Hari ini Aku Duduk Lagi. Seperti Kemarin dan Kemarin Lagi

Danu Si Penunggu lorong, begitu katanya. Danu adalah mahasiswa akhir yang saat ini sedang dalam proses mengerjakan skripsi. Bisa dibilang dia sangat dikenal oleh banyak dosen, bukan karena prestasi, tapi karena tiap hari nongkrong di depan ruang dosen sembari menunggu dosen pembimbing yang tak kunjung datang. 

Hampir lima bulan menjadikan ruang dosen program studi sebagai “kantor tetapnya”. Danu selalu datang nyaris sebagai pegawai PNS yang tepat waktu pagi datang, sore baru pulang namun bedanya dia tidak ada gaji. 

Kali ini Danu datang  mengenakan baju dengan gaya khasnya: kaos dengan tulisan “Revisi Lagi Gapapa, Asal Lulus”,  tas selempang dan membawa map merah berisi print kertas putih yang katanya kalau disebut saja sudah tidak mau, itu adalah skripsi yang selalu digenggamnya. Catatan skripsi penuh coretan merah, flashdisk yang isinya hanya satu file bernama “revisi_final_beneran_bismillah acc.docx”, dan sebotol air putih air doa ibu yang katanya manjur. Ia bukan tipe mahasiswa yang mudah menyerah. Banyak tahap yang sudah dia lewati, tapi kali ini dia sudah berada di fase “yaudah namanya juga hidup”. Seperti pasrah namun tidak untuk Danu. Ia akan terus mencari dan menunggu. 

Danu duduk di kursi panjang dekat jendela. Sinar matahari pagi menembus kaca, menyorot naskah skripsinya yang sudah lusuh. 

“Hai Danu, belum sidang juga?’ tanya Nisa.

“Belum. Masih tahap menikmati ‘menunggu’” jawab danu datar tanpa ekspresi.

Nisa tertawa. “Sabar, Dosen kamu itu sibuk sekali soalnya.”

“Ah, iya. Sibuk… entah sibuk bimbingan mahasiswa atau sibuk menunda nasib mahasiswa” gumam Danu. 

Nisa menepuk pundaknya. Pertanda Danu untuk tetap semangat dan sabar. Nasib dia lebih baik dari Danu. Dia sudah lulus dan diwisuda di bulan lalu. Dia datang hanya untuk mengambil ijazah sarjananya. “Scroll tiktok kali ya” ucapnya. Ternyata fyp tiktoknya berisi kalimat-kalimat motivasi yang akhirnya dia menemukan konten berisi “Tepuk Skripsi”. Seperti ini liriknya:

Dikerjakan, dikerjakan, dikerjakan
Janji lulus janji lulus diwisuda
Direvisi tulis lagi direvisi tulis lagi
Selesaikan
Skripsimu

Duduk di kursi yang katanya penuh dengan doa dan harapan. Setiap kali ada dosen lewat, Danu selalu mengira kalau itu adalah suara langkah dosen pembimbingnya. Ia sudah hafal tiap detail di lorong itu, suara pintu ruang dosen yang berdecit, jam dinding yang bunyinya kadang lebih nyaring dari harapannya. Namun, ia seorang yang realistis. Kalau dosen tidak datang, dia tidak akan marah tapi selalu membuat quotes-nya sendiri:

“Jangan berharap yang tidak pasti, apalagi berharap sama dia” begitu katanya. Danu memang selalu gagal dalam sebuah arti berharap. Mempunyai cerita cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan. Kalimat itu ia ucapkannya setiap kali dosennya tak kunjung datang, atau saat pesan bimbingannya hanya dibaca tanpa balasan. 

Sudah entah keberapa kalinya Danu menatap jam dinding yang terus berputar. Lalu ia mengetik pesan di WhatsApp.

Selamat siang, Pak. Mohon maaf mengganggu waktunya, apakah hari ini bisa bimbingan?”

Tapi baru dibaca ulang, ia langsung menghapusnya . Terlalu formal, pikirnya. 

“Pak, saya di lorong, nunggu bimbingan. Hehe”

Ia hapus lagi, Terlalu pasrah. 

Kemudian ia coba lagi.

