Mengobrol dengan Mantan Narapidana: Menemukan Lagu “Membasuh” dalam Wujud Manusia

Waktu agenda human library baru menjadi wacana, aku sadar persentase antusiasku hampir seratus persen, di kepalaku mulai dipenuhi berbagai pikiran dan rasa penasaran. Human library yang belum aku temui di Banyumas ini akan menjadi pengalaman pertamaku juga. 

Ditambah buku kehidupan yang akan aku pinjam di human library pertamaku ini adalah milik mantan narapidana. Apa jadinya isi obrolanku dengan mantan narapidana?

Istilah Narapidana di Sependek Pemahamanku 

Pertama kali istilah narapidana aku ketahui tepat sewaktu statusku sebagai murid TK. Dulu sepulang sekolah, aku sering duduk bersama Eyang Kakung menonton program berita kriminal di salah satu stasiun televisi swasta sebelum tidur siang, yaitu “Sergap” di RCTI. Di akhir tayangan program tersebut, mereka menampilkan suatu sesi berlatar jeruji penjara dengan seorang lelaki bertopeng di baliknya, lelaki tersebut menyampaikan pesan-pesan yang dulu belum aku pahami dan selalu diawali atau diakhiri dengan mengatakan, “waspadalah, waspadalah!” 

Lelaki yang menjadi ikon program tersebut biasa disebut ‘Bang Napi’. Aku yang belum tahu istilah tersebut lalu menanyakan ke Eyang Kakung, Eyang Uti, atau orang dewasa di sekitarku, “Bang Napi, itu apa?”

Dari pertanyaan bocah TK yang banyak tanya itu, akhirnya aku mendapat sedikit pengetahuan pertamaku tentang narapidana, sejak itu aku hampir selalu menunggu sesi Bang Napi saat menonton “Sergap” bersama Eyang Kakung. Aku diberikan pemahaman bahwa narapidana adalah sosok yang pernah melakukan kesalahan tertentu sehingga perlu menjalani hukuman, dan seingatku tidak ada penjelasan kepadaku untuk memusuhi atau menyudutkan mereka, maka aku di usia TK sempat membayangkan bagaimana Bang Napi di kehidupan nyata.

Bagaimana penjara itu? Bagaimana narapidana di dalam penjara? Apa mereka tidak tahu kalau kita diajarkan untuk selalu berbuat baik? Kata Bu Guru kita harus saling menyayangi. Isi kepalaku sebagai bocah TK yang masih naif itu mempertemukanku dengan berbagai pertanyaan lainnya. Pertanyaan itu mendiami salah satu ruang memori dalam diriku, tidak hilang seiring bertumbuhnya aku.

Mengobrol dengan AT : Bertemu dengan ‘Bang Napi’

Jika dilihat dari dalamnya rasa penasaranku akan sosok Bang Napi dan memori masa kecilku menonton “Sergap” bersama Eyang Kakung dulu, rasanya aku perlu banyak bersyukur dan berterimakasih kepada pihak Bapas Kelas II Purwokerto yang menjadi perantara terjawabnya berbagai pertanyaanku, karena aku tidak pernah tahu bagaimana caranya supaya punya kesempatan mengobrol bersama mantan narapidana (atau seandainya dengan narapidana sekalipun). Apalagi akhirnya aku berkesempatan mengobrol dengan AT, mantan narapidana yang berdasarkan informasi dari pihak Bapas adalah salah satu yang paling positive vibes.

Ruang dialog human library-ku kemarin berlangsung di ruang tamu Griya Abhipraya Kota Lama Banyumas. Aku duduk berhadapan dengan AT setelah berkenalan dengannya. Bersama dua orang lainnya, kami mengobrol banyak dengan AT, mantan narapidana yang disebutkan sukses lepas dari penjara.

AT memang tidak bertopeng seperti Bang Napi yang sering aku tonton sewaktu TK dulu. Namun AT dengan segala ke-supel-annya berhasil memenuhi berbagai pertanyaan masa kecilku tentang Bang Napi. Dibantu dengan sepuluh clue kata yang menjadi topik pemantik obrolan, satu jam mendengarkan cerita AT tidak terasa membosankan. Kata-kata tersebut tertera di sepuluh potongan kertas kecil yang dipilih AT secara acak untuk selanjutnya dijadikan bahan obrolan. Sepuluh clue kata tersebut adalah: rumah, teman, cinta, takut, kesempatan, uang, jalan, penyesalan, harapan, dan bebas.

