapu, ember, dan alat sederhana lainnya. Laki-laki membersihkan dasar telaga dan pinggirannya dari sampah serta lumut, sementara perempuan menyiapkan tumpeng sederhana atau makanan bersama sebagai penutup kegiatan. Suasana gotong royong yang penuh canda dan keakraban khas Banyumasan menjadikan kegiatan ini bukan kewajiban yang berat, tetapi aktivitas kebersamaan yang menyenangkan untuk menjaga lingkungan.

Di balik kesederhanaan itu, tradisi ini dapat dibaca sebagai wujud literasi ekologis lokal. Masyarakat Banyumas telah memahami bahwa menjaga lingkungan—khususnya air—adalah menjaga kehidupan, jauh sebelum kata “ekologi” menjadi istilah populer. Nilai seperti tidak membuang sampah ke telaga, menjaga pepohonan di pinggir telaga, serta menanam kembali tumbuhan di sekitarnya menjadi bagian dari pengetahuan turun-temurun. Anak-anak yang ikut dalam kerja bakti mungkin tidak dibekali teori ekologi, namun melalui pengalaman praktis mereka belajar, memahami secara tidak langsung bahwa alam di sekitarnya adalah tanggung jawabnya.

Karakter budaya Banyumas yang egaliter dan guyub tersirat kuat dalam aktivitas ini. Dalam resik telaga, tidak dibedakan antara petani, pedagang, perangkat desa, atau anak muda—semuanya berkumpul bergotong royong. Nilai gotong royong ini menjadi pondasi bahwa lingkungan bukan hanya urusan individu, tetapi tanggung jawab bersama. Kegiatan seperti ini menjadi ruang sosial tempat literasi budaya dan ekologis bertemu, memahami bahwa manusia menjaga alam, alam memberi kehidupan, dan kebersamaan manusia menciptakan literasi bersama.

Kalau kita lihat dari sisi ekologi, tindakan-tindakan kecil itu memiliki dampak nyata. Mengangkat lumut dan sedimen dari dasar telaga menjaga kejernihan air, mencegah ganggang berlebih yang bisa mengganggu ekosistem. Mengumpulkan sampah plastik dari tepian dan mengolahnya membuat aliran telaga tetap bersih dan ikan tetap bisa hidup. Warga juga menanam bambu dan pisang di pinggir telaga untuk menahan erosi dan menjaga kelembapan tanah. Praktik sederhana ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi tinggi, tetapi cukup kesadaran dan kolektivitas. Nah, dalam hal ini, Telaga Kumpe menjadi saksi bahwa masyarakat lokal telah menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam tataran sehari-hari.

Namun kini, seiring meningkatnya kunjungan wisata, Telaga Kumpe menghadapi tantangan baru. Dari liputan media diketahui bahwa telaga ini menjadi destinasi healing yang ramai dan fasilitasnya terus berkembang. Di satu sisi, kunjungan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, namun di sisi lain muncul potensi pencemaran, sampah wisatawan, dan kerusakan vegetasi pinggir telaga. Oleh karena itu, literasi lingkungan bagi generasi muda semakin penting; mereka tidak hanya menjaga alam lewat sapu dan ember, tetapi juga lewat kesadaran bahwa pariwisata yang berkembang harus selaras dengan pelestarian budaya dan lingkungan lokal.

Sementara itu, media lokal seperti Radar Banyumas menyebut Telaga Kumpe sebagai “tempat sejuk nan alami untuk melepas penat” yang menawarkan perpaduan alam dan budaya. Pernyataan semacam ini menguatkan bahwa objek alam ini tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata, tetapi juga menjadi bagian dari identitas Banyumas. Meskipun belum ditemukan laporan khusus yang menyebut resik telaga sebagai kegiatan rutin dalam setiap artikel wisata, tesis Bening Sasaningtawang yang berjudul “Komunikasi Pemasaran Pariwisata Hutan Pinus Limpakuwus melalui Media Sosial” (2021) menunjukkan adanya keselarasan: laporan pengelolaan dan literasi digital untuk lokasi ini memberi isyarat bahwa keberlanjutan budaya gotong royong dapat dijembatani dengan literasi modern.

Dari Telaga Kumpe, kita belajar bahwa hubungan manusia dengan alam bukan sekadar teori ekologi, melainkan praktik budaya yang diwariskan dan terus diterjemahkan dalam konteks zaman. Air telaga yang jernih menjadi cermin kebersihan lingkungan dan hati manusia yang peduli. Gotong royong yang tulus menunjukkan bahwa literasi sejati sering lahir bukan dari buku, tetapi dari nglakoni—menjalani nilai dalam kehidupan sehari-hari. Bantulah menjaga Telaga Kumpe bukan hanya sebagai tempat wisata, tetapi sebagai ruang literasi ekologis yang hidup.

Saat dunia semakin sibuk dengan jargon “go green”, kita dapat menoleh ke Banyumas—ke Telaga Kumpe—untuk mengingat kembali bahwa menjaga alam bukan hanya soal teknologi atau kampanye besar, tetapi soal kebersamaan, tradisi sederhana, dan kesadaran yang lahir dari budaya. Resik telaga bukan sekadar bersih-bersih air, tetapi simbol bahwa manusia dan bumi adalah satu rumah, dan rumah ini hanya bisa lestari jika dirawat bersama.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top