Dialog Burung; Pada Rimba yang Nyaris Mati

Kering dan gersang. Sayu nan kerontang. Hutan ini bak kehilangan nyawa seiring hijaunya lenyap dicuri masa. Tiada lagi cuitan burung pipit saat senja merangkul semesta. Di ujung, asap mengepul, membumbung tinggi membawa berita kematian ke penjuru angkasa, melahap habis satu persatu nyawa yang tersisa.

“Terbanglah, Nak,” pesan burung tua—di sisi batang pohon yang mati dibunuh manusia, “terbanglah dengan sayapmu yang telah lusuh dan robek itu, sebelum mereka memotong habis bulu indahmu dan menjadikannya hiasan dalam kemegahan istana mereka. Terbanglah dengan sisa-sisa tenagamu yang telah lemah itu menuju negeri tempatmu menaruh harapan-harapan baru. Terbanglah dan menjauh, tetapi tetaplah kenang hutan ini dengan segala syahdu dan indah yang pernah membalut. Tetapi, tetap taruh hutan ini di persemayaman cinta yang paling dalam di seluruh penjuru sanubarimu.”

Burung muda membatu dan meragu. Ngilu hatinya menyaksikan sayap-sayap tak berbulu itu. “Lalu bagaimana dengan kau?” tanyanya. “Akankah kau hanya berdiam sendiri di sini sementara saya mengembara, mengepakkan sayap-sayap saya dengan leluasa, dan membiarkan kau dalam kubangan nasib yang entah?”

Kekhawatiran burung muda dibalas senyum kecil; getir. “Karena saya mencintai hutan ini, Nak. Saya mencintai subur dan tandusnya, tumbuh dan gugurnya, riuh dan bisunya. Saya mencintai hutan ini meski harus sekarat dan mati karenanya. Namun, saya harap kau tak begitu, Nak. Bila udara ini tak lagi ramah untuk paru-parumu dan dedaunan di sini tak lagi meneduhkanmu, kau boleh pergi mengembara menuju tempat baru—tempat yang tiada seseorang mencederai bahagiamu.”

“Bagaimana bisa cinta berakhir sesengsara itu?” Burung muda berbisik dengan bisikan yang hanya bisa didengar angin dan hatinya sendiri. Di sorot mata burung tua yang mulai layu itu, ia menemukan makna cinta yang berbeda. Cinta yang tulus tapi tidak masuk di akalnya. Bagi burung tua, cintanya pada hutan ini tak akan lekang oleh segala meski harus tertatih menerjang nestapa. Didekapnya cinta itu di dada hingga habis napasnya.

Namun, burung muda ingin cinta yang lapang dan tidak menyakitkan. Cinta yang manis dan tidak banyak pengorbanan. Sudah cukup kesengsaraan menggerogoti sayap-sayapnya. Ia ingin berpulang pada tempat yang bahagia. Maka benarlah petuah si burung tua. Pada akhirnya, terbanglah burung muda dengan tenaganya yang masih tersisa, mencari tempat baru yang entah di mana, meninggalkan burung tua bersama penjarah rimba yang siap sedia membumihanguskan cintanya.

Banyumas, 22 Juli 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top