Tentang Rumah

Sewaktu kata ini dipilih, aku menaruh harapan jawaban AT akan bermakna bagi kami pendengarnya, meskipun tidak terlalu berharap adanya jawaban yang filosofis. AT memulai jawabannya dengan menyebutkan bahwa rumah baginya adalah tempat melepas penat dan bertemu keluarga. Obrolan kami mengalir sampai ke pandangan AT terhadap keluarganya. Katanya, ia tidak mau muluk-muluk soal keluarga, perasaan itu timbul karena rasa bersalahnya kepada keluarga yang ikut menanggung malu akibat kesalahan yang dibuatnya enam tahun lalu.

AT tidak keberatan menceritakan sedikit tentang latar belakang keluarganya. Dari ceritanya itu aku mengetahui asalnya dari Jakarta sebelum akhirnya pindah ke Kalibagor, Banyumas bersama ibunya. AT juga menceritakan masa kecilnya yang biasa diberikan kebebasan oleh orang tuanya, ia mengaku tidak terlalu suka diatur, sehingga ketika privilege yang diberikan orang tuanya itu justru dibalasnya dengan perbuatan yang membuat keluarganya malu menjadikannya hidup dengan penyesalan sampai hari ini. Penyesalan itu juga yang mendorongnya untuk berusaha hidup lebih baik.

“Diri sendiri adalah teman terdekat.” – AT

Tentang Teman 

Sejak kesalahan yang membawanya masuk ke dalam penjara, AT memiliki pandangan bahwa saat ini tidak ada teman terdekat, hal itu tidak bisa dipisahkan dari fakta bahwa ia kehilangan banyak teman sejak menjadi narapidana. Bab soal pertemanan memang menyisakan trauma baginya, namun perenungannya tentang teman menjadikannya memiliki pemikiran yang bijak, katanya: diri sendiri adalah teman terdekat.

Ditinggalkan banyak teman membuatnya lebih bijaksana memilih lingkungan pertemanan. Bahkan di dalam penjara pun AT mengaku sangat selektif memilih teman. “Aku nggak punya geng, aku gabung sama siapapun.” AT menjelaskan bahwa tidak jarang ada narapidana yang ketika bebas justru menjadi narapidana kembali, salah satu pengaruh terbesarnya adalah kesalahan memilih teman, sehingga AT memilih untuk tidak terlalu dekat dengan teman yang dirasa tidak begitu besar keinginannya untuk menjadi lebih baik. 

Tentang Cinta 

Obrolan tentang cinta adalah salah satu yang paling seru. Seolah kami adalah teman satu tongkrongan, AT tidak sungkan menceritakan perjalanan asmaranya yang juga pernah beberapa kali pacaran. AT juga bercerita pengalaman pahitnya beberapa tahun lalu pernah hampir sampai pada tahap tunangan, namun sayangnya perempuannya meninggal karena sakit, sejak itu AT merasa biasa saja soal cinta.

“Tidak ada cinta abadi di dunia ini.” Begitu katanya. Walaupun AT tidak menampik bahwa ini adalah subjektivitasnya karena saat ini sedang tidak dengan siapapun, sehingga cenderung tidak tahu definisi tentang cinta.

Tentang Takut

Bisa dikatakan pembahasan tentang takut adalah yang paling berarti bagiku. AT menjawab perlahan namun pasti kalau ketakutannya saat ini adalah seandainya ia mengulangi kesalahannya lagi. AT takut menjadi orang yang buruk lagi.

AT tidak takut dengan stigma dan pandangan orang lain ke padanya yang dianggap sebagai pendosa. Ia lebih memilih mengakui kesalahannya, introspeksi diri, dan berusaha tidak mengulangi. “Aku lebih takut ditanya kapan nikah, kapan mbojo?”. Pernyataannya sontak mengundang tawa kami semua.

Aku bisa memahami ketakutannya. Walaupun bukan pakar ekspresi, namun menurutku AT betul-betul memiliki ketakutan itu, ia menceritakan ketakutan itu dengan senyum yang agak masam. Bisa dikatakan alasannya lebih selektif memilih teman karena ketakutannya melakukan kesalahan yang akan menambah beban penyesalannya. Selebihnya dia cenderung tidak takut akan apa pun mengingat sudah cukup banyak perjalanan hidup yang dilaluinya termasuk titik terendah dalam hidupnya saat menjadi narapidana.