“Pak, saya udah nunggu dari tadi.”

“Kok malah jadi kaya protes bukan minta bimbingan” begitu katanya. 

Danu menutup ponselnya kembali. Ia mulai melakukan hal-hal yang sangat absrud. Ia menghitung jumlah lampu di langit-langit, tapi ada satu lampu yang redup itu sama seperti nasibnya saat ini. Lampu yang redup itu terus berusaha menerangi walaupun di sekelilingnya banyak sekali lampu yang terang benderang tapi lampu itu tetap berusaha meneranginya. 

Di tengah kebosanan itu, muncul seekor kucing orange. Jalannya santai, seolah ia juga punya urusan penting di fakultas. Kucing itu berhenti tepat di depan Danu, menatapnya tajam, lalu melompat ke kursi sebelahnya dan duduk manis. Kucing itu jantan. Gagah seperti dirinya. 

Danu menatapnya dan tersenyum.

“Kamu juga menunggu gilirian untuk bimbingan, ya?” ucapnya seakan-akan kucing itu paham bahasa manusia. 

Kucing itu hanya menjilat kaki depannya. 

“Aku sudah dari pagi di sini. Kita sama tapi bedanya kamu tidak pernah revisi.”

Kucing itu mengeong seakan mengiyakan. Danu tertawa kecil. “Enak ya, jadi kamu.”

Waktu terus berjalan. Jarum jam menunjukan pukul 14.00 dan sore mulai menyapa. Dosen yang ia harapkan tak kunjung datang. Ia hanya menghela napas panjang, lalu membuka bekalnya yang berisi sepotong roti dan susu rasa strawberry kesukaannya. Ia menatap kucing orange di sebelahnya yang masih setia duduk, lalu tersenyum kecil. 

“Kamu mau?” Danu memotong sedikit potongan roti kecil lalu meletakannya tepat di depannya. Kucing itu makan dengan lahap. Entah mengapa. Melihatnya begitu tenang membuat hati Danu sedikit hangat. Makhluk kecil itu hadir tanpa diminta, seakan tau tidak ada yang menemaninya. Tidak banyak bicara, entah bagaimana, terasa begitu hangat dan menyenangkan. 

Tak lama kemudian, petugas kebersihan kampus lewat dan menegur dengan nada bercanda. 

“Masih menunggu, Nu? Itu kucingnya tiap hari nongkrong di situ lho. Mungkin sudah mendapatkan gelar sarjana terlebih dahulu”

Danu tertawa. “Iya, Pak. Saya kalah cepat dengan dia. Mungkin dia sudah wisuda tiga kali” tertawa kecil

Harapan tak kunjung datang. Danu kali ini memutuskan untuk pulang. Ia menutup laptop, merapikan map dan berdiri. “Yah, mungkin besok” katanya pada dirinya sendiri.

 Ia berdiri lalu menatap kucingnya kembali. Kucing itu yang kini tengah menjilati bulunya. Saat Danu hendak melangkah pergi, kucing itu justru mengeong pelan, seperti mengucpkan selamat tinggal. 

“Oke, sepertinya aku mau mengucapkan terima kasih kepada kamu kucing sudah menemani aku, sekarang aku mau pulang dulu”

Kucing itu mengeong kembali, seoalah berkata, “Sampai jumpa besok.”

Danu tersenyum melambaikan tangannya.

Danu melangkah pergi perlahan meninggalkan kucing itu. Ia berjalan pelan meninggalkan lorong. Satu-satunya makhluk yang menemaninya dalam perjuangan skripsi bukan manusia, tapi seekor kucing orange yang bahkan tidak tahu apa itu bimbingan. 

Menunggu terkadang bukan soal siapa yang datang, tapi soal siapa yang tetap bertahan. 

Kucing itu mengeong lagi. Lalu berjalan pelan ke arah yang sama ditinggalkan Danu. 

Lorong kembali sunyi. Jam berdetak. Lampu redup di pojok masih berusaha menyala. Pelan-pelan menjadi sore, seakan terdengar suara lembut yang hanya bisa dirasakan, bukan di dengar. 

“Besok aku duduk lagi. Seperti kemarin. Dan kemarin lagi”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top