Kalimat

Firdaus, tokoh perempuan dalam novel yang pernah kamu baca mengaku bahwa di hidupnya, dia tidak bisa menyimpulkan mana nikmat dan mana nyeri. Keduanya hampir. “Mula-mula dia rasa nikmat, rasa nikmat yang serupa dengan rasa nyeri. Berakhir dengan rasa nyeri, rasa nyeri yang dirasakan seperti rasa nikmat.” Begitulah menurut Firdaus. Kamu rasa, pernyataan itu tidak ada kelirunya—meski sewaktu membaca kamu hanya bengong mengira-ngira sebetulnya Firdaus itu punya hak bahagia atau tidak, seharusnya setiap manusia, kan diberi hak bahagia oleh Pencipta—Sebab sekarang pun, kamu juga bingung mana nikmatnya atau mana nyerinya. Hidupmu akhir-akhir ini janggal, complang, ah menyebutkan bagaimananya saja kamu tidak pas.

“Kita tidak bisa sama-sama.”

Kalimat itu berjalan, berlari kecil, bahkan melompat-lompat di pikiranmu. Lagi-lagi kamu menyalahkan dirimu sendiri mengapa tidak bertanya sama-sama dalam hal apa kepadanya, padahal kalau saja kamu bertanya mungkin kamu sudah mendengar jawabannya. Tidak menebak-nebak angka dalam lotre.

Kamu percaya waktu pasti menjawab, tapi kamu lupa kamu orang yang tidak sabaran. Itu menyebabkan kamu sering bertengkar malam-malam dengan pikiranmu yang merasa bisa menemukan solusi ketika memetakan pelbagai masalah. Nyatanya yang ini tak kunjung bisa kamu selesaikan meski sudah rapi pemetaan bagan-bagan masalahmu. Sebentar-sebentar kamu juga menyalahkan dia yang seperti sambungan telepon di daerah tanpa sinyal, putus-putus. Andaikan dia mau memperjelas kata yang terlewat, kamu pasti tidak kebingungan menyusun puzzle masalahmu ini.

Namun, di lain sisi kamu sadar. Tidak ada satu orang pun yang dapat mengendalikan orang lain meski kalian menjadi sepasang kekasih pun. Dia tetap dia dan kamu tetap kamu. Hati kalian saja yang saling mencintai, bukan berarti cara kalian hidup bisa saling memahami. Barangkali banyak pasangan yang seperti itu, tetapi sepertinya bukan kalian. Bilapun kalian menjadi pasangan.

“Kita tidak bisa sama-sama.”

Kamu pikir di situlah letak ketidakkeliruan perkataan Firdaus, sang tokoh perempuan dalam novel yang pernah kamu baca itu. Mula-mula kamu rasa nikmat, rasa nikmat yang serupa dengan nyeri. Berakhir dengan nyeri, rasa nyeri yang dirasakan sama seperti rasa nikmat. Meski sewaktu membaca, kamu bengong sebetulnya Firdaus itu punya hak bahagia atau tidak, seharusnya setiap manusia, kan diberi hak bahagia oleh Pencipta.

“Kita, tidak bisa, sama-sama.”

“Tidak bisa kita sama-sama.”

“Tidak, kita bisa sama-sama.”

“Bisa tidak kita sama-sama.”

Kamu seorang mahasiswi bahasa Indonesia, tepatnya bahasa dan sastra Indonesia yang lebih tepatnya mahasiswi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, tetapi kamu kualahan memahami maksud kalimat itu, dan kamu berpikir kamu sangat bodoh.

Kamu lantas pergi ke mesin pencari di ponselmu untuk mencabut akar masalahmu ini dengan mencari tahu apa penyebabmu bodoh. Ponsel pintarmu pun menjawab. Penyebab seseorang menjadi bodoh antara lain:

1. Tidak mau belajar

2. Tidak mampu berpikir kritis

3. Tidak mampu beradaptasi

4. Kebiasaan buruk

5. Kurangnya interaksi sosial

6. Melakukan kesalahan yang sama berulang kali

Kamu langsung merasa tertohok oleh pernyataan lima dan enam. Selama ini kamu memang tidak berinteraksi kecuali dengan dia. Lalu, melakukan kesalahan yang sama berulang kali, seperti halnya membiarkan dia mendekatimu tanpa kepastian berkali-kali. Memaklumi apa saja yang dia lakukan padahal kamu tidak menyukainya bahkan tidak bisa menerimanya. Berulang kali. Kamu paham itu kesalahan, tapi menampiknya berkali-kali, karena kamu pikir dengan memaklumi dia bisa menyadari. Menyadari tentang kamu. Menyadari tentang sesuatu yang hendak dia lakukan sebelum mengambil keputusan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top