Tentang Kesempatan 

Bagi AT, saat ini ia sedang hidup di kesempatan kedua, setidaknya demikian jika penjara dihitung sebagai lubang besar tempatnya jatuh. Singkat saja jawabannya saat ditanya arti kesempatan baginya. “Nggak menyia-nyiakan waktu yang ada.”

Motivasinya untuk tidak mengulangi kesalahan besar dalam hidup membuatnya menerima kesempatan menjadi pengelola sekaligus pedagang angkringan milik Bapas. Kesibukannya berjualan di angkringan yang letaknya di depan Lapas menjadi titik balik hidupnya. Aku menikmati ceritanya yang saat ini sibuk berjualan di angkringan yang dikenal dengan sebutan Angkringan Sahara (Sahabat Rakyat). Angkringan yang sebetulnya beroperasi di jam 07.00 hingga 16.00 ini laris manis sehingga biasanya di jam 11.00 saja AT sudah bisa menutup lapaknya. “Sebenarnya Bapas itu punya banyak program (yang memberi kesempatan kehidupan baru yang lebih baik bagi mantan narapidananya), tapi kliennya yang susah (tidak mengambil kesempatan itu).” Lalu AT menceritakan berbagai kegiatan binaan yang diberikan semasa menjadi narapidana sampai cerita bahwa salah satu pemasok menu angkringannya adalah mantan narapidana juga.

Tentang Uang

Pembahasan tentang uang masih berkaitan dengan kesibukan AT saat ini di Angkringan Sahara. Satu dua kali ada candaan di antara kami tentang “sama-sama takut nggak punya uang”. Uang bagi AT saat ini seperti kebanyakan orang, dianggap sebagai kebutuhan atau tujuan, namun dengan rekam jejaknya sebagai narapidana tentu definisi uang menjadi lebih bermakna.

AT menceritakan pengalamannya di September 2022 lalu ketika dirinya dinyatakan bebas bersyarat setelah mendekam di dalam penjara selama tiga tahun. Saat itu AT kesulitan mencari pekerjaan karena adanya riwayat kriminal di SKCK-nya, lalu datang tawaran mengelola angkringan milik Bapas yang saat itu ada tahap seleksi (ada empat orang kandidat lainnya), hingga akhirnya empat kandidat lainnya mengundurkan diri yang menjadikannya kandidat terpilih secara tidak langsung. AT memulai kesibukannya mengelola angkringan pada Februari 2023, bersamaan dengan prosesnya menyelesaikan masa tahanan dengan status sebagai narapidana bebas bersyarat. Tepat Juli 2025 lalu masa hukumannya sudah selesai, kebebasannya yang baru dua bulan ini aku tanggapi dengan candaan ucapan selamat, “happy graduation, yeayyyy!”

Tentang Jalan

Jawaban pertama AT di sesi ini di luar prediksiku. Jawabannya cukup filosofis. Mantan narapidana yang baru lulus dari universitas kehidupan ini mengajarkan salah satu filosofi hidup kepada tiga orang lulusan universitas yang sedang mengobrol dengannya. “Kalau dengar kata ‘jalan’, yang teringat adalah ‘tujuan’, kita jalan tanpa tujuan buat apa?”

Rupanya AT sering merenung tentang ini sambil mengendarai motor berkeliling Banyumas hingga Baturraden. Topik ini menjadi dialognya dengan diri sendiri. Tanpa keberatan AT menceritakan proses penangkapannya sampai perjalanannya masuk ke dalam sel penjara pertama kali. Katanya rasa takutnya sirna saat baru masuk penjara sewaktu diajak berkenalan dan berbincang dengan narapidana lainnya, padahal sebelumnya sempat terlintas pikiran untuk bunuh diri.

Rasa takut dan putus asanya hilang saat merasa narapidana lain yang menyambutnya menunjukkan kepedulian sebagai teman senasib. “Udah, yang penting gimana caranya kita seneng di sini.” Motivasi dari teman-teman narapidana tersebut seolah jalan, baginya keluar dari keterpurukan.

Sejak saat itu, AT selalu berusaha mencari jalan hidupnya, karena baginya itu sama dengan mencari tujuan hidup. Di dalam penjara dia berusaha menerapkan mindset bahwa dirinya sedang ada di dalam pesantren, sehingga ia berupaya selayaknya menjadi santri yang menjalani pendidikan kehidupan untuk menjadi manusia yang lebih baik. AT bercerita kehidupannya di dalam kurungan penjara, ia memilih bekerja sebagai tukang cuci pakaian milik narapidana lain, “ya, jadi pembantu lah, daripada gabut.”

