Keberuntungan Pemula

“Kalau buat sesuatu itu jangan pernah ragu. Jangan sampai otakmu kesulitan untuk berpikir karena keraguanmu kawan.” Ron meyakinkan Gian.

Ron merasa menjadi manusia paling beruntung hari itu, bagaimana tidak, kemenangannya berjudi membawanya jumawa. Ron merasa orang paling kaya.

“Hari ini aku JP tujuh juta.” Ron memamerkan lembaran kertas merah, setelah menariknya dari mesin ATM.

Gian tersenyum, walaupun sebenarnya sama sekali tidak menyiratkan isi hatinya. Ia cemburu akan keberuntungan tamannya itu.

“Orang bilang ketika berjudi ia akan mendapatkan beginner’s luck. Sementara saya! Sudah habis banyak.”

“Itulah dia. Tidak ada keyakinan di hatimu. Kamu masih ragu-ragu.” Ron menimpali ucapan Gian sembari membuka aplikasi pada ponselnya. Memulai kembali peruntungannya pada judi online.

Gian sebenarnya mengiyakan ucapan Ron dalam hatinya. Manusia akan gagal melangkah ketika ada keraguan.

“Mungkin perkataan Ron ada benarnya.” Gian membatin.

Gian percaya baik-buruk manusia ketika melakukan sesuatu. Selama ini ia meyakini bahwa jika mendapatkan sesuatu hasil dari rasa sakit orang lain, maka ia akan menjadi racun dalam tubuh manusia itu. Akan menggerogoti dari dalam tubuh hingga sesuatu yang bukan haknya meminta pertanggungjawaban kembali dengan perihal kesialan. Bisa berupa sakit, jatuh, kecelakaan, atau mempunyai anak yang durhaka.

Mendapat kemenangan dari berjudi, di sisi lain ada orang-orang menjadi korban, yaitu mereka yang kalah berjudi. Pastinya perbandingannya lebih banyak mereka yang kalah daripada pemenang. Artinya, lebih banyak penderitaan orang-orang.

Gian ragu akan hal itu, tetapi ia sudah habis jalan. Ketidakberuntungan mengarah juga pada perekonomiannya. Gaji sebesar UMR hanya numpang lewat di tabungan karena harus membayar banyak tagihan.

Belum istrinya yang selalu mengomel. Gian pun membuang jauh rasa gengsinya dengan menumpang hidup di rumah mertua walaupun dalam hati kecilnya, ia ingin sekali pergi dari rumah itu.

Modal seratus ribu dengan sengaja Gian korbankan untuk modal judi online. Ia sebenarnya sudah merelakan uang itu, bersiap akan kekalahannya tetapi perasaan ragunya beribu-ribu kali lipat jika mendapatkan kemenangan dari berjudi. Ron memikirkan petaka yang akan didapatnya nanti ketika mendapatkan uang dari hasil berjudi.

“Sudahlah Gian, hidupmu sudah cukup menderita. Apa salahnya jika memang kamu untung banyak dalam judi! Bukankah lebih sial jika kamu setiap hari mendapat omelan istrimu karena tidak kamu nafkahi? Bukankah lebih sial jika kamu dipandang remeh mertuamu!” Perkataan Ron seperti motivator yang sedang berorasi di panggung.

Berbeda dengan Gian, Ron adalah orang yang paling bebas. Ia tidak pernah memikirkan dampak akibat ketika melakukan sesuatu. Tidak memikirkan orang-orang menderita karena perbuatannya. Lihat hidupnya sekarang, karir pekerjaannya berjalan mulus, Ron baru diangkat menjadi supervisor di dealer mobil. Masalah percintaan? Ron tidak perlu bersusah payah mencari perempuan. Teman perempuannya banyak, hanya saat ini ia masih ingin melajang. Kesehatan? Tidak pernah sebutir pil/obat ditelannya. Sementara Gian selalu mengonsumsi vitamin untuk menjaga kesehatan tubuhnya.

Ada masalah pada kesehatannya hingga ia selalu mengonsumsi vitamin setiap hari. Jika tidak meminumnya, Gian sering merasakan sesak pada dadanya. Lehernya seperti tercekik. Nafas Gian berat, oksigen yang terbang bebas di udara pun seakan menolak mendekati Gian, takut terhirup.

Apakah memang manusia ada yang terlahir menderita selama hidupnya. Apakah menjadi manusia, hanya boleh menerima nasib saja. Begitulah keyakinan Gian hingga ia kemudian terpengaruh ajakan Ron. Selain, gaya persuasifnya Ron menarik, keputusasaan Gian pada hidupnya menjadi pendorong memulai peruntungannya di meja judi secara daring.

“Apa aku harus seperti Ron!” Batin Ron bergejolak. “Jangan pernah ragu-ragu. Jangan pernah memikirkan haram atau tidak haram. Tidak peduli dengan orang lain menderita. Buktinya mereka yang mencuri uang negara, hidupnya enak. Tidak pernah memikirkan token listrik habis, tidak memikirkan mau pilih beli makan atau beli bensin. Tidak usah memikirkan iuran kesehatan.”

“Jangan pernah ragu, ingat itu!” Ron menepuk pundak Gian, seolah sedang mentransfer energi keyakinan.

Gian hanya tersenyum sembari melihat temannya melangkah pergi dengan penuh kebahagiaan. Ketika kembali melihat layar ponselnya, Gian terkejut. Terlihat tampilan video kemenangan dengan suara meriah terdengar. Video koin-koin emas saling beterbangan pada layar ponselnya dengan bertuliskan ‘Kemenangan Besar’.

“Lima belas juta!” Seperti mimpi, antara senang dan tidak percaya Gian menang besar dari berjudi.

Rencana-rencana pun melintas di pikiran Gian. Mulai dari membayar tagihan bulanan, iuran kesehatan, membelikan hadiah untuk istrinya agar tidak mengomel, membeli bensin hingga penuh tangki sepeda motornya agar tidak susah-susah lagi mengantre panjang. Tidak perlu lagi bingung ketika ada uang, untuk isi perut motor atau isi perutnya. Hingga merencanakan mengontrak rumah kos agar tidak tinggal dengan mertua.

Gian tidak membelanjakan semua uang hasil judi itu. Semakin Gian memikirkan tagihan semakin sulit dia membaginya. Gian hanya menarik separuh dari kemenangannya, sisanya ia taruhkan lagi dengan nilai taruhan yang lebih besar. Gian pun sudah merelakan jika harus rungkad.

“Toh kalau pun sampai habis uang ini karena kalah. Aku sudah terbiasa dengan tidak memegang uang.” Rasa bebas itu yang kemudian membuat Gian tidak ragu untuk memulai kembali bermain judi.

Hingga dalam waktu singkat Gian mendapat kemenangan beruntun, bergulung seperti ombak tsunami, dari kemenangan-kemenangan kecil hingga membesar. Gian merasakan apa yang Ron rasakan, tiba-tiba menjadi orang kaya.

Gian bisa membeli apa pun. Ia lebih percaya diri. Gian merasa memiliki kendali atas segalanya. Tidak ada lagi omelan istri. Tidak lagi remehan mertua. Bahkan mertua Gian menyuruh untuk tetap tinggal ketika ia akan pindah rumah. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dimiliki, Gian masih merasakan sesak di dada, lehernya seperti tercekik. Gian merasakan sulit untuk bernapas. Segala pengobatan sudah dicobanya, mulai dari dokter spesialis hingga pada pengobatan alternatif hasilnya tetap nihil.

“Apakah ini adalah balasan dari keberuntunganku selama ini?”

Gian tidak pernah melupakan keyakinannya akan pembalasan jika mengambil kebahagiaan orang lain yang menderita. Memakan uang-uang haram, maka akan dibalas dengan penderitaan.

Setelah mendapatkan keuntungan banyak dari berjudi, Gian sangat lihai mengatur keuangan. Ia tidak habiskan dengan foya-foya atau menghamburkannya seperti Ron temannya. Gian percaya, keberuntungan tidak akan selalu ada, maka ia benar-benar mengatur uang tersebut. Setelah lumayan cukup mendapatkan hasil, diputarnya kembali uang itu pada investasi saham. Beruntungnya, saham yang dibeli Gian meroket. Gian memutar kembali pada investasi lain yaitu crypto, hasilnya pun sama. Koin yang dibelinya ‘to the moon’. Diputarnya hasil keuntungan investasi Gian pada bisnis properti, dia membangun rumah kos.

Gian selalu berhati-hati dalam melangkah, ia khawatir kesialan akan datang secara mendadak. Pembalasan atas perbuatannya memakan uang-uang dari penderitaan orang lain yang hancur karena judi. Ia menunggu takdir buruk itu. Tetapi sejauh ini semuanya berjalan lancar, perekonomian Gian selalu di atas, ia bukan lagi menjadi orang miskin maupun menengah. Hanya memang, penyakit sesak seperti tercekiknya tidak pernah sembuh.

Hingga pada suatu pagi, Gian tidak bisa bangun dari tidurnya, badan lemas, nafasnya berat, ia tidak bisa menggerakan badannya. Tidak ada istrinya hanya ada Ron, berusaha menyadarkan temannya. Gian masih merespon, dia mendengar Ron memanggil-manggil namanya tetapi tangannya tidak bisa digerakan. Lehernya terasa terbakar, nafasnya sesak, pandangannya kabur.

“Dd….dii….dimaaa….a..na isss…triikuuu?” Hampir tidak terdengar Gian berbicara tetapi Ron paham apa yang diucapkan temannya.

Gian memanggil-manggil nama istrinya. Ron merasa kasihan pada Gian. Menyesal mengenalkan judi pada temannya. Istri Gian menggugat cerai karena Gian sudah kecanduan berjudi. Bahkan diam-diam Gian telah menggadaikan rumah mertuanya. Ia terlilit hutang dari hutang bank hingga hutang pinjaman online.

Beruntung nyawa Gian terselamatkan walau sempat tidak sadarkan diri. Ron mendapati Gian tergeletak di lantai dengan tali nilon yang terikat di lehernya. Itu yang menyebabkan leher Gian seperti tercekik dan dadanya sesak. Di samping tubuh Gian tergeletak reruntuhan kayu plafon yang tidak kuat, keropos menahan berat tubuh Gian. Bayangkan jika kayu itu kuat, mungkin Gian sudah tidak bernyawa.

Tidak pernah ada kemenangan berjudi dalam hidup Gian. Gian mengalami koma, karena tidak ada suplai oksigen dalam otaknya. Kekayaan Gian hanya ada dalam mimpinya selama dia koma. Otaknya memvisualkan impian-impian yang diinginkan dalam hidupnya, dengan merasakan menjadi orang yang sangat kaya. Satu-satunya kemenangan dalam hidupnya adalah, dia bangkit dari kematian untuk memulai kembali perjuangannya bertahan dari ketidakmungkinannya untuk mengubah takdir.

2 komentar untuk “Keberuntungan Pemula”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top