Sampai akhirnya tujuan hidupnya saat ini adalah memaksimalkan kesempatan untuk hidup lebih baik. 

Tentang Penyesalan

AT berkali-kali menyebutkan penyesalannya adalah melakukan kesalahan yang membuatnya dijebloskan ke dalam penjara. “Penyesalan terberat dalam hidup adalah kasus ini (kesalahan atau kejahatan yang dilakukannya enam tahun lalu).” Berkali-kali juga AT menyebutkan triggernya adalah rasa malu dan kekecewaan orang tuanya akibat kesalahannya. “Memang dari kecil (aku) bandel, tapi nggak pernah (sampai) bikin malu dan kecewa orang tua (sampai semalu dan sekecewa ini).”

AT tidak menyesali kehidupannya yang sempat berlangsung di dalam penjara sebab ia tidak menolak kenyataan bahwa dirinya ditempat menjadi versi yang lebih baik di sana. Bahkan aku justru melihat AT yang tidak keberatan menceritakan apa pun (yang bagiku adalah aib) karena keinginannya agar tidak ada lagi orang yang mengalami kehidupan sepertinya.

Tentang Harapan

Di tengah banyaknya aku mendengar atau membaca curhatan teman-temanku yang sedang mengalami quarter life crisis yang tidak jarang membuat mereka takut memiliki harapan, atau banyaknya cuitan di media sosial yang menampilkan beragamnya atau besarnya harapan seseorang atas kehidupan, aku justru mendengar keberanian dan sederhananya harapan yang dimiliki AT. Katanya, harapannya saat ini adalah tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan bagaimana caranya bisa lebih baik dibanding hidup yang sebelumnya. AT selalu berusaha ketika bangun tidur dan memulai hari baru berarti harapannya menjadi manusia baru sudah dimulai.

AT tidak menyebutkan banyak harapan. Ia mengulangi pengakuannya ingin hidup menjadi manusia yang lebih baik, itu saja, berkali-kali. 

Tentang Bebas

Kata AT, ada dua pilihan setelah keluar dari lapas. Pertama, mengulangi kesalahan lagi, rusak lagi. Kedua, hidup lebih baik. Artinya, bebas adalah pilihan.

AT mengajak dirinya untuk lebih percaya pada dirinya sendiri dan tidak terlalu banyak menaruh harapan ke orang lain. AT menyadari statusnya sebagai mantan narapidana menjadikannya perlu memaknai sebaik-baiknya kebebasannya. “Yang penting tidak merugikan orang lain lagi, jalani hidup aja.”

Representasi Lagu “Membasuh”

Kesempatan mengobrol dengan AT membawaku menemukan salah satu representasi lagu dengan judul “Membasuh”. Lagu yang dipopulerkan oleh Hindia dan Rara Sekar ini menggambarkan AT yang membagikan kisahnya secara tulus untuk pendengarnya (setidaknya, minimal aku) agar lebih bijaksana melihat kehidupan. AT tidak menampik bahwa dirinya pendosa, tapi keikhlasannya meminjamkan buku kehidupannya menunjukkan pendosa yang tak suci sekalipun ingin memberi kebaikan untuk manusia lainnya, yaitu pendengarnya yang sebetulnya juga banyak dosa.

AT tidak berteori bahkan tidak menggurui apa pun, bahkan pesan atau nasihat tidak dia sampaikan kepada kami, tapi AT berhasil mengingatkan bahwa guru terbaik adalah pengalaman. Aku tidak harus melakukan atau mengalami yang AT lalui, namun aku ditampar telak dengan adanya orang yang sering ‘dianggap pendosa’ yang mengajarkan banyak pelajaran kehidupan. 

Sesi obrolan kami berakhir dengan rasa terima kasih kepada AT beserta harapan kami untuknya. Aku harap lewat tulisan ini, siapapun bisa mendoakannya pula, tolong doakan lelaki 35 tahun tersebut untuk menemukan lebih banyak kebaikan dan kebahagiaan di hidupnya. Anggap saja doa tersebut adalah ucapan terima kasih atas kesediaannya yang sudah berbaik hati meminjamkan buku kehidupannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top